Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an dalam shalat malam (tahajjud) yang dilakukan Nabi ﷺ tidak selalu satu pola: kadang beliau mengeraskan suara dan kadang melirihkannya. Ini memberi keluasan (keleluasaan) bagi umat Islam untuk memilih sesuai keadaan, selama tetap menjaga kekhusyukan dan tidak mengganggu orang lain. Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab dengan jawaban yang ringkas namun padat, dan Ghudaif bin al-Harits pun memuji Allah karena luasnya perkara ini.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Isra' [17]: 110
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Terjemahan: "Dan janganlah engkau mengeraskan bacaan shalatmu dan jangan pula melirihkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya."
Hadits terkait:
- Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1354), dari jalur Abu Bakr bin Abi Syaibah → Isma'il bin 'Ulayyah → Burd bin Sinan → 'Ubadah bin Nusay → Ghudaif bin al-Harits, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
- Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari jalur lain, yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ kadang mengeraskan dan kadang melirihkan bacaan shalat malam.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil keluasan (tafwidh) dalam memilih antara jahr (keras) dan sirr (pelan) dalam shalat malam, dan bahwa keduanya pernah dilakukan Nabi ﷺ.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa shalat malam Nabi ﷺ kadang jahr dan kadang sirr, dan ini menunjukkan bolehnya memilih yang lebih mudah dan lebih khusyuk.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Isra' [17]: 110 menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan bacaan shalat, dan Nabi ﷺ diperintahkan untuk mengambil jalan tengah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyentuh satu bab penting dalam fiqih shalat malam, yaitu jahr (mengeraskan bacaan) dan sirr (melirihkan bacaan). Ghudaif bin al-Harits, seorang tabi'in, bertanya langsung kepada Aisyah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ yang paling mengetahui kebiasaan beliau di rumah — tentang bagaimana Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dalam shalat malam. Jawaban Aisyah: "Kadang-kadang ia membaca dengan keras dan kadang-kadang pelan."
Pemahaman ulama:
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kedua cara tersebut (jahr dan sirr) adalah sunnah yang pernah dipraktikkan Nabi ﷺ. Tidak ada satu pun yang lebih utama secara mutlak; yang lebih utama adalah yang lebih mendatangkan kekhusyukan dan tidak menimbulkan gangguan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa hikmah dari keluasan ini adalah agar umat Islam tidak merasa sempit dalam beribadah. Jika seseorang khawatir riya' dengan mengeraskan suara, maka melirihkan lebih baik. Jika mengeraskan suara dapat membangunkan keluarga untuk shalat atau memberi semangat, maka mengeraskan lebih baik.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa QS. Al-Isra' [17]: 110 memberikan prinsip umum: jangan terlalu keras hingga mengganggu orang lain, dan jangan terlalu pelan hingga tidak terdengar oleh diri sendiri. Jalan tengah adalah yang terbaik.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa dalam shalat malam, seseorang bebas memilih antara jahr dan sirr, tetapi yang paling utama adalah yang lebih khusyuk dan tidak mengganggu. Jika di masjid dan dikhawatirkan mengganggu jamaah lain, maka sirr lebih baik. Jika sendirian dan ingin merenungi bacaan, jahr boleh dilakukan.
Perbedaan pendapat:
- Sebagian ulama berpendapat bahwa jahr dalam shalat malam lebih utama karena lebih bersemangat dan dapat membangunkan orang lain untuk shalat.
- Sebagian lain berpendapat sirr lebih utama karena lebih dekat kepada keikhlasan dan menjauhi riya'.
- Pendapat yang paling kuat (sebagaimana ditegaskan an-Nawawi dan Ibnu Hajar) adalah bahwa keduanya boleh dan yang lebih utama adalah yang lebih mendatangkan kekhusyukan serta tidak menimbulkan gangguan. Ini sesuai dengan prinsip QS. Al-Isra' [17]: 110.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Ghudaif bin al-Harits adalah seorang tabi'in yang dikenal tekun bertanya tentang sunnah. Ia sengaja datang kepada Aisyah radhiyallahu 'anha untuk memastikan bagaimana Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dalam shalat malam. Setelah mendapat jawaban bahwa Nabi ﷺ kadang jahr dan kadang sirr, ia pun mengucapkan: "Allahu Akbar! Alhamdulillah yang telah menjadikan perkara ini luas."
Ucapan ini menunjukkan betapa besar rasa syukurnya karena mengetahui bahwa agama ini tidak memberatkan. Ia tidak perlu bingung memilih satu cara saja; keduanya adalah sunnah. Ini juga mengajarkan kepada kita bahwa bertanya kepada ahlinya (dalam hal ini Aisyah, istri Nabi ﷺ) adalah jalan untuk mendapatkan ilmu yang benar.
Hikmah: Keluasan dalam ibadah adalah rahmat. Allah tidak membebani hamba-Nya dengan satu cara yang sempit, tetapi memberi pilihan yang sesuai dengan keadaan masing-masing.
Kesimpulan Praktis
- Bacaan shalat malam boleh jahr (keras) atau sirr (pelan) — keduanya pernah dilakukan Nabi ﷺ.
- Pilih yang lebih khusyuk dan tidak mengganggu — jika mengeraskan suara membuat riya' atau mengganggu orang lain, maka pelankan. Jika melirihkan membuat ngantuk atau tidak fokus, maka keraskan secukupnya.
- Jangan merasa sempit — agama ini luas. Yang penting adalah menjaga kualitas bacaan, tajwid, dan kekhusyukan.
- Bertanyalah kepada ahlinya — seperti Ghudaif yang bertanya kepada Aisyah, kita pun harus bertanya kepada ulama yang terpercaya.
- Syukuri keluasan ini — ucapkan "Alhamdulillah" sebagaimana Ghudaif, karena Allah telah menjadikan perkara ini mudah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.