Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 951 tentang Urutan shalat Idul Adha lalu menyembelih kurban

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa pada Hari Raya Idul Adha, urutan yang sesuai sunnah Nabi ﷺ adalah melaksanakan shalat Id terlebih dahulu, baru kemudian menyembelih hewan kurban. Barangsiapa yang melakukan kurban sebelum shalat Id, maka kurbannya tidak dianggap sah sebagai ibadah kurban Idul Adha, melainkan hanya sebagai daging biasa yang ia sembelih untuk keluarganya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (sebagai ibadah)."

(QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Ayat ini menjadi dasar perintah shalat dan kurban, dan para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah shalat Idul Adha dan menyembelih kurban setelahnya.

Hadits:

Hadits riwayat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, dari Shahih Al-Bukhari no. 951. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ، ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، فَمَنْ فَعَلَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا

"Sesungguhnya pertama kali yang kita mulai pada hari ini adalah kita shalat, kemudian kita kembali dan menyembelih. Maka barangsiapa yang melakukan (sesuai urutan ini), sungguh ia telah tepat mengikuti sunnah kami."

Kaitan dengan Ulama:

Imam Al-Bukhari rahimahullah meletakkan hadits ini dalam Kitab Idul Adha, Bab Sunnah Idul Adha bagi Umat Islam. Ini menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai pedoman sunnah yang harus diikuti.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa shalat Id harus didahulukan sebelum penyembelihan kurban. Beliau juga menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa menyembelih sebelum shalat Id tidak sah sebagai kurban Idul Adha.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat mulia. Beliau mendengar langsung Nabi ﷺ berkhutbah pada hari Idul Adha. Dalam khutbahnya, Nabi ﷺ memberikan arahan yang sangat jelas tentang tata cara yang benar.

Makna Hadits:

Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya pertama kali yang kita mulai pada hari ini adalah kita shalat." Maksudnya, aktivitas ibadah pertama di pagi hari Idul Adha adalah melaksanakan shalat Id berjamaah. Setelah selesai shalat dan khutbah, barulah "kita kembali dan menyembelih." Artinya, pulang ke rumah atau ke tempat penyembelihan untuk melaksanakan kurban.

Kemudian Nabi ﷺ menegaskan: "Maka barangsiapa yang melakukan (sesuai urutan ini), sungguh ia telah tepat mengikuti sunnah kami." Ini adalah jaminan bahwa siapa yang mengikuti urutan ini, ibadahnya sesuai dengan tuntunan Nabi.

Penerapan oleh Ulama:

Para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam mazhab sepakat tentang pentingnya urutan ini.

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam kitabnya Al-Umm menjelaskan bahwa kurban adalah ibadah yang terkait dengan waktu tertentu, yaitu setelah shalat Id. Beliau merujuk pada hadits ini dan juga hadits lain yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

"Barangsiapa menyembelih sebelum shalat, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri (daging biasa). Dan barangsiapa menyembelih setelah shalat, maka sempurnalah ibadahnya dan ia telah tepat mengikuti sunnah kaum muslimin."

(HR. Al-Bukhari no. 968)

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa jika ada orang yang menyembelih sebelum shalat Id, maka kurbannya tidak sah dan ia harus mengulanginya dengan menyembelih hewan lain setelah shalat. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

Hikmah Urutan Ini:

  1. Menunjukkan prioritas ibadah: Shalat adalah ibadah badaniah yang agung, sedangkan kurban adalah ibadah maliah (harta). Mendahulukan shalat mengajarkan bahwa hubungan vertikal dengan Allah lebih utama.
  2. Menjaga kesempurnaan ibadah: Dengan menunggu waktu yang tepat, seorang muslim memastikan kurbannya diterima sebagai ibadah, bukan sekadar tradisi atau kebiasaan.
  3. Kebersamaan umat: Semua muslim melaksanakan shalat bersama, lalu bersama-sama pula menyembelih kurban. Ini memperkuat ukhuwah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Pada hari Idul Adha, Nabi ﷺ berkhutbah di hadapan kami. Beliau bersabda: 'Sesungguhnya pertama kali yang kita mulai pada hari ini adalah kita shalat, kemudian kita kembali dan menyembelih. Maka barangsiapa yang melakukan (sesuai urutan ini), sungguh ia telah tepat mengikuti sunnah kami.'

Kemudian datanglah pamanku, Abu Burdah bin Niyar, dan ia telah menyembelih kurbannya sebelum shalat. Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: 'Kambingmu hanyalah daging biasa (bukan kurban).' Maka Abu Burdah berkata: 'Wahai Rasulullah, aku memiliki kambing yang lebih baik dari ini, bolehkah aku menjadikannya sebagai kurban?' Nabi ﷺ bersabda: 'Ya, dan itu lebih baik bagimu. Namun ketahuilah, kambingmu yang pertama tidak sah sebagai kurban bagimu.'"

(HR. Al-Bukhari no. 951 dan Muslim no. 1961)

Hikmah dari Kisah Ini:

Abu Burdah adalah seorang sahabat yang mulia. Ia menyembelih kurbannya lebih awal karena mungkin ia tidak tahu atau lupa. Namun Nabi ﷺ tetap mengingatkannya dengan lembut dan memberikan solusi. Ini menunjukkan bahwa ilmu harus didahulukan sebelum beramal. Juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat perhatian terhadap kesempurnaan ibadah umatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Utamakan shalat Id terlebih dahulu sebelum menyembelih kurban. Jangan terbalik urutannya.
  2. Jika seseorang menyembelih sebelum shalat Id, maka kurbannya tidak sah sebagai kurban Idul Adha. Ia harus menyembelih lagi setelah shalat.
  3. Waktu penyembelihan kurban dimulai setelah shalat Id dan berakhir hingga terbenam matahari pada hari tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah).
  4. Pelajari tata cara ibadah sebelum melaksanakannya agar tidak sia-sia. Jangan malu bertanya kepada ulama atau orang yang berilmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.