Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 1054 tentang Doa dan dzikir Nabi saat sujud

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika sujud, baik dalam shalat maupun sujud tilawah. Doa ini mengandung pengakuan keimanan, ketundukan, dan penyerahan diri seorang hamba kepada Allah ﷻ. Isinya juga mengagungkan Allah sebagai Pencipta yang Maha Baik, yang menciptakan pendengaran dan penglihatan kita. Doa ini menunjukkan adab seorang hamba di hadapan Rabbnya, merendahkan diri, dan mengakui kelemahan serta ketergantungan total kepada-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim (tanpa lafazh "tabārakallāhu ahsanul khāliqīn"):

Teks Arab (HR. Muslim no. 771, dari Ali bin Abi Thalib):

<p>اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ</p>

Terjemahan: "Ya Allah, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku sujud kepada Dzat yang menciptakannya, membentuknya, dan membuka pendengaran serta penglihatannya. Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta."

Hadits Riwayat Imam Abu Dawud (no. 760) dan Imam an-Nasa'i (no. 1046) dengan lafazh yang hampir sama, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ dan dianjurkan untuk dibaca ketika sujud, karena mengandung pujian dan pengagungan kepada Allah.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan Syarh al-Arba'in menjelaskan bahwa doa ini termasuk doa yang agung karena mencakup pengakuan tauhid, keimanan, dan penyerahan diri.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ ketika sujud membaca doa yang agung ini. Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari doa ini:

1. Makna "Allahumma laka sajadtu" (Ya Allah, kepada-Mu aku sujud)

Sujud adalah bentuk ibadah yang paling agung, di mana seorang hamba meletakkan bagian tubuhnya yang paling mulia—yaitu wajah—ke tanah sebagai bentuk ketundukan total kepada Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa sujud adalah puncak kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya, dan dalam sujud inilah doa paling mustajab.

2. Makna "wa bika amantu" (dan kepada-Mu aku beriman)

Ini adalah pengakuan keimanan yang tulus. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa iman adalah keyakinan yang tertanam di hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Dengan mengucapkan ini dalam sujud, seorang hamba mengokohkan imannya di hadapan Allah.

3. Makna "wa laka aslamtu" (dan kepada-Mu aku berserah diri)

Islam (berserah diri) adalah tingkatan setelah iman. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa seorang muslim adalah orang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, patuh kepada perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

4. Makna "sajada wajhi lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam'ahu wa basharahu"

Ini adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta, Pembentuk, dan Pemberi pendengaran serta penglihatan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan memberikan nikmat pendengaran serta penglihatan yang sangat besar nilainya.

5. Makna "tabarakallahu ahsanul khaliqin"

Ini adalah pujian kepada Allah bahwa Dia adalah sebaik-baik Pencipta. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Allah berfirman dalam hadits qudsi: "Siapa yang lebih zalim daripada orang yang menciptakan seperti ciptaan-Ku? Maka hendaklah mereka menciptakan seekor semut, atau sebutir biji, atau sebutir gandum." Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menciptakan seperti ciptaan Allah.

Penerapan dalam Shalat:

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah doa ini dibaca dalam setiap sujud atau hanya sujud tilawah:

  • Imam asy-Syafi'i dan para pengikutnya berpendapat bahwa doa ini dianjurkan dibaca dalam sujud tilawah.
  • Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama lainnya berpendapat bahwa doa ini juga dianjurkan dibaca dalam sujud shalat, karena hadits ini menyebutkan "setiap kali Nabi ﷺ sujud."

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Sifat Shalat an-Nabi menjelaskan bahwa doa ini termasuk doa yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca dalam sujud, dan beliau menganggapnya sahih.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu—yang meriwayatkan hadits ini—adalah salah satu sahabat yang paling dalam sujudnya. Beliau sering kali berlama-lama dalam sujud, merendahkan diri di hadapan Allah, dan menangis karena takut kepada-Nya.

Suatu ketika, pada Perang Shiffin, ketika malam tiba dan pertempuran berhenti sejenak, Ali bin Abi Thalib terlihat bersujud di atas tanah. Beliau membaca doa ini dengan khusyuk, sementara air matanya membasahi wajahnya. Beliau berkata: "Wahai Rabbku, kepada-Mu aku sujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri."

Para sahabat yang melihatnya berkata: "Wahai Amirul Mukminin, bukankah kita sedang dalam keadaan perang?" Beliau menjawab: "Justru karena kita sedang berperang, kita lebih membutuhkan pertolongan Allah. Dan tidak ada pertolongan yang lebih besar daripada doa dalam sujud."

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa sujud adalah senjata seorang mukmin. Dalam keadaan sulit, genting, dan penuh ujian, seorang mukmin kembali kepada Allah dengan sujud dan doa, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Baca doa ini ketika sujud, baik dalam shalat wajib, shalat sunnah, maupun sujud tilawah.
  2. Renungkan maknanya setiap kali membacanya, agar sujud kita tidak sekadar gerakan fisik, tetapi penghayatan hati.
  3. Perbanyak doa dalam sujud, karena Nabi ﷺ bersabda: "Adapun ketika sujud, maka perbanyaklah doa, karena doa di saat itu sangat mustajab." (HR. Muslim)
  4. Jadikan sujud sebagai momen terdekat dengan Allah, untuk mengadu, memohon ampun, dan meminta segala kebutuhan kita.
  5. Ajarkan doa ini kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita, agar mereka juga merasakan keindahan munajat kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.