Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi pujian Nabi ﷺ kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dengan menyamakan kedudukannya di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa 'alaihissalam — yaitu sebagai pendamping, pembantu, dan pengganti dalam urusan dakwah, bukan sebagai nabi. Ini adalah keutamaan besar bagi Ali r.a., namun tidak berarti Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, karena keutamaan para khalifah telah ditetapkan dalam dalil-dalil lain yang shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan — Allah berfirman tentang permohonan Musa 'alaihissalam:
وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ
(QS. Al-A'raf [7]: 142)
Terjemahan: "Dan Musa berkata kepada saudaranya, Harun: 'Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa Harun adalah pengganti Musa dalam memimpin kaumnya saat Musa pergi — dan inilah makna yang dipakai Nabi ﷺ untuk menggambarkan kedudukan Ali r.a.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Sa'd bin Abi Waqqas r.a. dan dicatat oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pendahuluan, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib (no. 115). Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Sa'd bin Abi Waqqas, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Hadits ini termasuk hadits yang disepakati keshahihannya oleh para ulama hadits.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Nabi ﷺ bersabda kepada Ali r.a.: "Apakah tidak menyenangkan bagimu untuk menjadi seperti Harun bagi Musa?" Ini adalah pernyataan yang mengandung penghiburan dan pemuliaan. Saat itu Ali r.a. ditinggalkan Nabi ﷺ di Madinah ketika perang Tabuk, dan Ali merasa sedih karena tidak ikut berperang. Nabi ﷺ menghiburnya dengan menyamakan kedudukannya seperti Harun yang ditinggalkan Musa ketika naik ke gunung Thur.
Pemahaman para ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ali r.a. yang sangat tinggi, yaitu kedudukannya di sisi Nabi ﷺ seperti kedudukan Harun di sisi Musa — sebagai wazir (pembantu), pendamping, dan pengganti dalam urusan kaum. Namun Ibnu Hajar juga menegaskan bahwa penyamaan ini tidak mencakup kenabian, karena tidak ada nabi setelah Muhammad ﷺ. Ini dikuatkan oleh hadits lain yang secara tegas menyatakan "tidak ada nabi setelahku."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil keutamaan Ali r.a., dan para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai pujian yang khusus, bukan sebagai dalil bahwa Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar. Keutamaan Abu Bakar dan Umar telah ditetapkan dalam banyak hadits shahih, seperti sabda Nabi ﷺ tentang urutan keutamaan umat ini.
Ibnu Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah menjelaskan bahwa hadits "manzilah Harun" adalah hadits shahih yang menunjukkan keutamaan Ali r.a., tetapi tidak menunjukkan bahwa Ali adalah khalifah yang ditunjuk secara nash (wasiat) setelah Nabi ﷺ. Karena Harun sendiri tidak menggantikan Musa sebagai nabi setelah Musa wafat — Harun wafat sebelum Musa. Jadi penyamaan ini adalah dalam konteks kekhalifahan sementara saat Nabi ﷺ pergi ke Tabuk, bukan kekhalifahan permanen setelah wafatnya Nabi ﷺ.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya menyebutkan bahwa hadits ini termasuk dalil keutamaan Ali r.a. yang tidak diperselisihkan keshahihannya.
Kesimpulan para ulama:
Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali r.a. sebagai pendamping dan pembantu Nabi ﷺ, serta sebagai penggantinya dalam urusan tertentu. Namun tidak menunjukkan bahwa Ali adalah nabi, tidak menunjukkan bahwa Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, dan tidak menunjukkan wasiat kekhalifahan setelah Nabi ﷺ wafat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ berangkat untuk Perang Tabuk, beliau meninggalkan Ali bin Abi Thalib r.a. di Madinah untuk menjaga keluarga dan urusan kaum muslimin. Ali r.a. merasa sedih karena tidak ikut serta dalam jihad, lalu ia berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau meninggalkanku bersama wanita dan anak-anak?" Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Apakah tidak menyenangkan bagimu untuk menjadi seperti Harun bagi Musa?" (HR. Ibnu Majah no. 115, juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Sa'd bin Abi Waqqas).
Hikmah: Nabi ﷺ tidak membiarkan sahabatnya bersedih tanpa penghiburan. Beliau memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Ali r.a. dengan menyamakannya dengan Harun 'alaihissalam — seorang nabi yang mulia. Ini mengajarkan kita bahwa penghiburan dan penghargaan kepada orang yang berjasa adalah bagian dari akhlak Nabi ﷺ yang mulia.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini shahih dan menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib r.a. yang sangat tinggi.
- Kedudukan Ali r.a. seperti Harun di sisi Musa — sebagai pendamping, pembantu, dan pengganti dalam urusan dakwah, bukan sebagai nabi.
- Tidak ada nabi setelah Muhammad ﷺ, sehingga penyamaan ini tidak boleh dipahami sebagai kenabian.
- Keutamaan Abu Bakar dan Umar tetap lebih tinggi dari Ali r.a. berdasarkan dalil-dalil shahih lainnya, dan ini adalah kesepakatan Ahlus Sunnah.
- Hendaknya kita mencintai semua sahabat Nabi ﷺ dan tidak mengangkat sebagian di atas sebagian dengan cara yang bertentangan dengan dalil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.