Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1172
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dalam shalat Witir membaca tiga surah secara berurutan: Al-A'la (87), Al-Kafirun (109), dan Al-Ikhlas (112). Ini adalah sunnah yang tetap dan dianjurkan, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah. Membaca surah-surah ini dalam Witir adalah amalan yang ringan namun penuh makna tauhid.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits terkait — Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1172) dari jalur Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i dengan lafaz yang semakna. At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih.
Ayat-ayat yang dibaca:
QS. Al-A'la [87]: 1
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."
QS. Al-Kafirun [109]: 1
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
"Katakanlah: 'Hai orang-orang kafir.'"
QS. Al-Ikhlas [112]: 1
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
"Katakanlah: 'Dialah Allah, Yang Maha Esa.'"
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa membaca ketiga surah ini dalam Witir adalah sunnah yang disepakati keutamaannya.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ konsisten membaca surah-surah ini dalam Witir, dan ini mengandung makna tauhid yang mendalam.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menukil bahwa para ulama memahami urutan ini sebagai penggabungan antara tanzih (penyucian Allah), bara'ah (berlepas diri dari kekufuran), dan tauhid (mengesakan Allah).
Penjelasan Rinci
Hadits ini menerangkan kebiasaan Nabi ﷺ dalam shalat Witir. Witir adalah shalat malam yang jumlah rakaatnya ganjil — bisa satu, tiga, lima, atau lebih — dan menjadi penutup shalat malam. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ membaca tiga surah secara berurutan dalam satu rakaat Witir, atau dalam tiga rakaat Witir secara berurutan (satu surah per rakaat).
Pemahaman para ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa membaca Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas dalam Witir adalah sunnah yang dianjurkan, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keutamaannya.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa hikmah pemilihan surah-surah ini adalah:
- Al-A'la — mengandung penyucian Allah dan peringatan tentang akhirat.
- Al-Kafirun — mengandung berlepas diri dari kesyirikan dan kekufuran.
- Al-Ikhlas — mengandung inti tauhid dan pengesaan Allah.
Ketiganya merupakan ringkasan dari seluruh makna Al-Qur'an: tanzih (penyucian), bara'ah (berlepas diri dari kesyirikan), dan tauhid (pengesaan).
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menukil bahwa sebagian ulama menyebutkan bahwa membaca surah-surah ini dalam Witir adalah sunnah muakkadah (yang ditekankan), dan tidak sepatutnya ditinggalkan tanpa alasan.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berpendapat bahwa membaca ketiga surah ini dilakukan dalam tiga rakaat Witir — satu surah per rakaat. Sebagian lain berpendapat dibaca dalam satu rakaat Witir secara berurutan. Kedua cara ini memiliki dalilnya masing-masing, dan keduanya sah diamalkan. Yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa Nabi ﷺ terkadang membaca ketiganya dalam satu rakaat, dan terkadang dalam tiga rakaat — sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma'ad.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma — sepupu Nabi ﷺ dan ahli tafsir yang doanya diijabah Nabi — meriwayatkan hadits ini dengan penuh perhatian. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling tekun mencatat sunnah Nabi ﷺ, bahkan Nabi ﷺ pernah mendoakannya: "Ya Allah, ajarkanlah dia Al-Kitab." (HR. Bukhari)
Suatu ketika, Sa'id bin Jubair — murid setia Ibnu 'Abbas — bertanya kepada gurunya tentang bacaan Nabi ﷺ dalam Witir. Ibnu 'Abbas menjawab dengan hadits ini, menunjukkan bahwa beliau benar-benar memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ, bukan hanya yang besar tetapi juga yang kecil. Sa'id bin Jubair kemudian menyampaikan hadits ini kepada generasi setelahnya, termasuk kepada Yunus bin Abi Ishaq dan Abu Ishaq as-Sabi'i, sehingga sampai kepada kita melalui Ibnu Majah.
Hikmahnya: perhatian para sahabat terhadap sunnah Nabi ﷺ dalam hal-hal kecil menunjukkan kecintaan mereka yang mendalam kepada beliau, dan hendaknya kita meneladani semangat ini.
Kesimpulan Praktis
- Membaca Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas dalam Witir adalah sunnah yang dianjurkan dan memiliki dasar yang kuat.
- Boleh dibaca dalam satu rakaat secara berurutan, atau dalam tiga rakaat — satu surah per rakaat.
- Jangan tinggalkan sunnah ini tanpa alasan, karena ia mengandung makna tauhid yang agung.
- Ajarkan kepada keluarga dan orang terdekat tentang keutamaan surah-surah ini dalam Witir.
- Ikhlaslah dalam beramal, karena yang dinilai bukan hanya bacaan, tetapi juga niat dan kekhusyukan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.