Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan mukjizat Nabi ﷺ yang sangat agung: batang pohon kurma tempat beliau biasa berkhutbah menangis dan merintih karena rindu kepada beliau ﷺ. Ketika Nabi ﷺ memeluknya, batang itu pun tenang. Ini menunjukkan bahwa benda mati pun bisa merasakan dan bersaksi atas kenabian beliau, serta menjadi pelajaran bagi kita untuk mencintai Nabi ﷺ dan mengikuti sunnahnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1415), dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan juga dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, sehingga derajatnya shahih dan disepakati.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan mukjizat dan kekuasaan Allah atas segala sesuatu:
وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَل لِّلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا
QS. Ar-Ra'd [13]: 31
"Dan sekiranya ada suatu bacaan (Al-Qur'an) yang dengan itu gunung-gunung dapat digerakkan, atau bumi dapat terbelah, atau orang-orang yang telah mati dapat berbicara (tentulah Al-Qur'an itu). Tetapi segala urusan itu hanyalah milik Allah."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu tunduk kepada perintah Allah, dan jika Allah menghendaki, benda mati pun bisa berbicara atau bergerak. Ini menjadi dasar bahwa mukjizat seperti rintihan batang pohon adalah perkara yang mungkin terjadi dengan izin Allah.
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang nyata, dan para ulama sepakat menerimanya sebagai dalil bahwa benda mati bisa memiliki perasaan yang Allah ciptakan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan peristiwa yang terjadi di Masjid Nabawi. Sebelum dibuat mimbar, Nabi ﷺ berkhutbah dengan bersandar pada sebuah batang pohon kurma. Ketika beliau ﷺ mulai menggunakan mimbar (yang dibuat oleh seorang sahabat, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain), batang pohon itu mengeluarkan suara seperti rintihan anak kecil atau unta yang kehilangan induknya. Nabi ﷺ kemudian mendatanginya, memeluknya, dan batang itu pun tenang.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa ini adalah mukjizat yang jelas, dan beliau membantah orang-orang yang menakwilkan (menafsirkan secara metaforis) bahwa yang menangis sebenarnya adalah para sahabat, bukan batang pohon. Ibnu Hajar menegaskan bahwa hadits ini shahih dan tidak boleh ditakwilkan tanpa dalil, karena Nabi ﷺ sendiri bersabda: "Jika saya tidak memeluknya, ia akan terus merintih hingga Hari Kebangkitan." Ini menunjukkan bahwa batang pohon itu benar-benar merasakan dan bersuara.
Imam an-Nawawi rahimahullah menambahkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang kelembutan Nabi ﷺ terhadap makhluk, bahkan terhadap benda mati. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah bukti kenabian yang tidak bisa ditolak.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam syarahnya terhadap hadits-hadits shahih menjelaskan bahwa mukjizat ini terjadi dengan izin Allah, dan tidak ada yang mampu melakukannya kecuali para nabi. Beliau juga mengingatkan bahwa kita tidak boleh berlebihan dalam mengagumi benda-benda yang memiliki keistimewaan, karena keistimewaan itu hanya karena Allah dan untuk membuktikan kebenaran Nabi-Nya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam kitabnya Al-Qaul as-Sadid menyebutkan bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa seluruh alam ini tunduk kepada Allah, dan benda mati pun bisa menjadi saksi atas kebenaran risalah Nabi ﷺ.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar: sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menegaskan bahwa batang pohon itu benar-benar bersuara dan merasakan, sedangkan sebagian kecil ulama di luar daftar mencoba menakwilkan. Namun, pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama yang menetapkan bahwa ini adalah mukjizat yang nyata, sesuai zahir hadits.
Story Telling
Dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu hari Nabi ﷺ berkhutbah di atas mimbar baru. Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari arah batang pohon kurma yang selama ini menjadi tempat beliau bersandar. Suara itu seperti suara unta yang merindukan anaknya. Para sahabat yang hadir pun terkejut dan menangis mendengarnya. Nabi ﷺ kemudian turun dari mimbar, mendekati batang itu, dan memeluknya. Batang pohon itu pun berhenti menangis, seperti anak kecil yang ditenangkan oleh ibunya. Nabi ﷺ lalu bersabda: "Jika saya tidak memeluknya, ia akan terus merintih hingga Hari Kebangkitan."
Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan kisah ini dalam kitab shahih mereka. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi di hadapan banyak sahabat, sehingga tidak mungkin diragukan. Hikmahnya adalah agar kita semakin mencintai Nabi ﷺ, karena bahkan benda mati pun merindukan beliau.
Kesimpulan Praktis
- Mukjizat Nabi ﷺ adalah bukti kebenaran risalahnya. Kita wajib meyakininya tanpa ragu.
- Cinta kepada Nabi ﷺ harus melebihi cinta kepada segala sesuatu. Batang pohon saja merindukan beliau, bagaimana dengan kita?
- Mengikuti sunnah adalah bentuk cinta sejati kepada Nabi ﷺ, bukan sekadar mengagumi kisahnya.
- Tidak berlebihan (ghuluw) terhadap benda-benda yang memiliki keistimewaan, karena keistimewaan itu hanya dari Allah.
- Meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk menghidupkan benda mati untuk bersaksi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.