Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 835 tentang Larangan salam kepada Allah dan tuntunan bacaan tasyahhud

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita lafaz tasyahhud yang benar dan sekaligus menjadi dalil bahwa setelah tasyahhud, seorang muslim boleh berdoa dengan doa apa pun yang ia sukai untuk kebaikan dunia dan akhirat. Hadits ini juga melarang kita mengucapkan salam kepada Allah, karena Allah adalah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan) dan tidak butuh salam dari makhluk-Nya. Ini adalah salah satu hadits pokok dalam bab doa setelah tasyahhud.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adzan, Bab "Doa yang Diperbolehkan Setelah Tasyahhud dan Tidak Wajib", no. 835. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Masajid wa Mawadhi' ash-Shalah, no. 402, dari jalur yang sama.

Teks Hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنِ الأَعْمَشِ، حَدَّثَنِي شَقِيقٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ كُنَّا إِذَا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي الصَّلاَةِ قُلْنَا السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ مِنْ عِبَادِهِ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ " لاَ تَقُولُوا السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ. فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلاَمُ، وَلَكِنْ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ. فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمْ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ فِي السَّمَاءِ أَوْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو "

Terjemahan: Dari Abdullah (Ibnu Mas'ud) radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Ketika kami shalat bersama Nabi ﷺ, kami biasa mengucapkan, 'Salam sejahtera bagi Allah dari hamba-hamba-Nya, salam sejahtera bagi si Fulan dan si Fulan.' Maka Nabi ﷺ bersabda, 'Janganlah kalian mengucapkan salam sejahtera bagi Allah, karena Dia sendiri adalah As-Salam. Akan tetapi ucapkanlah: At-tahiyyatu lillahi was-shalawatu wat-thayyibat, as-salamu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh, as-salamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahish-shalihin — jika kalian mengucapkan ini, maka ia akan mengenai (sampai kepada) setiap hamba yang shalih di langit atau antara langit dan bumi. Asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Kemudian hendaklah ia memilih doa yang paling ia sukai, lalu berdoa dengannya.'"

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini menjadi landasan utama bagi para ulama dalam masalah tasyahhud dan doa setelahnya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan panjang lebar tentang faedah hadits ini, termasuk bahwa lafaz tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Ibnu Mas'ud ini adalah salah satu riwayat yang paling shahih. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Syarh Shahih Muslim juga menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa berdoa setelah tasyahhud sebelum salam adalah perkara yang disunnahkan, dan tidak ada doa tertentu yang diwajibkan.

Penjelasan Rinci

1. Larangan Mengucapkan "Salam kepada Allah"

Pada masa awal Islam, para sahabat terbiasa mengucapkan salam kepada Allah dan kepada sesama manusia dalam shalat, seperti "Assalamu 'alallah" atau "Assalamu 'ala fulan." Maka Nabi ﷺ melarang hal ini dengan sabdanya: "Janganlah kalian mengucapkan salam sejahtera bagi Allah, karena Dia sendiri adalah As-Salam."

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa makna "Allah adalah As-Salam" adalah Allah Maha Selamat dari segala kekurangan, aib, dan cacat. Allah tidak butuh salam dari makhluk-Nya, justru Allahlah yang memberi keselamatan kepada hamba-hamba-Nya. Maka mengucapkan salam kepada Allah adalah bentuk ketidaktahuan akan keagungan-Nya, karena salam itu diberikan kepada yang setara atau yang lebih rendah, sedangkan Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dari segala kekurangan.

2. Lafaz Tasyahhud yang Diajarkan

Nabi ﷺ kemudian mengajarkan lafaz yang benar:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

"Segala penghormatan, shalawat (doa), dan kebaikan adalah milik Allah. Semoga salam sejahtera, rahmat Allah, dan berkah-Nya tercurah kepadamu, wahai Nabi. Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih."

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa lafaz ini mengandung makna yang sangat dalam: kita mengakui bahwa segala bentuk penghormatan dan ibadah hanyalah milik Allah, lalu kita mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk penghormatan, dan kemudian mendoakan keselamatan untuk diri kita dan seluruh hamba Allah yang shalih.

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ketika seorang muslim mengucapkan "Assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahish-shalihin," maka salam itu akan sampai kepada setiap hamba yang shalih di langit dan di bumi — termasuk para malaikat dan seluruh hamba Allah yang shalih. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan persaudaraan dalam Islam.

3. Doa Setelah Tasyahhud

Bagian terpenting dari hadits ini adalah sabda Nabi ﷺ di akhir: "Kemudian hendaklah ia memilih doa yang paling ia sukai, lalu berdoa dengannya."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ungkapan ini menunjukkan kebolehan dan anjuran berdoa setelah tasyahhud sebelum salam, dan tidak ada batasan doa tertentu yang diwajibkan. Seorang muslim bebas memilih doa apa pun yang ia anggap baik untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menegaskan bahwa doa setelah tasyahhud sebelum salam adalah sunnah yang dianjurkan, dan ini adalah waktu yang mustajab. Beliau menganjurkan untuk memperbanyak doa pada saat ini, terutama doa-doa yang ma'tsur (diajarkan Nabi ﷺ) seperti doa perlindungan dari azab kubur, fitnah Dajjal, fitnah hidup dan mati, serta doa-doa kebaikan lainnya.

4. Apakah Doa Setelah Tasyahhud Wajib?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum doa setelah tasyahhud:

  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa berdoa setelah tasyahhud adalah sunnah, bukan wajib. Ini berdasarkan hadits ini yang menggunakan kata "فَلْيَتَخَيَّرْ" (hendaklah ia memilih) yang menunjukkan anjuran, bukan perintah wajib.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa doa setelah tasyahhud tidak disyariatkan secara khusus, dan yang wajib hanyalah tasyahhud itu sendiri. Namun pendapat yang lebih kuat menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shifat Shalah an-Nabi adalah bahwa doa setelah tasyahhud adalah sunnah yang dianjurkan, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti' menjelaskan bahwa meskipun doa setelah tasyahhud tidak wajib, namun meninggalkannya berarti kehilangan keutamaan yang besar, karena ini adalah salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa.

Story Telling

Kisah Ibnu Mas'ud dan Pengajaran Tasyahhud:

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Suatu ketika, Nabi ﷺ mengajarkan kepadanya tasyahhud secara langsung. Ibnu Mas'ud berkata: "Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadaku tasyahhud — sementara telapak tanganku berada di antara kedua telapak tangan beliau — sebagaimana beliau mengajarkan kepadaku surat dari Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Ibnu Mas'ud berkata: "Nabi ﷺ mengajarkan kami tasyahhud sebagaimana beliau mengajarkan kami surat dari Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari, no. 6265).

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya tasyahhud dalam shalat, sehingga Nabi ﷺ mengajarkannya dengan penuh perhatian, seperti mengajarkan Al-Qur'an. Dan dalam hadits yang kita bahas ini, Ibnu Mas'ud menceritakan bagaimana Nabi ﷺ mengoreksi kesalahan para sahabat dalam tasyahhud, lalu mengajarkan lafaz yang benar, dan kemudian membuka pintu doa seluas-luasnya setelah tasyahhud.

Hikmah: Dari kisah ini kita belajar bahwa ilmu agama harus dipelajari dengan teliti, dan ketika ada kesalahan dalam ibadah, kita harus mau menerima koreksi dengan lapang dada. Para sahabat tidak merasa tersinggung ketika Nabi ﷺ meluruskan ucapan mereka, justru mereka bersyukur karena mendapatkan ilmu yang benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Lafaz tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Ibnu Mas'ud adalah lafaz yang paling shahih dan paling utama untuk dibaca dalam shalat.
  2. Jangan mengucapkan salam kepada Allah dalam bentuk apa pun, karena Allah adalah As-Salam dan Maha Suci dari segala kekurangan.
  3. Setelah tasyahhud, dianjurkan berdoa dengan doa apa pun yang kita sukai untuk kebaikan dunia dan akhirat, karena ini adalah waktu yang mustajab.
  4. Doa setelah tasyahhud tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan. Meninggalkannya berarti kehilangan keutamaan yang besar.
  5. Perbanyaklah doa-doa ma'tsur yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti doa perlindungan dari azab kubur, fitnah Dajjal, dan fitnah hidup dan mati.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.