Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 918 tentang Bab Khutbah di Atas Mimbar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan mukjizat nyata Nabi ﷺ ketika batang pohon kurma yang biasa dijadikan tempat beliau berkhutbah menangis setelah digantikan oleh mimbar. Peristiwa ini mengajarkan kita tentang kepekaan makhluk terhadap kehadiran dan dakwah Nabi, serta bahwa segala sesuatu bertasbih kepada Allah. Kita pun harus menghormati sarana ibadah dan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an (QS. Al-Isra' [17]: 44) menguatkan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah, termasuk benda mati seperti pohon:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."

Hadits riwayat al-Bukhari nomor 918:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَنَسٍ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كَانَ جِذْعٌ يَقُومُ إِلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ فَلَمَّا وُضِعَ لَهُ الْمِنْبَرُ سَمِعْنَا لِلْجِذْعِ مِثْلَ أَصْوَاتِ الْعِشَارِ حَتَّى نَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ.

Makna singkat: Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma berkata, "Nabi ﷺ biasa berdiri di samping batang pohon kurma (saat berkhutbah). Ketika mimbar diletakkan untuk beliau, kami mendengar batang kurma itu menangis seperti suara unta betina yang sedang bunting, hingga Nabi ﷺ turun dan meletakkan tangannya di atasnya." (HR. al-Bukhari, Kitab al-Jumu'ah, Bab al-Khutbah 'ala al-Minbar)

Penjelasan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (2/348) menjelaskan bahwa batang kurma itu menangis karena sedih ditinggalkan oleh Nabi ﷺ setelah beliau beralih ke mimbar. Ini adalah mukjizat nyata yang menunjukkan bahwa benda mati pun dapat merasakan dan bertasbih, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Isra' ayat 44. Beliau juga meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa pohon itu merintih "seperti rintihan anak kecil".

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (6/108) menambahkan bahwa tangisan itu adalah suara tangisan pilu yang terdengar jelas oleh para sahabat. Peristiwa ini termasuk dalil bahwa Allah memberikan pemahaman kepada makhluk di luar kebiasaan, sebagai penguat kerasulan Muhammad ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari jalur Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma. Sebelum dibangun masjid Nabawi, Nabi ﷺ biasa berkhutbah dengan bersandar pada batang pohon kurma yang disebut jiz'. Ketika masjid diperluas dan dibuatkan mimbar tiga tingkat, beliau beralih ke mimbar. Seketika batang kurma itu mengeluarkan suara tangisan nyaring bagaikan suara unta betina yang sedang melahirkan, hingga seluruh jamaah mendengarnya. Nabi ﷺ turun, memeluk batang tersebut dengan tangannya, lalu suara itu berhenti.

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah (seperti al-Bukhari, Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibn Katsir) memahami peristiwa ini sebagai mukjizat hissi (fisik) yang nyata dan tidak perlu ditakwilkan. Ini sekaligus membantah mereka yang mengingkari kemungkinan benda mati merasakan dan berbicara. Allah Maha Kuasa memberikan sifat-sifat tertentu kepada makhluk di luar kebiasaan-Nya.

Al-Hasan al-Bashri, seorang tabi'in besar, menyebutkan bahwa batang kurma itu menangis seperti tangisan anak kecil yang kehilangan ibunya. Fudail bin 'Iyadh menekankan bahwa peristiwa ini mengajarkan kita betapa rindunya makhluk kepada Nabi, dan seharusnya hati manusia lebih peka lagi terhadap petunjuk beliau.

Beberapa pelajaran penting dari hadits ini menurut Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari bi Syarh al-Bukhari (an-Nawawi dan Ibn Rajab sepakat):

  1. Keutamaan dan kemuliaan Nabi ﷺ di sisi Allah, sehingga makhluk pun merindukannya.
  2. Disunnahkannya khatib berdiri di atas mimbar dan menghadap jamaah (pendapat mayoritas ulama, termasuk Imam Ahmad dan asy-Syafi'i).
  3. Menjaga perasaan makhluk dan tidak memutuskan hubungan baik dengan yang pernah bermanfaat, sebagaimana Nabi ﷺ menyentuh dan menenangkan batang kurma.

Story Telling

Suatu hari di masjid Nabawi, para sahabat menyaksikan pemandangan yang mengharukan. Ketika Nabi ﷺ naik mimbar untuk pertama kalinya, tiba-tiba terdengar suara rintihan pilu dari batang pohon kurma yang biasa menjadi tempat beliau bersandar. Suara itu seperti suara unta betina yang ditinggalkan anaknya. Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan, dan seluruh sahabat menangis haru. Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, "Demi Allah, sungguh pohon ini merindukan Rasulullah sebagaimana seorang bapak merindukan anaknya."

Nabi ﷺ segera turun, mendekati batang kurma itu, dan meletakkan tangannya di atasnya sambil bersabda, "Jika engkau mau, aku akan mengembalikan engkau ke tempatmu semula, atau aku bisa memindahkanmu ke surga sehingga engkau akan berbuah dan dimakan oleh para wali Allah." Batang itu memilih surga. Kemudian diamlah ia. (Riwayat lain menyebutkan bahwa batang tersebut dipendam di bawah mimbar, lalu keluar tunas baru sebagai tanda kehidupan).

Dari kisah ini, kita belajar bagaimana makhluk yang tidak berakal pun merasakan cinta kepada Rasulullah. Maka orang beriman semestinya lebih dahulu mencintai beliau, mengikuti sunnah, dan menjaga adab terhadap setiap sarana yang membawa kebaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Mukjizat Nabi ﷺ adalah nyata – Batang kurma menangis sebagai bukti kerasulan, bukan mitos atau karangan.
  2. Segala makhluk bertasbih – Kita diperintahkan untuk merenungkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.
  3. Cinta kepada Nabi ﷺ harus lebih utama – Jika pohon saja rindu kepada beliau, maka kita sebagai manusia seharusnya lebih rindu lagi dengan mempelajari dan mengamalkan sunnah.
  4. Adab terhadap mimbar dan masjid – Mimbar adalah tempat mulia untuk menyampaikan khotbah, maka tinggikanlah kemuliaannya dengan menjaga kesucian dan kehormatan masjid.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.