Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1331 tentang Larangan meninggalkan shalat malam secara konsisten

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah nasihat Nabi ﷺ agar kita tidak menjadi seperti orang yang tadinya rajin shalat malam, lalu meninggalkannya. Ini adalah peringatan keras tentang bahaya meninggalkan amal kebaikan yang sudah biasa dilakukan, terutama shalat malam (qiyamul lail). Intinya, istiqamah (konsisten) dalam amal itu sangat dicintai Allah, meskipun sedikit, dan meninggalkannya adalah perbuatan yang tercela.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks Arab (sesuai riwayat):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، أَنْبَأَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ "

Artinya: Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Janganlah kamu seperti si Fulan, yang biasa shalat malam lalu meninggalkan shalat malam.'" (HR. Ibnu Majah no. 1331)

Hadits Pendukung dari Shahih Bukhari dan Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ قَالَ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالَتْ: فُلَانَةُ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، قَالَ: مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللهِ لَا يَمَلُّ اللهُ حَتَّى تَمَلُّوا، وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ

Artinya: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ masuk menemuinya dan di sisinya ada seorang wanita. Beliau bertanya: "Siapa ini?" Aisyah menjawab: "Fulanah, yang dikenal karena banyak shalatnya." Maka beliau bersabda: "Cukup! Hendaklah kalian beramal sesuai kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sehingga kalian sendiri yang bosan. Dan agama yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (istiqamah)." (HR. Bukhari no. 43, Muslim no. 785)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Awza'i (perawi dalam sanad hadits ini) adalah seorang ulama besar tabi'in yang terkenal dengan kezuhudan dan kehati-hatiannya dalam beribadah. Beliau sangat memperhatikan amalan-amalan hati dan konsistensi ibadah.
  • Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa meninggalkan amal kebaikan yang sudah menjadi kebiasaan adalah tanda kurangnya kejujuran dalam beribadah dan bisa menjadi sebab hilangnya taufik dari Allah.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak mudah putus asa dan tidak mudah bosan dalam beribadah. Beliau menekankan bahwa setan senang jika seorang hamba meninggalkan ibadahnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma. Dalam riwayat lain yang lebih lengkap (HR. Bukhari dan Muslim), disebutkan konteksnya: Abdullah bin Amr pernah bersemangat sekali dalam beribadah dan berkata, "Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan shalat malam sepanjang malam." Maka Nabi ﷺ menasihatinya agar tidak berlebihan, dan beliau bersabda: "Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan. Dulu dia shalat malam, lalu meninggalkannya."

Ada beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Bahaya Meninggalkan Amal Kebaikan

Nabi ﷺ mengumpamakan orang yang meninggalkan shalat malam dengan "si Fulan" sebagai peringatan. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan amal kebaikan yang sudah biasa dilakukan adalah perkara yang sangat tidak disukai. Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa orang yang terbiasa beramal lalu meninggalkannya, maka ia seperti orang yang berjalan lalu berhenti di tengah jalan. Ia tidak sampai ke tujuan dan bahkan bisa mundur ke belakang.

2. Pentingnya Istiqamah (Konsistensi)

Dalam hadits Aisyah di atas, Nabi ﷺ menegaskan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit. Ini menunjukkan bahwa kualitas ibadah tidak diukur dari banyaknya, tetapi dari konsistensinya. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa istiqamah dalam amal kecil lebih baik daripada amal besar yang terputus, karena istiqamah menunjukkan kecintaan yang mendalam dan kejujuran dalam beribadah.

3. Menghindari Ghuluw (Berlebihan) dalam Ibadah

Konteks hadits ini adalah nasihat Nabi ﷺ kepada Abdullah bin Amr yang ingin beribadah secara berlebihan. Nabi ﷺ melarangnya dan mengajarkan jalan tengah. Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa berlebihan dalam ibadah bisa menyebabkan kelelahan dan akhirnya justru meninggalkan ibadah tersebut. Maka yang diajarkan adalah beribadah sesuai kemampuan, tetapi dilakukan secara terus-menerus.

4. Shalat Malam adalah Amal yang Mulia

Hadits ini juga menunjukkan keutamaan shalat malam. Nabi ﷺ menyebut orang yang meninggalkannya sebagai contoh buruk. Ini menegaskan bahwa shalat malam adalah amal yang sangat dianjurkan dan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Allah berfirman dalam QS. Al-Muzzammil [73]: 6:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

"Sungguh, bangun di malam hari itu lebih kuat (menguasai jiwa) dan lebih lurus ucapannya."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi'in yang sangat zuhud) biasa menangis ketika mendengar ayat tentang orang-orang yang meninggalkan amal kebaikan. Beliau berkata: "Betapa banyak orang yang rajin beribadah di awal hidupnya, lalu ia tinggalkan di akhir hayatnya. Maka ia menjadi orang yang merugi di akhir hidupnya, padahal ia telah bersusah payah di awalnya."

Beliau juga sering berdoa: "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan akhir amal kami adalah keburukan, dan janganlah Engkau cabut iman kami dalam keadaan kami lalai."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa para salaf sangat takut jika amal mereka tidak diterima atau jika mereka meninggalkan amal kebaikan yang biasa mereka lakukan. Mereka menjaga istiqamah hingga akhir hayat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga istiqamah dalam ibadah, terutama shalat malam, meskipun hanya sedikit. Lebih baik shalat 2 rakaat setiap malam daripada 10 rakaat sekali lalu ditinggalkan.
  2. Jangan berlebihan dalam beribadah di luar kemampuan, karena bisa menyebabkan kelelahan dan akhirnya meninggalkan ibadah tersebut.
  3. Jika terlanjur meninggalkan shalat malam, segeralah kembali. Jangan biarkan setan terus menjauhkan kita dari kebaikan. Allah Maha Pengampun dan menerima taubat hamba-Nya.
  4. Niatkan setiap amal untuk Allah, dan mohonlah kepada-Nya agar diberikan keteguhan hati dalam beribadah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.