Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1180 tentang Hadits tentang mengangkat tangan hanya saat doa istisqa

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ dalam berdoa adalah tidak mengangkat tangan, kecuali dalam doa istisqa' (meminta hujan). Dalam istisqa', beliau mengangkat tangannya dengan sangat tinggi sampai terlihat putih ketiaknya. Ini menunjukkan bahwa mengangkat tangan dalam doa bukanlah sunnah yang umum dilakukan Nabi ﷺ pada setiap doa, melainkan hanya pada keadaan tertentu seperti istisqa'.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ ـ ﷺ ـ كَانَ لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَىْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ عِنْدَ الاِسْتِسْقَاءِ فَإِنَّهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ

Terjemahan: Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Allah ﷺ tidak mengangkat kedua tangannya dalam doa-doanya kecuali ketika meminta hujan (istisqa'), maka beliau mengangkat tangannya sampai terlihat putih ketiaknya.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1031) dan Imam Muslim (no. 895) dari jalur Qatadah dari Anas bin Malik dengan lafaz yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 55

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Ayat ini menunjukkan adab berdoa yang diajarkan Allah—dengan ketundukan dan tidak berlebihan, yang sejalan dengan sikap Nabi ﷺ yang tidak selalu mengangkat tangan dalam setiap doa.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan beberapa poin penting:

1. Makna Hadits Secara Umum

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaan asli Nabi ﷺ dalam berdoa adalah tidak mengangkat tangan. Namun, ada pengecualian pada doa istisqa' di mana beliau mengangkat tangannya dengan sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa mengangkat tangan dalam doa bukanlah perkara yang dilakukan Nabi ﷺ secara terus-menerus, melainkan hanya pada tempat-tempat tertentu yang disyariatkan.

2. Pemahaman Ulama tentang Mengangkat Tangan dalam Doa

Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa mengangkat tangan dalam doa memiliki tempat-tempat yang disyariatkan, seperti:

  • Doa istisqa' (meminta hujan)
  • Doa dalam shalat witir (qunut)
  • Doa di Arafah
  • Doa ketika berada di tempat-tempat mustajab

Adapun dalam doa-doa biasa di luar ibadah tertentu, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama seperti Imam Malik memandang bahwa mengangkat tangan dalam doa di luar shalat adalah sunnah secara umum, sementara ulama lain berpendapat bahwa hal itu tidak dilakukan kecuali pada tempat-tempat tertentu berdasarkan dalil.

3. Penjelasan Imam an-Nawawi

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mengangkat tangan dalam doa istisqa' dengan sangat tinggi, sampai terlihat ketiak. Adapun dalam doa-doa lainnya, yang lebih utama adalah tidak mengangkat tangan kecuali pada tempat-tempat yang disebutkan dalam dalil-dalil khusus.

4. Hikmah di Balik Larangan Mengangkat Tangan Secara Berlebihan

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa tidak mengangkat tangan dalam setiap doa adalah bentuk pengagungan terhadap syariat dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara proporsional. Mengangkat tangan secara berlebihan dalam setiap doa bisa jadi termasuk perbuatan ghuluw (berlebihan) yang dilarang, karena Nabi ﷺ sendiri tidak melakukannya.

5. Pengecualian untuk Istisqa'

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa dalam istisqa', Nabi ﷺ mengangkat tangannya dengan sangat tinggi—sampai terlihat putih ketiaknya—karena doa ini adalah doa yang sangat penting dan menunjukkan kebutuhan yang mendesak akan rahmat Allah berupa turunnya hujan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

> "Nabi ﷺ pernah keluar untuk meminta hujan (istisqa'), lalu beliau mengangkat tangannya menghadap langit dan berdoa. Aku melihat putih ketiak beliau." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, ketika para sahabat mengadu kepada Nabi ﷺ tentang kekeringan dan paceklik yang melanda Madinah, beliau keluar ke tanah lapang, lalu berdoa dengan penuh ketundukan. Beliau mengangkat tangannya begitu tinggi sehingga terlihat putih ketiaknya. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan hujan yang deras.

Hikmah dari kisah ini: Doa istisqa' adalah momen di mana seorang hamba menunjukkan kebutuhan yang sangat mendesak kepada Allah. Mengangkat tangan dengan tinggi adalah simbol ketundukan dan harapan yang kuat. Namun, dalam doa-doa harian biasa, Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berdoa dengan tenang dan tidak berlebihan.

Kesimpulan Praktis

  1. Mengangkat tangan dalam doa adalah perkara yang disyariatkan pada tempat-tempat tertentu seperti istisqa', qunut, dan doa di Arafah—bukan pada setiap doa.
  2. Dalam doa biasa, yang lebih utama adalah tidak mengangkat tangan, mengikuti kebiasaan Nabi ﷺ yang tidak melakukannya kecuali pada keadaan tertentu.
  3. Sikap proporsional dalam beribadah adalah ciri Ahlus Sunnah—tidak berlebihan dan tidak meremehkan.
  4. Doa istisqa' adalah momen istimewa di mana kita dianjurkan mengangkat tangan dengan tinggi sebagai bentuk harapan yang kuat kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.