Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa tata cara shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang diajarkan Nabi ﷺ adalah mendahulukan shalat terlebih dahulu, baru kemudian khutbah. Ini berbeda dengan shalat Jumat di mana khutbah didahulukan sebelum shalat. Urutan ini merupakan sunnah yang tetap dan tidak boleh diubah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Jumu'ah [62]: 9
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
Ayat ini menunjukkan perintah untuk menghadiri shalat Jumat, namun tidak menyebutkan secara rinci urutan khutbah dan shalat. Urutan tersebut dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi ﷺ.
Hadits Terkait:
Hadits yang Anda sebutkan (HR. Bukhari no. 957) adalah dalil utama dalam bab ini. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat pada hari Idul Adha dan Idul Fitri, kemudian berkhutbah setelah shalat.
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim (no. 888) dan para ulama hadits lainnya.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Al-Bukhari rahimahullah (w. 256 H) meletakkan hadits ini dalam kitabnya "Shahih Al-Bukhari" pada bab khusus yang menunjukkan bahwa shalat Id dilaksanakan tanpa adzan dan iqamah, dan khutbah dilakukan setelah shalat. Ini adalah pemahaman beliau dari hadits tersebut.
Imam An-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan: "Telah sepakat para ulama bahwa disunnahkan khutbah setelah shalat Id, dan ini adalah sunnah yang tetap dari Rasulullah ﷺ." (Lihat: Al-Majmu', 5/15)
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu hadits pokok dalam bab shalat Id. Beberapa poin penting yang dapat dipahami:
- Urutan Shalat dan Khutbah: Inti hadits ini adalah penetapan urutan bahwa shalat Id dilaksanakan terlebih dahulu, baru kemudian khutbah. Ini adalah kebalikan dari shalat Jumat. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah (w. 751 H) dalam kitabnya Zad al-Ma'ad (1/425) menjelaskan hikmah dari perbedaan ini. Beliau mengatakan bahwa shalat Jumat adalah shalat pekanan yang dihadiri banyak orang, sehingga khutbah didahulukan untuk memberi nasihat dan pengajaran. Sedangkan shalat Id hanya dua kali setahun, dan tujuannya adalah untuk menampakkan syiar Islam dan kegembiraan, sehingga shalat didahulukan agar suasana lebih semarak.
- Tidak Ada Adzan dan Iqamah: Judul bab yang dibuat oleh Imam Al-Bukhari menunjukkan bahwa shalat Id tidak disertai adzan dan iqamah. Ini berdasarkan hadits lain dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 885) bahwa ketika shalat Id, tidak ada adzan dan iqamah. Ini adalah kesepakatan para ulama.
- Hukum Khutbah: Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam madzhab (termasuk Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa khutbah Id hukumnya sunnah, bukan wajib. Hal ini karena Nabi ﷺ melakukannya secara konsisten, namun tidak ada perintah tegas yang mewajibkannya. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah (w. 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (1/235) menyebutkan bahwa khutbah Id adalah sunnah yang dianjurkan.
- Isi Khutbah: Khutbah Id biasanya berisi nasihat, takbir, dan pengingat tentang hari raya. Imam Ibn Katsir rahimahullah (w. 774 H) dalam tafsirnya (8/270) ketika menafsirkan QS. Al-A'la [87] yang biasa dibaca Nabi ﷺ pada shalat Id, menjelaskan bahwa khutbah Id berisi pengagungan kepada Allah dan peringatan bagi manusia.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Rasulullah ﷺ biasa keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju tempat shalat (mushalla). Maka hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat. Setelah selesai shalat, beliau berdiri menghadap manusia, sementara mereka tetap duduk di shaf mereka. Lalu beliau memberi nasihat dan perintah kepada mereka." (HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889)
Kisah ini menunjukkan betapa sederhana dan teraturnya ibadah yang diajarkan Nabi ﷺ. Beliau tidak mempersulit, tidak membuat acara yang berlebihan, namun tetap memberikan pengajaran yang bermanfaat bagi umat.
Kesimpulan Praktis
- Ikuti Urutan Sunnah: Dalam shalat Id, dahulukan shalat, baru khutbah. Jangan terbalik.
- Tidak Perlu Adzan dan Iqamah: Shalat Id tidak memerlukan adzan atau iqamah.
- Hadiri Khutbah: Meskipun hukumnya sunnah, sangat dianjurkan untuk mendengarkan khutbah Id karena berisi nasihat dan pengingat.
- Amalkan dengan Ikhlas: Laksanakan ibadah ini dengan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan kebiasaan atau adat semata.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.