Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1400 tentang Kewajiban shalat lima waktu dari lima puluh

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa agung Isra' Mi'raj, di mana Allah ﷻ mewajibkan shalat lima puluh waktu kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian Nabi ﷺ terus-menerus kembali memohon keringanan kepada Allah ﷻ hingga akhirnya Allah ﷻ menetapkan kewajiban shalat menjadi lima waktu sehari semalam, namun dengan pahala yang tetap dicatat sebagai lima puluh shalat. Ini adalah bukti kasih sayang Allah ﷻ kepada umat Nabi Muhammad ﷺ dan keutamaan shalat lima waktu.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan peristiwa Isra' Mi'raj:

QS. Al-Isra' [17]: 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Hadits terkait dari riwayat lain yang lebih lengkap:

Hadits riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu tentang peristiwa Isra' Mi'raj, yang menyebutkan bahwa Allah ﷻ mewajibkan lima puluh shalat, kemudian Nabi ﷺ meminta keringanan kepada Allah ﷻ melalui Nabi Musa 'alaihis salam hingga menjadi lima shalat. Lalu diserukan: "Wahai Muhammad, sesungguhnya ketetapan-Ku tidak berubah, dan lima shalat ini (pahalanya) tetap lima puluh shalat."

Kaitan dengan ulama:

Peristiwa Isra' Mi'raj dan kewajiban shalat ini dijelaskan oleh banyak ulama dalam kitab-kitab mereka, di antaranya:

  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim saat menafsirkan QS. Al-Isra' [17]: 1.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim yang menjelaskan hikmah di balik peristiwa ini.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari saat mensyarah hadits-hadits tentang Isra' Mi'raj.

Penjelasan Rinci

Hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah ini merupakan ringkasan dari peristiwa besar yang diriwayatkan secara panjang dalam Shahih Muslim dan Shahih Bukhari. Peristiwa ini terjadi pada malam Isra' Mi'raj, ketika Nabi ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu dinaikkan ke langit hingga ke Sidratul Muntaha.

Di tempat yang mulia itu, Allah ﷻ mewajibkan shalat lima puluh waktu kepada Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ turun dan bertemu dengan Nabi Musa 'alaihis salam, beliau mendapat nasihat:

> "Aku telah mencoba manusia sebelummu dan aku telah menghadapi Bani Israil dengan ujian yang berat. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu."

Maka Nabi ﷺ pun kembali menghadap Allah ﷻ dan memohon keringanan. Allah ﷻ mengurangi sepuluh shalat, sehingga menjadi empat puluh. Nabi Musa kembali menyarankan untuk meminta keringanan lagi. Demikian seterusnya hingga Allah ﷻ menetapkan shalat menjadi lima waktu.

Ketika Nabi ﷺ kembali kepada Nabi Musa dan menyampaikan bahwa Allah telah menetapkan lima shalat, Nabi Musa tetap menyarankan untuk meminta keringanan lagi. Namun Nabi ﷺ menjawab:

> "Aku telah memohon kepada Rabb-ku hingga aku malu. Aku ridha dan aku pasrah."

Lalu muncullah seruan dari Allah ﷻ:

> "Aku telah menetapkan kewajiban-Ku dan telah meringankan beban hamba-hamba-Ku. Aku akan memberikan balasan kebaikan sepuluh kali lipat, maka lima shalat ini (pahalanya) tetap lima puluh shalat."

Hikmah dari peristiwa ini:

  1. Bukti kasih sayang Allah ﷻ kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah ﷻ tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan mereka, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

  1. Keutamaan shalat lima waktu — meskipun jumlahnya lima, pahalanya dicatat sebagai lima puluh. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan shalat dibandingkan amalan lainnya.
  2. Adab Nabi ﷺ dalam berdoa — beliau tidak berhenti memohon keringanan untuk umatnya, menunjukkan kecintaan beliau yang mendalam kepada umatnya.
  3. Pelajaran tentang pentingnya shalat — shalat adalah amalan pertama yang diwajibkan secara langsung oleh Allah ﷻ tanpa perantara malaikat, dan menjadi amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa shalat adalah tiang agama dan amalan yang paling dicintai Allah ﷻ. Karena itulah Allah ﷻ mewajibkannya secara langsung tanpa perantara, berbeda dengan kewajiban lainnya yang disampaikan melalui wahyu di bumi.

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda tentang peristiwa Isra' Mi'raj:

> "Maka Allah mewajibkan atas umatku lima puluh shalat. Aku pun kembali (turun) hingga aku melewati Nabi Musa 'alaihis salam, beliau bertanya: 'Apa yang Allah wajibkan atas umatmu?' Aku menjawab: 'Lima puluh shalat.' Nabi Musa berkata: 'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melaksanakan itu. Sungguh aku telah menguji Bani Israil dan mengetahui keadaan mereka.' Maka aku kembali kepada Rabb-ku dan berkata: 'Wahai Rabb-ku, ringankanlah untuk umatku.' Maka Allah mengurangi lima shalat. Aku pun kembali kepada Nabi Musa dan beliau berkata: 'Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu.' Aku terus kembali kepada Rabb-ku hingga Allah berfirman: 'Wahai Muhammad, sesungguhnya itu adalah lima shalat setiap hari dan malam, setiap satu shalat (pahalanya) sepuluh, maka itu adalah lima puluh shalat. Barangsiapa berkeinginan melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka dicatat baginya satu kebaikan. Jika mengerjakannya, dicatat sepuluh kebaikan.'" (HR. Muslim)

Hikmah dari kisah ini: Nabi Musa 'alaihis salam adalah sosok yang sangat peduli kepada umat Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau telah merasakan beratnya ujian dalam menegakkan agama Allah. Nasihat beliau menjadi sebab turunnya keringanan bagi umat ini. Ini mengajarkan kita untuk saling menasihati dalam kebaikan dan saling mendoakan kemudahan bagi sesama muslim.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat lima waktu — ini adalah kewajiban yang Allah ﷻ tetapkan langsung kepada Nabi ﷺ di langit, bukan sekadar perintah biasa. Menjaganya berarti menghidupkan sunnah Nabi ﷺ dan meneladani para sahabat.
  2. Yakinlah bahwa shalat itu ringan — Allah ﷻ telah meringankan dari lima puluh menjadi lima, dan pahalanya tetap dicatat lima puluh. Ini adalah kemudahan yang tidak boleh kita sia-siakan.
  3. Teladani Nabi ﷺ dalam memohon keringanan — ketika menghadapi kesulitan dalam ibadah, mintalah pertolongan dan kemudahan dari Allah ﷻ, bukan malah meninggalkannya.
  4. Jadikan shalat sebagai prioritas — karena shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalannya.
  5. Perbanyak doa — sebagaimana Nabi ﷺ tidak bosan memohon keringanan untuk umatnya, kita pun hendaknya tidak bosan berdoa memohon kemudahan dalam menjalankan ketaatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi