Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 947 tentang Bab Menyegerakan dan Shalat di Waktu Subuh serta Shalat Saat Penyerangan dan Perang

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan bahwa Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat Subuh di waktu yang masih gelap (ghalas), kemudian langsung berangkat menyerang Khaibar. Beliau mengucapkan takbir dan kalimat peringatan kepada musuh, lalu pasukan Muslim mengalahkan mereka. Dari peristiwa ini, kita juga belajar tentang pernikahan beliau dengan Shafiyah binti Huyay yang maharnya adalah pembebasannya. Inti dari hadits ini menunjukkan sunnahnya menyegerakan shalat Subuh di awal waktu (ghalas) dan gambaran semangat jihad di jalan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

  • Al-Qur’an – Allah Ta’ala berfirman:

> {الْمُنَافِقُونَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ ۚ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا}

> QS. An-Nisa’ [4]: 142

> Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang munafik menipu Allah, dan Allah membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia, dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” Ayat ini menunjukkan pentingnya shalat dengan kesungguhan, seperti yang dicontohkan Nabi ﷺ.

  • Hadits – Riwayat yang sama dari Anas bin Malik dalam Shahih al-Bukhari no. 947 di atas. Juga dikuatkan oleh hadits riwayat Muslim dari Jabir bin Samurah bahwa Nabi ﷺ shalat Subuh ketika masih gelap (ghalas). Dalam riwayat lain, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wanita-wanita mukminat pergi shalat Subuh bersama Rasulullah ﷺ dengan berselimut kain, lalu mereka kembali dalam keadaan tidak saling mengenal karena gelap.” (HR al-Bukhari no. 867, Muslim no. 645).
  • Penjelasan Ulama – Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam “Kitab Shalat Khauf”, namun isinya juga menjelaskan waktu shalat Subuh dan kisah penaklukan. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (2: 29) menjelaskan bahwa maksud “ghalas” adalah gelap di ujung malam, yaitu waktu sahur yang masih pekat, dan beliau menyebutkan bahwa para ulama salaf (seperti Al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin) menganjurkan menyegerakan shalat Subuh di awal waktu (ghalas). Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim (5: 103) juga menguatkan bahwa waktu Subuh yang utama adalah di awal waktu (ghalas) selama masih diyakini masuk waktu Subuh.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang banyak meriwayatkan tentang ibadah dan peperangan Nabi ﷺ. Berikut penjelasan rincinya:

1. Shalat Subuh di Waktu Ghalas (gelap)

Nabi ﷺ melaksanakan shalat Subuh “bi ghalas” yaitu ketika masih gelap, di waktu sahur yang masih pekat. Ini menunjukkan sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) untuk menyegerakan shalat Subuh di awal waktunya. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah bahwasannya wanita-wanita pulang dari shalat Subuh dalam keadaan tidak saling mengenal karena gelap. Para ulama dari kalangan salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, dan Atha’ bin Abi Rabah – yang semuanya termasuk dalam daftar rujukan kita – menegaskan bahwa menyegerakan shalat Subuh adalah lebih afdhal, karena menunjukkan keaktifan dan semangat dalam ibadah. Namun jika ada udzur seperti hujan atau gelap yang sangat pekat hingga sulit melihat, boleh ditunda sedikit. Yang penting adalah tetap pada waktu Subuh yang sah (sejak terbit fajar shadiq hingga terbit matahari). Secara umum, para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa shalat Subuh di awal waktu (ghalas) lebih utama berdasarkan banyak hadits.

2. Takbir dan Peperangan Khaibar

Setelah shalat, Nabi langsung naik kendaraan dan menuju Khaibar. Beliau mengucapkan “Allahu Akbar, Khaibar telah hancur” lalu menyitir ayat: “Jika kami tiba di halaman suatu kaum, maka pagi yang buruk bagi orang-orang yang telah diberi peringatan.” Ucapan ini adalah doa sekaligus ancaman kepada musuh. Mereka keluar dengan ketakutan, berteriak “Muhammad dan pasukan (al-Khamis) datang!” Lalu terjadilah penaklukan Khaibar. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ibadah (shalat) tidak menghalangi jihad, bahkan shalat adalah kekuatan rohani bagi kaum muslimin.

3. Kisah Shafiyah binti Huyay

Setelah penaklukan, Shafiyah – putri pemimpin Yahudi Bani Nadir – menjadi tawanan perang. Awalnya ia menjadi bagian dari Dihyah al-Kalbi, lalu Rasulullah ﷺ mengambilnya dan membebaskannya, kemudian menikahinya. Mahar pernikahan beliau adalah pembebasan (i’tquha). Ini menunjukkan kemuliaan akhlak Nabi, bahwa beliau tidak memperlakukan tawanan dengan semena-mena, bahkan mengangkat martabat Shafiyah dengan menjadikannya Ummul Mukminin. Para ulama seperti Ibnu Hajar mencatat bahwa pernikahan ini juga mengandung hikmah dakwah, yaitu mendekatkan hati orang-orang yang baru masuk Islam atau yang masih ragu.

4. Pelajaran dari Hadits

  • Shalat Subuh di awal waktu sangat dianjurkan.
  • Semangat jihad dan tawakkal kepada Allah setelah beribadah.
  • Tidak boleh meremehkan waktu shalat meskipun dalam keadaan perang.
  • Akhlak mulia Rasulullah dalam memperlakukan tawanan dan menikahi Shafiyah dengan mahar yang mulia.

Story Telling

Dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu (sebagaimana dalam hadits ini) bahwa suatu pagi, Nabi ﷺ shalat Subuh di waktu yang masih gelap, kemudian beliau segera berangkat menuju Khaibar. Beliau berjalan dengan tenang namun penuh wibawa. Ketika sampai di perkampungan Khaibar, beliau mengucapkan takbir dan kalimat peringatan yang membuat musuh gemetar. Mereka berkata satu sama lain, “Itu Muhammad! Berikut pasukan!”. Peristiwa ini menunjukkan keberkahan shalat Subuh berjamaah. Para sahabat selalu bersemangat menghadiri shalat Subuh di masjid, bahkan dalam kondisi dingin dan gelap, karena mereka tahu bahwa setelah shalat Subuh ada keberkahan dan pertolongan Allah.

Hikmah yang bisa kita ambil: jangan pernah menunda shalat Subuh. Rasulullah ﷺ sendiri menyegerakannya dan kemudian mendapatkan kemenangan. Semoga kita dimudahkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Segeralah shalat Subuh di awal waktu. Ajak keluarga dan kerabat untuk melaksanakannya berjamaah di masjid.
  2. Manfaatkan waktu setelah shalat Subuh untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau berdoa. Waktu ini penuh keberkahan.
  3. Jadikan shalat Subuh sebagai sarana untuk memohon kekuatan dalam menjalani hari, termasuk dalam aktivitas dakwah dan mencari nafkah.
  4. Teladani sikap Rasulullah yang menggabungkan ibadah dan jihad (kesungguhan) dalam ketaatan.
  5. Jangan meremehkan pernikahan dan perlakuan mulia terhadap sesama manusia, sebagaimana Nabi memperlakukan Shafiyah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.