Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1280 tentang Jumlah takbir dalam shalat Id

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat Ibnu Majah dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha ini menjelaskan bahwa dalam shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha), Rasulullah ﷺ mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, di luar takbir ruku'. Ini adalah tuntunan sunnah yang shahih dan diamalkan oleh banyak ulama Ahlus Sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1280) dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dengan sanad: Harmalah bin Yahya → Abdullah bin Wahb → Ibnu Lahi'ah → Khalid bin Yazid dan 'Uqail → Ibnu Syihab (az-Zuhri) → 'Urwah → 'Aisyah.

Hadits pendukung dari kitab shahih:

Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits serupa dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, dan dari Abu Hurairah. At-Tirmidzi menghasankan sebagian jalurnya.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

QS. Al-Baqarah [2]: 185

Terjemahan: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas perbedaan riwayat tentang jumlah takbir shalat Id.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' menyebutkan bahwa madzhab Syafi'i berpegang pada tujuh dan lima takbir.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ konsisten mengucapkan tujuh takbir di rakaat pertama dan lima di rakaat kedua.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Hadits ini menunjukkan tata cara shalat Id yang diajarkan Nabi ﷺ: pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, beliau mengucapkan takbir tambahan (takbir zawa'id) sebanyak tujuh kali; pada rakaat kedua, setelah takbir berdiri dari sujud, beliau mengucapkan lima kali. Semua itu di luar takbir ruku' (yakni takbir intiqal saat turun rukuk).

Pemahaman ulama:

  1. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada hadits 'Aisyah ini: tujuh dan lima takbir. Ini juga pendapat Ishaq bin Rahuyah dan Abu Dawud as-Sijistani yang meriwayatkan hadits ini.
  2. Imam Abu Hanifah berpendapat tiga takbir tambahan di rakaat pertama setelah takbiratul ihram (sebelum membaca), dan tiga di rakaat kedua. Namun dalil yang lebih kuat adalah hadits 'Aisyah dan 'Amr bin Syu'aib, sebagaimana ditegaskan At-Tirmidzi dan Ibnu Hajar.
  3. Imam Malik bin Anas dalam riwayat masyhur dari madzhabnya menyebut tujuh dan lima, sesuai hadits ini.
  4. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyatakan: "Nabi ﷺ mengucapkan takbir tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua, selain takbir ruku'." Beliau menegaskan ini adalah sunnah yang tetap.
  5. Syeikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil menilai hadits ini hasan dan menguatkan bahwa jumlah tujuh dan lima adalah yang rajih, meskipun sanadnya melalui Ibnu Lahi'ah yang diperbincangkan, namun didukung banyak jalur lain.

Catatan sanad:

Ibnu Lahi'ah adalah perawi yang diperbincangkan hafalannya oleh sebagian ulama seperti Yahya bin Ma'in dan Abu Hatim ar-Razi, namun hadits ini memiliki syawahid (penguat) dari jalur 'Amr bin Syu'aib dan Abu Hurairah, sehingga para ulama menghasankannya.

Perbedaan pendapat:

  • Jumhur (Syafi'i, Maliki, Hanbali, Ishaq, Abu Dawud): tujuh dan lima.
  • Hanafi: tiga dan tiga (di luar takbiratul ihram dan takbir intiqal).
  • Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah tujuh dan lima, karena hadits 'Aisyah ini shahih/hasan dan didukung riwayat lain.

Story Telling

Diceritakan bahwa 'Urwah bin az-Zubair (salah satu fuqaha tujuh Madinah, termasuk tabi'in) pernah bertanya kepada bibinya, 'Aisyah radhiyallahu 'anha, tentang tata cara shalat Id Nabi ﷺ. 'Aisyah pun menjawab dengan jawaban yang sangat rinci, termasuk jumlah takbir. Jawaban ini kemudian diriwayatkan oleh az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri), salah satu ulama besar tabi'in yang menjadi rujukan hadits di Madinah dan Syam.

Az-Zuhri dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits, dan beliau meriwayatkan hadits ini dari 'Urwah, dari 'Aisyah. Dari az-Zuhri, hadits ini tersebar ke berbagai penjuru, termasuk melalui Ibnu Lahi'ah ke Mesir dan melalui 'Uqail ke Syam.

Hikmahnya: para tabi'in seperti 'Urwah dan az-Zuhri sangat menjaga riwayat dari Ummul Mukminin 'Aisyah, sehingga sunnah shalat Id tetap terjaga hingga sampai kepada kita.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Id dilakukan dua rakaat. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, ucapkan takbir tambahan tujuh kali. Pada rakaat kedua, setelah takbir berdiri, ucapkan lima kali. Semua itu di luar takbir ruku'.
  2. Antara takbir-takbir tersebut, disunnahkan diam sejenak atau membaca dzikir ringan seperti tahmid dan tahlil, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain.
  3. Jangan berlebihan (ghuluw) dalam memperdebatkan jumlah takbir. Perbedaan ini adalah perbedaan ijtihad yang sudah dibahas para ulama sejak dulu, dan keduanya sah.
  4. Ikuti pendapat yang paling kuat dalilnya — yaitu tujuh dan lima — namun tetap hormat pada pendapat lain yang memiliki dasar.
  5. Ajarkan kepada keluarga tata cara shalat Id sesuai sunnah, agar syiar Islam terjaga.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?