Penjelasan Hadits Bukhari No. 855 tentang Larangan makan bawang sebelum masuk masjid

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab penting dalam Islam: menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat ibadah serta tidak mengganggu orang lain, terutama para malaikat dan jamaah lain, dengan bau yang tidak sedap dari makanan seperti bawang putih dan bawang merah. Ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya dan penghormatan terhadap masjid sebagai rumah Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan) adalah riwayat dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Masajid.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

"Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.'" (QS. At-Taubah [9]: 105)

Ayat ini menunjukkan bahwa amal seorang mukmin disaksikan oleh Allah, Rasul-Nya, dan para malaikat serta orang-orang beriman. Maka menjaga adab di hadapan mereka, termasuk tidak mengganggu dengan bau tidak sedap, adalah bagian dari ketakwaan.

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan masuk masjid bagi orang yang makan bawang putih atau bawang merah mentah, karena baunya dapat mengganggu jamaah dan malaikat. Beliau menukil pendapat para ulama bahwa larangan ini bersifat makruh (tidak haram), namun jika baunya sangat menyengat hingga mengganggu, maka lebih utama untuk tidak masuk masjid sampai baunya hilang.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in telah memahami hadits ini dengan baik. Di antaranya:

  1. Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) — beliau adalah salah satu perawi dalam sanad hadits ini. Beliau termasuk ulama besar tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Dalam riwayat ini, beliau meragukan apakah kisah tentang panci sayuran itu bagian dari hadits Nabi ﷺ atau hanya perkataan beliau sendiri. Ini menunjukkan kehati-hatian ulama dalam memisahkan hadits Nabi ﷺ dari perkataan perawi.
  2. Imam Al-Bukhari — beliau menempatkan hadits ini dalam "Kitab Adzan" pada bab tentang bawang putih, bawang merah, dan kucai. Ini menunjukkan bahwa masalah ini berkaitan dengan shalat berjamaah di masjid, karena adzan adalah panggilan untuk berkumpul di masjid.
  3. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hikmah larangan ini: masjid adalah tempat ibadah dan dzikir, tempat para malaikat turun membawa rahmat. Bau yang tidak sedap akan mengganggu konsentrasi jamaah dan menghalangi kehadiran malaikat.
  4. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini bersifat makruh tanzih (sebaiknya dihindari), bukan haram. Namun jika seseorang tetap memakannya, ia boleh shalat di rumah atau menunggu sampai baunya hilang.
  5. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kebersihan dan kenyamanan bersama. Beliau juga menegaskan bahwa jika bawang tersebut dimasak hingga hilang baunya, maka tidak mengapa memakannya dan masuk masjid.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  • Menjaga kebersihan dan kenyamanan tempat ibadah adalah bagian dari iman.
  • Tidak boleh mengganggu orang lain, baik dengan bau, suara, maupun perilaku.
  • Nabi ﷺ sendiri memberikan teladan: ketika beliau tidak makan bawang karena berinteraksi dengan malaikat, beliau tetap mempersilakan sahabatnya untuk memakannya. Ini menunjukkan kelembutan dan tidak memaksakan kesulitan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, dalam khutbahnya, pernah bersabda: "Wahai manusia, kalian makan dua tanaman ini yang menurutku baunya tidak sedap — yaitu bawang putih dan bawang merah. Sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ, jika mencium baunya dari seseorang di masjid, beliau memerintahkan orang itu untuk dibawa keluar ke Baqi' (pemakaman). Maka barangsiapa yang ingin memakannya, hendaklah ia mematangkannya dengan dimasak." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga adab di masjid. Mereka tidak merasa berat untuk ditegur, bahkan Umar sendiri yang memberikan nasihat dengan tegas namun penuh kasih sayang. Ini adalah teladan bagi kita: ketika ditegur karena kesalahan, hendaknya kita menerima dengan lapang dada dan memperbaiki diri.

Kesimpulan Praktis

  1. Hindari makan bawang putih/bawang merah mentah sebelum pergi ke masjid, karena dapat mengganggu jamaah dan malaikat.
  2. Jika ingin memakannya, masaklah terlebih dahulu hingga baunya hilang atau berkurang, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Umar.
  3. Jika baunya masih menyengat, lebih utama shalat di rumah atau menunggu hingga baunya hilang.
  4. Jaga kebersihan diri dan tempat ibadah sebagai bentuk penghormatan kepada rumah Allah dan kenyamanan sesama muslim.
  5. Teladani kelembutan Nabi ﷺ — beliau tidak memaksa, tetapi memberi pilihan dengan bijak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?