Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tata cara shalat malam yang utama, yaitu dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, lalu ditutup dengan satu rakaat witir. Namun, para ulama juga membolehkan witir dengan tiga rakaat, sebagaimana disebutkan oleh Al-Qasim bin Muhammad, seorang tabi'in terkemuka. Intinya, shalat malam itu luas dan tidak sempit, yang penting dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ
"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu..."
Hadits:
Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari no. 993 dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, Nabi ﷺ bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنْصَرِفَ فَارْكَعْ رَكْعَةً تُوتِرُ لَكَ مَا صَلَّيْتَ
"Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Apabila engkau ingin mengakhiri (shalat malam), maka kerjakanlah satu rakaat yang akan menjadi witir bagi shalat yang telah engkau lakukan."
Kaitan dengan Ulama:
- Al-Qasim bin Muhammad (cucu Abu Bakar ash-Shiddiq, seorang tabi'in besar) dalam riwayat ini menambahkan bahwa sejak masa mudanya ia melihat orang-orang melakukan witir dengan tiga rakaat, dan ia mengatakan semua cara itu luas (boleh).
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dan witir boleh satu rakaat atau tiga rakaat.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa maksud "matsna matsna" adalah setiap dua rakaat dengan satu salam, dan witir satu rakaat sebagai penutup.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu pedoman utama dalam tata cara shalat malam (qiyamul lail). Berikut penjelasan dari para ulama:
- Makna "Matsna Matsna" (مَثْنَى مَثْنَى)
Para ulama seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad memahami bahwa shalat malam dikerjakan dua rakaat dengan satu salam. Ini adalah cara yang paling utama dan sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa lafazh ini menunjukkan pengulangan, yaitu setiap dua rakaat diakhiri dengan salam.
- Witir sebagai Penutup
Sabda Nabi ﷺ "fark'ah rak'atan tuwiru laka ma shallayta" (maka kerjakanlah satu rakaat yang akan menjadi witir bagi shalatmu) menunjukkan bahwa witir berfungsi menggenapkan (menjadikan ganjil) seluruh rakaat shalat malam. Imam an-Nawawi mengatakan bahwa ini adalah dalil bahwa witir boleh satu rakaat saja.
- Pendapat Al-Qasim bin Muhammad tentang Witir Tiga Rakaat
Al-Qasim, seorang tabi'in yang sangat alim, mengatakan bahwa ia melihat orang-orang sejak masa mudanya melakukan witir dengan tiga rakaat. Ini menunjukkan bahwa witir tiga rakaat juga memiliki dasar dari praktik para sahabat dan tabi'in. Imam Ibn Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ terkadang witir dengan tiga rakaat, lima rakaat, atau lebih.
- Keluasan dalam Masalah Ini
Al-Qasim menutup perkataannya dengan "wa inna kullan lawasi'un" (semua itu luas). Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu cara pun yang dilarang secara mutlak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa witir boleh satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, atau lebih, asalkan ganjil. Yang terpenting adalah niat dan kekhusyukan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang yang sangat rajin shalat malam. Ia biasa shalat malam dengan dua rakaat-dua rakaat, lalu witir satu rakaat di akhir malam. Suatu ketika, ia ditanya oleh seseorang tentang cara shalat malam, maka ia pun menyampaikan hadits ini persis seperti yang diajarkan Nabi ﷺ. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga sunnah dan menyampaikannya kepada orang lain.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa shalat malam adalah ibadah yang sangat dianjurkan, dan kita bisa memilih cara yang paling sesuai dengan kemampuan kita, asalkan tetap dalam bingkai sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Shalat malam yang utama adalah dua rakaat-dua rakaat dengan satu salam, lalu ditutup witir satu rakaat.
- Witir boleh satu rakaat (paling utama), tiga rakaat, atau lebih, asalkan ganjil.
- Jangan mempersempit yang sudah diluaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Setiap cara yang sesuai sunnah adalah baik.
- Yang terpenting adalah konsistensi dan kekhusyukan dalam shalat malam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.