Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 97 tentang Tiga golongan berhak mendapat dua pahala

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang tiga golongan manusia yang akan mendapatkan dua pahala sekaligus dari Allah ﷻ. Ketiga golongan itu adalah: (1) Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya lalu beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ, (2) budak yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, dan (3) seorang tuan yang mendidik budak wanitanya dengan baik, memerdekakannya, lalu menikahinya. Hadits ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan betapa besarnya ganjaran bagi orang yang menggabungkan dua kebaikan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanad dan matannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Ilm, Bab "Mengajarkan kepada Budak dan Keluarganya", no. 97. Sanadnya: Muhammad bin Salam → Al-Muharibi → Shalih bin Hayyan → Amir Asy-Sya'bi → Abu Burdah → Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taghabun [64]: 9)

Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan yang benar disertai amal saleh akan mendatangkan ganjaran berlipat dari Allah ﷻ.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meletakkan hadits ini dalam Kitab Al-Ilm untuk menunjukkan keutamaan mengajarkan ilmu, termasuk kepada budak dan keluarga.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan disyariatkannya mengajarkan ilmu kepada budak dan keluarga, dan bahwa hal itu termasuk amal yang mulia.
  • Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung keutamaan bagi Ahli Kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan keutamaan mendidik budak serta memerdekakannya lalu menikahinya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Berikut poin-poin pentingnya:

1. Tiga Golongan yang Mendapat Dua Pahala

Pertama: Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya lalu beriman kepada Muhammad ﷺ.

Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, atau yang hidup setelahnya lalu beriman kepada beliau. Mereka mendapat dua pahala: pahala iman kepada nabi mereka (seperti Musa atau Isa 'alaihimas salam) dan pahala iman kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) menjelaskan bahwa orang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya sebelum diutusnya Muhammad ﷺ, kemudian beriman kepada Muhammad ﷺ ketika diutus, maka ia mendapat dua pahala. Adapun orang yang hidup setelah diutusnya Muhammad ﷺ namun tidak beriman kepadanya, maka imannya kepada nabi sebelumnya tidak bermanfaat, karena syariat Nabi Muhammad ﷺ telah menghapus syariat sebelumnya.

Kedua: Budak yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya.

Seorang budak yang shalat, berpuasa, dan beribadah kepada Allah ﷻ, serta taat kepada tuannya dalam hal yang ma'ruf, maka ia mendapat dua pahala: pahala ibadah kepada Allah dan pahala ketaatan kepada tuannya.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hak Allah adalah kewajiban beribadah kepada-Nya, dan hak tuan adalah ketaatan dalam hal yang tidak maksiat kepada Allah. Jika keduanya ditunaikan, maka pahalanya berlipat.

Ketiga: Tuan yang mendidik budak wanitanya, memerdekakannya, lalu menikahinya.

Orang ini mendapat dua pahala: pahala mendidik dan mengajar (karena itu termasuk menuntun kepada kebaikan), dan pahala memerdekakan budak lalu menikahinya (karena pernikahan adalah ibadah dan menjaga kehormatan).

2. Makna "Dua Pahala"

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa "dua pahala" di sini bermakna dua ganjaran yang dikumpulkan bagi satu orang karena dua amal yang berbeda. Ini menunjukkan keutamaan yang besar, karena Allah ﷻ melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang berbuat baik.

3. Pelajaran dari Perkataan Asy-Sya'bi

Di akhir hadits, Amir Asy-Sya'bi berkata: "Kami memberikannya kepadamu tanpa imbalan, padahal sebelumnya orang-orang menempuh perjalanan ke Madinah untuk mendapatkan hadits seperti ini." Ini menunjukkan betapa berharganya ilmu hadits, dan bahwa para ulama salaf sangat menghargai ilmu dan bersedia menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) menjelaskan bahwa ilmu adalah warisan para nabi, dan mencarinya adalah ibadah. Maka seorang muslim hendaknya bersemangat dalam menuntut ilmu dan menghargai majelis-majelis ilmu.

4. Hikmah Mendidik Budak dan Keluarga

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Al-Ilm untuk menunjukkan bahwa mengajarkan ilmu kepada budak dan keluarga adalah bagian dari tugas seorang muslim. Ini juga menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan pendidikan, baik untuk orang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu — yang meriwayatkan hadits ini — adalah salah satu sahabat yang sangat mencintai ilmu dan Al-Qur'an. Beliau pernah berkata: "Barangsiapa yang diberi oleh Allah Al-Qur'an, lalu ia mengamalkannya, maka ia seperti orang yang diberi harta lalu menginfakkannya di jalan Allah."

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ mendengar bacaan Al-Qur'an Abu Musa yang sangat merdu, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya orang ini telah diberi seruling dari seruling-seruling keluarga Daud." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Musa adalah sahabat yang sangat dekat dengan Al-Qur'an dan ilmu. Maka tidak heran jika beliau meriwayatkan hadits tentang keutamaan ilmu dan pendidikan ini. Beliau adalah contoh nyata bahwa orang yang mencintai ilmu akan dimuliakan oleh Allah ﷻ dan dijadikan perantara tersebarnya ilmu kepada umat.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah dalam menuntut ilmu, karena para ulama salaf menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu hadits.
  2. Didiklah keluarga dan orang-orang di bawah tanggungan kita dengan baik, karena itu termasuk amal yang berpahala besar.
  3. Jika memiliki pembantu atau karyawan, perlakukan mereka dengan baik dan ajarkan mereka hal-hal yang bermanfaat, karena itu termasuk akhlak mulia.
  4. Jadilah orang yang menggabungkan banyak kebaikan, seperti beriman, beramal saleh, dan berbuat baik kepada sesama, agar mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
  5. Hargailah ilmu dan majelis ilmu, karena ilmu adalah warisan para nabi yang sangat berharga.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.