Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan bahwa Nabi ﷺ membuka shalat malam (qiyamul lail) dengan memperbanyak takbir, tahmid, tasbih, dan istighfar masing-masing sepuluh kali, lalu membaca doa memohon ampunan, petunjuk, rezeki, dan kesehatan, serta berlindung dari kesulitan berdiri di Hari Kiamat. Ini menunjukkan betapa beliau ﷺ memuliakan pembukaan shalat malam dengan dzikir dan doa sebelum masuk ke inti shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pelaksanaan Shalat dan Sunnahnya, Bab Apa yang Dikatakan Saat Seorang Pria Berdiri dari Malam Hari (no. 1356), dari jalur 'Ashim bin Humaid dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Terkait keutamaan qiyamul lail dan dzikir di dalamnya, Allah berfirman:
QS. Al-Isra' [17]: 79
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
QS. Al-Muzzammil [73]: 8
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
"Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati."
QS. Al-Baqarah [2]: 201 (doa yang mencakup kebaikan dunia-akhirat, sejalan dengan doa dalam hadits):
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa membuka shalat malam dengan dzikir dan doa adalah sunnah yang dianjurkan, karena ia menghadirkan hati sebelum masuk ke munajat utama. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki dzikir dan doa khusus di awal qiyamul lail, termasuk takbir, tahmid, tasbih, dan istighfar yang berulang sepuluh kali.
Penjelasan Rinci
Pertama: Kedudukan hadits. Hadits ini menunjukkan sunnahnya membuka shalat malam dengan rangkaian dzikir sebelum membaca Al-Fatihah dan surat. 'Aisyah radhiyallahu 'anha menyebutkan bahwa tidak ada seorang pun yang bertanya hal ini sebelumnya kepada beliau, yang menunjukkan betapa dalamnya perhatian 'Ashim bin Humaid terhadap sunnah yang jarang ditanyakan orang.
Kedua: Makna "yuqabbiru 'asyran, wa yahmadu 'asyran, wa yusabbihu 'asyran, wa yastaghfiru 'asyran". Menurut penjelasan Ibnu Hajar dan Ibnul Qayyim, maknanya adalah beliau mengucapkan takbir (Allahu Akbar), tahmid (Alhamdulillah), tasbih (Subhanallah), dan istighfar (Astaghfirullah) masing-masing sepuluh kali. Sebagian ulama seperti Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menjelaskan bahwa pengulangan sepuluh kali ini mengandung makna penyucian dan pengagungan yang sempurna, karena angka sepuluh dalam syariat sering menjadi penyempurna (seperti sepuluh hari Dzulhijjah, sepuluh malam terakhir Ramadhan).
Ketiga: Doa "Allahumma aghfir li, wahdini, warzuqni, wa 'afini". Doa ini mencakup empat kebutuhan pokok hamba:
- Ampunan (maghfirah) — menutup dosa yang lalu.
- Petunjuk (hidayah) — memperbaiki masa depan.
- Rezeki (rizq) — kebutuhan duniawi.
- Kesehatan ('afiyah) — kekuatan badan untuk beribadah.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa doa yang menghimpun antara urusan agama dan dunia seperti ini adalah doa yang paling menyeluruh, sebagaimana doa dalam QS. Al-Baqarah [2]: 201. As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman menegaskan bahwa 'afiyah adalah nikmat yang paling sering dilupakan, padahal tanpanya ibadah tidak dapat tegak.
Keempat: "Wa yata'awwadzu min dhiqil maqam yaumal qiyamah". Beliau berlindung dari kesulitan dan kesempitan berdiri di Hari Kiamat. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kesadaran Nabi ﷺ akan beratnya pertanggungjawaban di akhirat, sehingga beliau mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari keadaan tersebut sejak awal shalat malam.
Kelima: Perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama seperti Ibnu Hibban dan Al-Bayhaqi menilai hadits ini sebagai hasan, sedangkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah menilai hadits ini hasan (bukan shahih). Meski demikian, isi dan maknanya tetap diamalkan karena tidak bertentangan dengan dalil lain, dan didukung oleh keumuman perintah berdzikir di awal shalat malam.
Story Telling
Dikisahkan dalam Sunan Ibnu Majah dan kitab-kitab sunnah lainnya, bahwa 'Ashim bin Humaid — seorang tabi'in — datang kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha dengan pertanyaan yang sangat spesifik: "Dengan apa Nabi ﷺ membuka shalat malamnya?" 'Aisyah menjawab dengan keheranan bercampur kekaguman: "Engkau telah menanyakan sesuatu yang belum pernah ditanyakan oleh siapapun sebelummu."
Ini menunjukkan bahwa para salaf tidak hanya bertanya tentang hal-hal besar, tetapi juga detail-detail ibadah yang mungkin terlewat oleh orang lain. Sufyan ats-Tsauri pernah berkata: "Ilmu itu adalah apa yang datang dari para sahabat Nabi ﷺ; adapun apa yang datang setelah mereka, maka itu hanyalah tafsir." Maka pertanyaan 'Ashim bin Humaid adalah cerminan semangat salaf dalam meneladani sunnah hingga ke hal-hal kecil.
Kesimpulan Praktis
- Buka shalat malam dengan dzikir: takbir, tahmid, tasbih, dan istighfar masing-masing sepuluh kali sebelum membaca Al-Fatihah.
- Baca doa "Allahumma aghfir li, wahdini, warzuqni, wa 'afini" — doa yang menghimpun kebutuhan agama dan dunia.
- Berlindung dari kesulitan Hari Kiamat dengan memohon perlindungan Allah dari dhiqil maqam (kesempitan berdiri di Padang Mahsyar).
- Teladani semangat salaf dalam bertanya dan mengamalkan sunnah hingga detail terkecil.
- Jangan tinggalkan qiyamul lail, meski hanya dua rakaat, karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih dan penghapus dosa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.