Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu tanda kenabian yang sangat penting. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa menjelang akhir zaman, ilmu agama akan diangkat (dengan wafatnya para ulama), kebodohan dan fitnah akan merebak, dan yang dimaksud dengan "al-harj" adalah pembunuhan besar-besaran. Ini adalah peringatan bagi kita untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu selagi masih ada ulama, dan untuk berlindung kepada Allah dari fitnah akhir zaman.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-'Ilm (Kitab Ilmu), Bab "Man Ajaba bi Isyaratil Yad" (Bab Siapa yang Menjawab Fatwa dengan Isyarat Tangan dan Kepala), no. 85, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ سَالِمٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "يُقْبَضُ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ وَالْفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ". قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْهَرْجُ؟ فَقَالَ: "هَكَذَا بِيَدِهِ، فَحَرَّفَهَا، كَأَنَّهُ يُرِيدُ الْقَتْلَ".
Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Ilmu akan diangkat, kebodohan dan fitnah akan muncul, dan al-harj akan banyak." Ditanyakan, "Apa itu al-harj, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab dengan isyarat tangannya, beliau memiringkannya, seolah-olah beliau mengisyaratkan pembunuhan.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
QS. Fathir [35]: 28
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
Ayat ini menunjukkan kedudukan mulia para ulama, dan wafatnya mereka adalah hilangnya cahaya ilmu dari tengah-tengah umat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung kabar ghaib yang terbukti terjadi. Mari kita rinci maknanya:
- "Ilmu akan diangkat" (يُقْبَضُ الْعِلْمُ): Yang dimaksud di sini adalah ilmu agama yang bermanfaat. Para ulama menjelaskan bahwa ilmu diangkat bukan dengan cara dihilangkan dari dada para penghafalnya secara langsung, tetapi dengan wafatnya para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ketika para ulama wafat, maka manusia akan mengambil ilmu dari orang-orang yang tidak berilmu, sehingga mereka berfatwa tanpa ilmu, sesat dan menyesatkan. Ini adalah awal dari segala keburukan.
- "Kebodohan dan fitnah akan muncul" (وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ وَالْفِتَنُ): Kebodohan di sini adalah kebodohan dalam urusan agama, bukan kebodohan duniawi. Fitnah adalah ujian dan cobaan yang menimpa umat, bisa berupa syubhat (kekaburan dalam agama) dan syahwat (hawa nafsu). Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa fitnah syubhat merusak ilmu dan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat merusak niat dan amal.
- "Al-Harj" (الْهَرْجُ): Ini adalah kata yang asing bagi para sahabat, sehingga mereka bertanya. Rasulullah ﷺ menjawab dengan isyarat tangan yang dimiringkan, seolah-olah sedang memenggal atau membunuh. Ini adalah penjelasan yang sangat jelas bahwa al-harj adalah pembunuhan. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan Al-Khaththabi bahwa al-harj adalah pembunuhan yang banyak dan meluas, sehingga orang yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama tidak tahu alasan yang jelas.
Pelajaran dari Isyarat Nabi ﷺ:
Hadits ini juga menunjukkan bolehnya menjawab pertanyaan dengan isyarat, sebagaimana judul bab dalam Shahih Al-Bukhari. Ini adalah bentuk kefasihan dan hikmah dalam menyampaikan ilmu. Beliau tidak hanya mengucapkan kata "pembunuhan", tetapi juga memperagakannya dengan tangan agar lebih mudah dipahami dan lebih membekas di hati para sahabat.
Story Telling
Suatu hari, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan hadits ini. Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits karena kecintaannya yang luar biasa kepada Rasulullah ﷺ dan kesungguhannya dalam menghafal.
Dikisahkan bahwa Abu Hurairah pernah berkata, "Sesungguhnya aku membagi ilmunya menjadi dua bagian. Bagian yang pertama telah kusebarkan, dan bagian yang kedua seandainya kusebarkan, niscaya ada yang memenggal leherku." Ini menunjukkan bahwa di antara ilmu itu ada yang hanya layak disampaikan kepada orang-orang tertentu, karena tidak semua orang mampu memikulnya.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa ilmu adalah amanah yang sangat besar. Para sahabat sangat menjaga ilmu dan menyebarkannya dengan penuh kehati-hatian dan hikmah. Mereka khawatir jika ilmu disampaikan kepada orang yang tidak layak, maka akan terjadi fitnah yang lebih besar.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits yang agung ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:
- Bersemangatlah menuntut ilmu agama selagi masih ada ulama yang bisa diambil ilmunya. Jangan menunda-nunda, karena kita tidak tahu kapan ulama akan wafat dan ilmu akan diangkat.
- Berhati-hatilah terhadap fitnah, baik itu fitnah syubhat (kerancuan pemikiran) maupun fitnah syahwat (hawa nafsu). Perbanyaklah bergaul dengan orang-orang shalih dan menuntut ilmu dari sumber yang benar.
- Jauhilah segala bentuk pembunuhan dan kekerasan yang tidak dibenarkan syariat. Islam sangat menjaga jiwa manusia, dan pembunuhan adalah dosa besar yang akan menjadi sebab kehancuran umat.
- Menjadi pribadi yang bermanfaat, dengan menyebarkan ilmu yang benar dan mengamalkannya, agar kita tidak termasuk orang-orang yang menambah kebodohan di muka bumi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.