Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan kebiasaan shalat malam Nabi ﷺ yang berjumlah sebelas rakaat, dengan sujud yang panjang, lalu diikuti dua rakaat sunnah Fajar dan berbaring di sisi kanan sebelum shalat Subuh. Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang keutamaan qiyamul lail, kekhusyukan dalam sujud, dan adab berbaring sebelum shalat Subuh. Semua ini menunjukkan kesungguhan Nabi ﷺ dalam beribadah dan menjadi teladan bagi umatnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
QS. Al-Isra' [17]: 79
Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Witir, Bab Apa yang Dikatakan tentang Witir, nomor 994. Perawi jalurnya: Abu Al-Yaman → Syu'aib → Az-Zuhri → 'Urwah → 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Hadits lain yang mendukung adalah riwayat dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menyebutkan bahwa shalat malam Nabi ﷺ adalah sebelas rakaat (termasuk witir), sebagaimana disebutkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya witir dan jumlah rakaat shalat malam yang paling utama adalah sebelas rakaat.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sujud yang panjang menunjukkan kekhusyukan dan ketenangan Nabi ﷺ dalam shalat.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa berbaring di sisi kanan setelah shalat sunnah Fajar adalah sunnah yang dilakukan Nabi ﷺ untuk istirahat sejenak sebelum shalat Subuh.
Penjelasan Rinci
1. Jumlah rakaat shalat malam Nabi ﷺ
'Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Nabi ﷺ shalat sebelas rakaat di malam hari. Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sebelas rakaat ini termasuk witir, dan inilah yang paling utama. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ terkadang shalat lebih banyak atau lebih sedikit, namun yang paling sering adalah sebelas rakaat. Ini menunjukkan bahwa jumlah ini bukanlah batasan yang kaku, melainkan yang paling utama dan paling sering dilakukan.
2. Panjangnya sujud Nabi ﷺ
'Aisyah menyebutkan bahwa sujud Nabi ﷺ begitu lama, sehingga seseorang bisa membaca lima puluh ayat sebelum beliau mengangkat kepalanya. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa khusyuk dan tenangnya Nabi ﷺ dalam sujud, serta betapa beliau memanjangkan rukun-rukun shalat malamnya. Ibnu Rajab menambahkan bahwa panjangnya sujud ini adalah tanda kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Rabb-nya adalah ketika ia sujud" (HR. Muslim).
3. Dua rakaat sebelum Fajar
Nabi ﷺ juga shalat dua rakaat sunnah sebelum shalat Fajar. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dua rakaat ini adalah sunnah muakkadah (yang sangat ditekankan), dan Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkannya, baik di rumah maupun dalam perjalanan. Dalam hadits lain, 'Aisyah menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Dua rakaat Fajar itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya" (HR. Muslim).
4. Berbaring di sisi kanan
Setelah shalat dua rakaat sunnah Fajar, Nabi ﷺ berbaring di sisi kanannya hingga muadzin datang. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah sunnah yang dilakukan untuk istirahat sejenak, bukan tidur, karena Nabi ﷺ tidak tidur setelah shalat sunnah Fajar. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa berbaring di sisi kanan ini juga mengandung hikmah kesehatan dan adab, karena sisi kanan adalah sisi yang paling mulia.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
- Sebagian ulama seperti Imam Malik berpendapat bahwa berbaring setelah shalat sunnah Fajar adalah sunnah yang dilakukan di rumah, bukan di masjid.
- Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa berbaring ini boleh dilakukan di masjid maupun di rumah, selama tidak mengganggu orang lain.
- Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa berbaring ini adalah sunnah yang dilakukan Nabi ﷺ, dan boleh dilakukan di rumah atau di masjid, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
Story Telling
Diceritakan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ yang paling memahami kebiasaan beliau di malam hari, suatu ketika ditanya oleh 'Urwah bin Az-Zubair tentang shalat malam Rasulullah ﷺ. 'Aisyah menjawab dengan detail, termasuk panjangnya sujud beliau. 'Urwah kemudian merenungkan jawaban itu dan berkata: "Sungguh, ini adalah ibadah yang sangat berat, namun Rasulullah ﷺ melakukannya dengan penuh kecintaan."
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat ibadah yang lebih berat daripada shalat malam, karena ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya." Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa shalat malam adalah ibadah yang membutuhkan kesungguhan dan kecintaan, bukan sekadar rutinitas.
Kesimpulan Praktis
- Hendaknya kita menghidupkan shalat malam dengan jumlah rakaat yang paling utama, yaitu sebelas rakaat termasuk witir, meskipun boleh lebih atau kurang.
- Panjangkan sujud dalam shalat malam sebagai tanda kekhusyukan dan kedekatan dengan Allah ﷻ.
- Jangan tinggalkan dua rakaat sunnah Fajar, karena keutamaannya sangat besar.
- Berbaringlah di sisi kanan setelah shalat sunnah Fajar sebagai sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ, baik di rumah maupun di masjid.
- Teladani kesungguhan Nabi ﷺ dalam beribadah, karena beliau adalah suri teladan terbaik bagi umat manusia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.