Penjelasan Hadits Bukhari No. 992 tentang Tata cara shalat malam dan witir Rasulullah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah riwayat yang sangat agung dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menceritakan tentang shalat malam (qiyamul lail) dan witir Nabi ﷺ. Hadits ini mengajarkan bahwa shalat malam dikerjakan dengan cara yang fleksibel, bisa dua rakaat salam, dua rakaat salam, dan diakhiri dengan witir. Juga terdapat pelajaran tentang kelembutan Nabi ﷺ kepada anak kecil, tata cara wudhu yang baik, dan anjuran membaca Al-Qur'an saat terbangun dari tidur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Witir, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Witir", no. 992, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Adapun dalil dari Al-Qur'an tentang shalat malam, Allah berfirman:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ

"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu."

Juga firman Allah tentang keutamaan orang yang shalat malam:

QS. As-Sajdah [32]: 16-17

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ . فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa (berbagai nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan."

Adapun hadits tentang witir, Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ»

"Sesungguhnya Allah itu Witir (Esa) dan mencintai shalat witir." (HR. Al-Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat penting dalam menjelaskan tata cara shalat malam dan witir Nabi ﷺ. Mari kita bedah beberapa pelajaran penting:

1. Tentang Shalat Malam dan Witir

Dalam hadits ini, Ibnu Abbas menceritakan bahwa Nabi ﷺ shalat malam dengan cara dua rakaat salam, dua rakaat salam — disebutkan enam kali dua rakaat — kemudian ditutup dengan witir. Ini menunjukkan bahwa cara shalat malam yang paling utama adalah dua rakaat salam, dua rakaat salam, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalat malam itu boleh dikerjakan dengan berbagai cara, namun yang paling utama adalah dua rakaat salam, dua rakaat salam, berdasarkan hadits Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Adapun witir, boleh satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, atau lebih, dan yang paling ringan adalah satu rakaat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa witir itu hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan waktunya antara setelah shalat Isya hingga sebelum shalat Subuh. Dan cara witir yang paling sempurna adalah tiga rakaat, atau bisa juga satu rakaat saja bagi yang sudah shalat malam sebelumnya.

2. Tentang Membaca Ayat Al-Qur'an Saat Terbangun

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ terbangun dari tidurnya lalu membaca sepuluh ayat dari Surat Ali Imran. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an di malam hari, terutama saat terbangun dari tidur, adalah amalan yang baik. Para ulama menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an sebelum shalat malam adalah cara untuk menghidupkan hati dan mempersiapkan diri untuk khusyuk dalam shalat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an dengan tadabbur (merenungkan maknanya) adalah cara untuk menghidupkan hati dan menguatkan iman.

3. Tentang Wudhu yang Sempurna

Nabi ﷺ berwudhu dengan "menyempurnakan wudhu" (فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ). Ini menunjukkan bahwa wudhu itu harus dilakukan dengan baik dan sempurna, sesuai dengan tuntunan syariat. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa berwudhu dengan membaguskan wudhunya, maka dosa-dosanya keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya." (HR. Muslim no. 245)

4. Tentang Kelembutan Nabi ﷺ kepada Anak Kecil

Saat Ibnu Abbas berdiri di samping Nabi ﷺ untuk shalat, Nabi ﷺ meletakkan tangan kanannya di kepala Ibnu Abbas dan memegang telinganya sambil memutarnya — ini adalah isyarat sayang dan canda lembut dari Nabi ﷺ kepada anak kecil. Kemudian Nabi ﷺ mengisyaratkan agar Ibnu Abbas berdiri di belakangnya, tidak di sampingnya, karena dalam shalat berjamaah, makmum laki-laki harus berdiri di belakang imam.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini menunjukkan bolehnya melakukan gerakan ringan dalam shalat jika ada keperluan, seperti mengisyaratkan kepada makmum agar pindah posisi. Dan ini juga menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada anak-anak.

5. Tentang Shalat Sunnah Fajar (Qabliyah Subuh)

Di akhir hadits, disebutkan bahwa setelah witir, Nabi ﷺ berbaring hingga datang muadzin, lalu beliau bangun dan shalat dua rakaat (sunnah qabliyah Subuh), kemudian keluar untuk shalat Subuh. Ini menunjukkan bahwa shalat sunnah qabliyah Subuh tetap dikerjakan meskipun sudah witir, karena keduanya adalah ibadah yang terpisah.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang shalat malam dari kalangan salaf. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah — salah seorang ulama tabi'in yang sangat zuhud — pernah berkata:

"Tidaklah seorang hamba menghidupkan malamnya dengan shalat dan membaca Al-Qur'an, melainkan Allah akan menghidupkan hatinya di siang hari. Dan tidaklah seorang hamba banyak tidur di malam hari, melainkan Allah akan menjadikan hatinya mati di siang hari."

Al-Hasan Al-Bashri juga dikenal sebagai ulama yang sering menangis ketika membaca Al-Qur'an dan shalat malam, karena takutnya kepada Allah dan cintanya kepada-Nya. Beliau adalah contoh nyata bagaimana shalat malam itu bisa mengubah hati seseorang menjadi lebih lembut, lebih dekat kepada Allah, dan lebih baik akhlaknya.

Kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah — imam madzhab Hanbali — dikenal sebagai ulama yang sangat tekun shalat malam. Beliau biasa shalat malam hingga larut, dan ketika ditanya tentang hal itu, beliau berkata: "Aku meninggalkan tidur malamku untuk shalat, dan aku tidak pernah menyesalinya."

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam dikerjakan dengan cara dua rakaat salam, dua rakaat salam, dan diakhiri dengan witir.
  2. Witir adalah shalat penutup malam, minimal satu rakaat, dan sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.
  3. Membaca Al-Qur'an saat terbangun di malam hari adalah amalan yang baik untuk menghidupkan hati.
  4. Wudhu yang sempurna adalah kunci untuk shalat yang khusyuk.
  5. Bersikap lembut kepada anak-anak dan mengajarkan mereka adab-adab ibadah adalah bagian dari sunnah Nabi ﷺ.
  6. Shalat sunnah qabliyah Subuh tetap dikerjakan meskipun sudah witir.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?