Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tata cara mengatasi lupa dalam shalat, khususnya ketika salam di rakaat yang kurang. Rasulullah ﷺ menyempurnakan kekurangan tersebut dengan melanjutkan rakaat yang tertinggal, lalu salam, kemudian sujud sahwi dua kali dan salam lagi. Ini adalah salah satu dalil penting tentang sujud sahwi karena kelebihan atau kekurangan dalam shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pelaksanaan Shalat dan Sunnahnya, Bab Tentang Siapa yang Salam dari Dua atau Tiga dengan Lupa, nomor 1215. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari jalur lain, dengan lafaz yang semakna.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu." (QS. At-Taghabun [64]: 16)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan, dan dalam hal lupa, Allah memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Ini menjadi dasar bahwa lupa dalam shalat tidak membatalkan shalat, tetapi cukup disempurnakan dengan sujud sahwi.
Hadits terkait:
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 574) dari jalur Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa setelah salam, beliau ditanya, lalu beliau menghadap kiblat, bertakbir, dan menyempurnakan rakaat yang tertinggal.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Lupa adalah bagian dari tabiat manusia
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa lupa bisa menimpa siapa saja, bahkan Nabi ﷺ sekalipun dalam urusan duniawi dan sebagian urusan ibadah. Namun, Allah menjaga Nabi ﷺ dari kekeliruan dalam menyampaikan syariat. Justru dengan adanya peristiwa ini, Allah mengajarkan kepada umatnya bagaimana cara mengatasi lupa dalam shalat.
2. Orang yang lupa salam di rakaat yang kurang, maka ia menyempurnakan rakaatnya
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat: jika seseorang salam sebelum sempurna shalatnya karena lupa, maka ia harus melanjutkan sisa rakaatnya, kemudian salam, lalu sujud sahwi dua kali dan salam lagi. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad -semoga Allah merahmati mereka semua-.
3. Sujud sahwi dilakukan setelah salam
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ melakukan sujud sahwi setelah salam yang kedua (setelah menyempurnakan rakaat). Ini menunjukkan bahwa sujud sahwi bisa dilakukan setelah salam ketika shalatnya kurang. Namun para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa bentuk sujud sahwi:
- Jika shalatnya kurang, sujud sahwi dilakukan setelah salam.
- Jika shalatnya lebih, sujud sahwi dilakukan setelah salam menurut pendapat yang kuat.
- Jika ragu-ragu, sujud sahwi dilakukan sebelum salam.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh al-Arba'in menjelaskan bahwa inti dari sujud sahwi adalah untuk menutup kekurangan yang terjadi karena lupa, dan ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini.
4. Sikap Nabi ﷺ yang marah bukan karena pribadi
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa kemarahan Nabi ﷺ dalam hadits ini adalah karena beliau khawatir terjadi perubahan dalam syariat, bukan karena marah kepada penanya. Ini menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap keutuhan ibadah umatnya.
5. Pelajaran tentang adab bertanya
Khirbaq radhiyallahu 'anhu bertanya dengan sopan: "Apakah shalatnya dipendekkan?" Ini menunjukkan adab dalam bertanya kepada ulama, yaitu dengan bahasa yang santun dan tidak menuduh.
Story Telling
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Adzim menceritakan bahwa para sahabat sangat perhatian terhadap shalat Nabi ﷺ. Mereka memperhatikan setiap gerakan beliau. Ketika Nabi ﷺ salam di rakaat ketiga shalat Ashar, para sahabat sempat bingung, namun tidak ada yang berani bertanya kecuali Khirbaq radhiyallahu 'anhu.
Khirbaq adalah seorang sahabat yang memiliki keistimewaan fisik, disebutkan "basiithul yadain" (tangan yang lebar/panjang). Ia berani bertanya karena khawatir shalatnya berkurang. Nabi ﷺ keluar dengan marah - dan kemarahan beliau adalah karena menjaga syariat - lalu beliau menyempurnakan shalatnya dan mengajarkan umatnya cara sujud sahwi.
Dari kisah ini kita belajar: keberanian bertanya untuk kebenaran adalah hal yang terpuji, selama dilakukan dengan adab. Dan kemarahan seorang alim karena menjaga syariat adalah kemarahan yang terpuji, bukan karena kepentingan pribadi.
Kesimpulan Praktis
- Jika seseorang lupa salam di rakaat yang kurang, ia harus menyempurnakan rakaat yang tertinggal, lalu salam, kemudian sujud sahwi dua kali dan salam lagi.
- Sujud sahwi adalah ibadah yang diajarkan Nabi ﷺ untuk menutup kekurangan karena lupa, dan ini adalah rahmat Allah.
- Kita boleh bertanya kepada ulama tentang hal-hal yang meragukan dalam ibadah, dengan adab yang baik.
- Jangan mudah menyalahkan orang yang lupa dalam ibadah, karena lupa adalah tabiat manusia dan Allah memaafkannya.
- Pelajari ilmu tentang sujud sahwi dengan baik, karena ini sering dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.