Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ketika duduk tasyahud di akhir shalat, kita tidak boleh mengucapkan salam kepada makhluk tertentu (seperti Jibril, Mikail, atau orang tertentu), karena Allah sendiri adalah As-Salam (Sumber segala keselamatan). Sebagai gantinya, Nabi ﷺ mengajarkan lafaz tasyahud yang benar, yang di dalamnya terkandung tauhid, pujian kepada Allah, salam kepada Nabi, dan doa untuk seluruh hamba Allah yang saleh di langit dan bumi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adzan, Bab Tasyahud di Akhir Shalat, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang disebutkan:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ، فَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
"Sesungguhnya Allah adalah As-Salam. Maka jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah ia mengucapkan: At-Tahiyyatu lillahi wash-shalawatu wath-thayyibat, as-salamu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh, as-salamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahish-shalihin."
Hadits ini juga memiliki riwayat lain yang semakna dalam Shahih Muslim dari Ibnu Mas'ud, dan Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa lafaz tasyahud ini adalah yang paling shahih dan paling utama di antara lafaz-lafaz tasyahud lainnya.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan nama Allah "As-Salam":
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
QS. Al-Hasyr [59]: 23
"Dialah Allah yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera (As-Salam), Yang Memberi Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."
Penjelasan Rinci
Latar belakang hadits:
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa dahulu para sahabat dalam shalat mengucapkan salam kepada Jibril, Mikail, dan kepada fulan dan fulan. Ini menunjukkan bahwa mereka ingin memuliakan makhluk-makhluk mulia. Namun Nabi ﷺ mengoreksi mereka, karena dalam tasyahud — yang merupakan bagian dari ibadah shalat — tidak boleh ada penghambaan atau permohonan yang ditujukan kepada selain Allah.
Makna "Allah adalah As-Salam":
Imam Ibnul Qayyim dalam Badai'ul Fawaid menjelaskan bahwa "As-Salam" mengandung dua makna: (1) Allah Maha Suci dari segala kekurangan dan aib, dan (2) Allah adalah sumber segala keselamatan dan keamanan. Karena itu, salam (keselamatan) hanya boleh dimohonkan kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Lafaz tasyahud yang diajarkan:
- التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ — Segala penghormatan hanya milik Allah. Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "tahiyyat" berarti penghormatan yang biasanya diberikan kepada raja, namun di sini hanya ditujukan kepada Allah.
- وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ — Segala doa dan kebaikan hanya milik Allah. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa "shalawat" di sini bermakna doa, dan "thayyibat" bermakna segala perkataan dan perbuatan yang baik.
- السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ — Salam kepada Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa meskipun Nabi ﷺ sudah wafat, salam ini tetap diucapkan dan sampai kepada beliau, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa Allah mengembalikan ruh Nabi untuk menjawab salam umatnya.
- السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ — Salam untuk diri sendiri dan seluruh hamba Allah yang saleh. Nabi ﷺ menjelaskan: "Jika kalian mengucapkannya, maka itu akan sampai kepada setiap hamba Allah yang saleh di langit dan di bumi." Ini menunjukkan betapa luasnya doa ini — mencakup para nabi, malaikat, orang-orang beriman, dan seluruh hamba saleh.
- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ — Dua kalimat syahadat, yang merupakan inti tauhid.
Pendapat ulama tentang lafaz tasyahud:
Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Malik memiliki riwayat lafaz tasyahud yang berbeda-beda, namun semuanya shahih. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menyebutkan bahwa lafaz tasyahud Ibnu Mas'ud ini adalah yang paling shahih dan paling banyak digunakan oleh para ulama. Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya menyatakan bahwa hadits Ibnu Mas'ud ini adalah hadits paling shahih dalam bab tasyahud, dan sebagian ulama seperti Ishaq bin Rahuyah memilih lafaz ini.
Hikmah larangan mengucapkan salam kepada makhluk tertentu:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa shalat adalah murni untuk Allah, sehingga tidak boleh dicampuri dengan penghormatan kepada makhluk. Ini adalah bentuk penjagaan tauhid dan menjauhi syirik, meskipun dalam bentuk yang halus.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling mengetahui cara shalat beliau. Ia pernah berkata: "Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang shalat Rasulullah ﷺ." Ketika Nabi ﷺ mengoreksi mereka tentang tasyahud, Ibnu Mas'ud langsung menerima dan meriwayatkan lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ kepada umat Islam hingga hari ini.
Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang sangat kuat: Abu Nu'aim (Al-Fadhl bin Dukain) dari Al-A'masy (Sulaiman bin Mihran) dari Syaqiq bin Salamah dari Ibnu Mas'ud. Para ulama hadits seperti Yahya bin Ma'in dan Ali bin Al-Madini menilai sanad ini sebagai salah satu sanad paling shahih.
Kesimpulan Praktis
- Gunakan lafaz tasyahud yang diajarkan Nabi ﷺ — yaitu lafaz yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud ini, karena paling shahih dan paling utama menurut Imam An-Nawawi dan At-Tirmidzi.
- Jangan mengucapkan salam kepada makhluk tertentu dalam shalat — seperti "salam kepada Jibril", "salam kepada fulan", atau semacamnya, karena shalat adalah murni untuk Allah.
- Renungkan makna tasyahud — bahwa kita sedang memuliakan Allah, mendoakan Nabi ﷺ, dan mendoakan seluruh hamba saleh di langit dan bumi.
- Ajarkan lafaz ini kepada keluarga dan anak-anak — karena ini adalah bagian penting dari shalat yang harus dipahami, bukan sekadar dihafal.
- Jaga tauhid dalam setiap ibadah — termasuk dalam doa dan pujian, agar tidak tercampur dengan penghormatan kepada makhluk yang menyerupai ibadah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.