Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 136 tentang Keutamaan Abu Ubaidah sebagai orang terpercaya umat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pujian langsung dari Nabi ﷺ kepada sahabatnya, Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu, dengan menyebutnya sebagai "orang kepercayaan umat ini" (amīn hādzihil ummah). Ini merupakan keutamaan yang sangat besar dan menunjukkan tingginya kedudukan Abu Ubaidah di sisi Nabi ﷺ. Hadits ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya sifat amanah (dapat dipercaya) sebagai salah satu akhlak mulia yang harus dimiliki setiap muslim.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Muqaddimah (Pendahuluan), Bab Keutamaan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, no. 136. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari jalur lain, sehingga derajatnya shahih.

Berikut teks hadits beserta terjemahannya:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ـ ﷺ ـ قَالَ لأَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ " هَذَا أَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ "

Artinya: "Dari Abdullah (bin Mas'ud) radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah: 'Ini adalah orang yang terpercaya dari umat ini.'"

Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang sifat amanah:

QS. An-Nisa' [4]: 58

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

Artinya: "Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya."

Kaitan dengan ulama: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah dalam syarahnya terhadap kitab-kitab hadits sering menjelaskan bahwa pujian Nabi ﷺ terhadap seorang sahabat merupakan dalil keutamaan sahabat tersebut dan dorongan bagi umat untuk meneladani akhlaknya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Keutamaan Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Pujian Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa beliau memiliki sifat amanah yang sempurna. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa Abu Ubaidah termasuk sahabat yang paling utama setelah Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
  2. Makna "amīn" (orang kepercayaan). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "amīn hādzihil ummah" adalah orang yang dipercaya untuk menjaga agama, harta, dan rahasia umat. Ini adalah kedudukan yang sangat agung. Abu Ubaidah terbukti memegang amanah ini ketika beliau diangkat menjadi gubernur di Syam oleh Umar bin Khattab, dan beliau menjalankannya dengan sangat baik.
  3. Sifat amanah adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa amanah adalah salah satu fondasi keimanan. Orang yang amanah akan dipercaya oleh manusia, dan yang lebih penting, ia akan dipercaya oleh Allah dengan diberikan taufik untuk istiqamah.
  4. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abdullah bin Mas'ud sebagai perawi. Beliau meriwayatkan pujian ini untuk Abu Ubaidah, dan ini menunjukkan bahwa para sahabat saling mengakui keutamaan satu sama lain tanpa rasa iri atau dengki. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam kitab Fadhail ash-Shahabah menyebutkan banyak riwayat yang menunjukkan sikap saling menghormati di antara para sahabat.
  5. Pelajaran tentang kepemimpinan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang paling berhak memimpin adalah orang yang memiliki sifat amanah dan kuat. Abu Ubaidah memiliki keduanya, sehingga beliau layak menjadi pemimpin. Ini juga yang menjadi alasan Umar bin Khattab menunjuknya sebagai pemimpin di Syam.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal tentang amanah Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Ketika terjadi wabah tha'un (wabah penyakit menular) di Syam pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab, Umar ingin mengunjungi pasukannya di sana. Namun, para sahabat menyarankan agar Umar tidak pergi karena bahaya wabah. Abu Ubaidah yang saat itu menjadi gubernur di Syam justru menyambut kedatangan Umar.

Umar berkata kepadanya, "Wahai Abu Ubaidah, aku ingin kembali ke Madinah karena ada urusan." Abu Ubaidah menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau lari dari takdir Allah?" Umar menjawab, "Ya, aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain."

Kemudian Umar bertanya kepada para sahabat yang hadir, dan Abdurrahman bin Auf menyebutkan hadits Nabi ﷺ tentang larangan masuk ke daerah yang terkena wabah. Akhirnya Umar kembali ke Madinah. Namun, tidak lama kemudian Abu Ubaidah tertular wabah tersebut dan wafat. Sebelum wafat, beliau berpesan kepada pasukannya agar tetap teguh dalam agama dan taat kepada pemimpin.

Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Ubaidah benar-benar orang yang amanah. Beliau tidak takut menghadapi bahaya demi menjalankan tugasnya, dan beliau tetap memikirkan kebaikan umat hingga akhir hayatnya. Semoga Allah meridhai beliau.

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani sifat amanah dalam segala urusan, baik yang kecil maupun yang besar, karena ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih.
  2. Menghormati para sahabat dan mengakui keutamaan mereka, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.
  3. Menjauhi sifat khianat, karena khianat adalah tanda kemunafikan dan bertentangan dengan keimanan.
  4. Memilih pemimpin yang amanah, karena amanah adalah syarat utama bagi seorang pemimpin.
  5. Menjaga lisan dari pujian yang berlebihan, namun tetap mengakui kebaikan orang lain sebagaimana Nabi ﷺ memuji Abu Ubaidah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?