Penjelasan Hadits Bukhari No. 996 tentang Witr dikerjakan tiap malam hingga menjelang sahur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat witir di berbagai waktu di malam hari, dan akhirnya beliau mengakhiri (menjadikan puncak) shalat witirnya pada waktu sahur (menjelang fajar). Ini adalah dalil bahwa waktu shalat witir terbentang luas, dari setelah shalat Isya hingga sebelum masuk waktu shalat Subuh, dan mengakhirkannya di akhir malam adalah lebih utama bagi yang mampu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، قَالَ حَدَّثَنِي مُسْلِمٌ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كُلَّ اللَّيْلِ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ.

Makna Ringkas: Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat witir di setiap bagian malam (awal, tengah, atau akhirnya), dan witir beliau yang terakhir (puncaknya) adalah pada waktu sahur.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah tambahan) bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' [17]: 79)

Ayat ini menunjukkan keutamaan shalat malam, dan witir adalah bagian dari shalat malam yang dilakukan sebagai penutup.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya witir di awal malam, pertengahan, maupun akhir malam. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa yang paling utama adalah mengakhirkan witir ke akhir malam bagi yang mampu bangun, karena hal itu lebih berhati-hati dan lebih utama.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang kebiasaan Nabi ﷺ dalam shalat witir. Beliau tidak selalu mengerjakan witir di waktu yang sama setiap malamnya, melainkan terkadang di awal malam, terkadang di pertengahan, dan terkadang di akhir malam. Namun yang menjadi puncak dan kebiasaan terakhir beliau adalah mengerjakan witir di waktu sahur.

Pendapat Ulama tentang Waktu Witir:

  1. Waktu witir dimulai setelah shalat Isya hingga terbit fajar. Ini adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lainnya. Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ: "Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan witir." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
  2. Waktu yang paling utama adalah di akhir malam (sepertiga malam terakhir atau menjelang sahur) bagi yang yakin bisa bangun. Ini berdasarkan hadits Aisyah di atas, dan juga hadits Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan Al-Bukhari bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendaknya dia witir di awal malam. Dan barangsiapa yang bersemangat untuk bangun di akhir malam, maka hendaknya dia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan (oleh para malaikat)."
  3. Bagi yang khawatir tidak bisa bangun, maka disunnahkan witir di awal malam (setelah Isya) agar tidak terlewat. Ini adalah pendapat yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perkataan Aisyah "كُلَّ اللَّيْلِ أَوْتَرَ" (beliau witir di setiap bagian malam) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah witir di awal malam, pertengahan, dan akhir malam. Kemudian perkataan "وَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ" (dan witirnya berakhir/berpuncak pada waktu sahur) menunjukkan bahwa kebiasaan yang paling sering dan terakhir beliau lakukan adalah witir di akhir malam. Ini karena witir di akhir malam lebih utama, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir di atas.

Hikmah dari Hadits Ini:

Hadits ini mengajarkan kita tentang fleksibilitas dalam ibadah. Syariat tidak mempersempit, tetapi memberikan kelapangan. Seseorang boleh memilih waktu witir sesuai dengan keadaannya. Jika dia kuat bangun di akhir malam, maka itu lebih utama. Jika tidak, dia boleh witir di awal malam agar tidak terlewat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya oleh Masruq bin Al-Ajda' (seorang tabi'in terkemuka) tentang shalat malam Nabi ﷺ. Maka Aisyah menjawab dengan jujur dan detail, sebagaimana dalam hadits ini. Aisyah adalah istri Nabi yang paling mengetahui kebiasaan beliau di malam hari. Beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ bangun malam, beribadah, dan berdoa kepada Rabbnya.

Masruq adalah murid setia Aisyah dan termasuk ulama tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Perhatiannya terhadap detail ibadah Nabi ﷺ menunjukkan semangat para salaf dalam mencontoh sunnah beliau, bukan hanya dalam hal yang tampak, tetapi juga dalam hal yang tersembunyi seperti ibadah malam.

Hikmah: Para sahabat dan tabi'in sangat antusias mempelajari detail ibadah Nabi ﷺ, termasuk shalat malam dan witir. Mereka tidak merasa cukup dengan sekadar tahu bahwa witir itu ada, tetapi mereka ingin tahu bagaimana cara, waktu, dan kebiasaan terbaik Nabi ﷺ dalam melakukannya. Ini mengajarkan kita untuk tidak malas dalam menuntut ilmu agama dan mempraktikkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Waktu witir terbentang dari setelah shalat Isya hingga sebelum terbit fajar.
  2. Waktu yang paling utama adalah di akhir malam (menjelang sahur) bagi yang mampu bangun.
  3. Bagi yang khawatir tidak bangun, boleh witir di awal malam setelah Isya agar tidak terlewat.
  4. Konsistensi dalam ibadah lebih utama daripada memaksakan diri di waktu yang berat lalu akhirnya meninggalkannya.
  5. Jadikan witir sebagai penutup shalat malam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan witir."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?