Penjelasan Hadits Bukhari No. 953 tentang Makan kurma sebelum shalat Idul Fitri

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan sunnah yang indah: pada Hari Idul Fitri, Nabi ﷺ tidak berangkat ke tempat shalat sebelum makan terlebih dahulu, dan beliau makan kurma dalam jumlah ganjil. Ini berbeda dengan Idul Adha, di mana beliau baru makan setelah shalat. Hikmahnya adalah menegaskan bahwa hari Idul Fitri adalah hari berbuka dan makan, bukan hari puasa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Idain (Kitab Dua Hari Raya), Bab "Makan di Hari Idul Fitri Sebelum Berangkat", no. 953, dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه.

Teks hadits:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

Terjemahan: "Dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ tidak berangkat pada Hari Idul Fitri hingga beliau makan beberapa kurma."

Dalam riwayat lain (masih dalam hadits yang sama):

وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Terjemahan: "Dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil."

Dalil pendukung dari Al-Qur'an tentang perintah menyempurnakan puasa dan bertakbir:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Terjemahan: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini bahwa setelah menyempurnakan puasa Ramadhan, syariat mengajarkan takbir dan syukur, dan di antara bentuk syukur itu adalah makan di pagi Idul Fitri sebagai tanda selesainya ibadah puasa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Sunnah makan sebelum shalat Idul Fitri.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum berangkat pada Idul Fitri adalah untuk menutup pintu bagi anggapan bahwa masih harus berpuasa pada hari itu, karena sebelumnya umat Islam berpuasa sebulan penuh. Sebagian salaf menyebutkan bahwa ini juga bentuk syukur kepada Allah atas selesainya Ramadhan.

Kedua: Perbedaan dengan Idul Adha.

Para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menyatakan bahwa pada Idul Adha disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sampai shalat selesai, karena daging kurban akan dimakan setelahnya. Ini menunjukkan syariat yang penuh hikmah: Idul Fitri adalah hari berbuka, Idul Adha adalah hari menyembelih.

Ketiga: Makan kurma dalam jumlah ganjil.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makan kurma dalam jumlah ganjil (3, 5, 7, dan seterusnya) adalah sunnah yang dianjurkan, karena ganjil memiliki keutamaan dalam syariat, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits lain tentang mencintai yang ganjil.

Keempat: Waktu "ghuduww" (berangkat pagi).

Kata يَغْدُو menunjukkan berangkat di awal pagi menuju tempat shalat. Ini menunjukkan bahwa makan tersebut dilakukan setelah fajar dan sebelum berangkat shalat, bukan sebelumnya di malam hari.

Kelima: Anas bin Malik sebagai perawi.

Anas رضي الله عنه adalah sahabat yang lama melayani Nabi ﷺ dan meriwayatkan banyak hadits. Beliau meriwayatkan hadits ini dengan dua lafaz: pertama dari gurunya, kedua dengan tambahan "witran" (ganjil). Ini menunjukkan ketelitian para perawi dalam menjaga sunnah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Anas bin Malik رضي الله عنه, yang menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, memperhatikan betul kebiasaan-kebiasaan kecil Nabi ﷺ, termasuk apa yang beliau makan di pagi hari raya. Anas tidak hanya menghafal ucapan Nabi, tetapi juga mencatat perilaku beliau dalam kehidupan sehari-hari. Dari perhatiannya inilah umat Islam mengetahui sunnah makan kurma ganjil di pagi Idul Fitri. Para ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak sering mengingatkan bahwa sunnah-sunnah kecil seperti ini adalah tanda kecintaan seorang hamba kepada Nabinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Makanlah sebelum berangkat shalat Idul Fitri, utamanya kurma, dan jika tidak ada, makanan halal lainnya.
  2. Usahakan jumlah ganjil (3, 5, 7) sebagai bentuk ittiba' kepada sunnah.
  3. Bedakan dengan Idul Adha: pada Idul Adha, jangan makan dulu sebelum shalat.
  4. Niatkan sebagai syukur kepada Allah atas selesainya puasa Ramadhan.
  5. Ajarkan kepada keluarga agar sunnah ini hidup di rumah kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?