Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah petunjuk Nabi ﷺ tentang tata cara sujud yang sempurna. Beliau melarang kita meniru cara duduk/berbaringnya anjing, yaitu dengan meletakkan kedua lengan (siku) rata dan menempel ke tanah. Sebagai gantinya, kita diperintahkan untuk "i'tidal" (berlaku lurus/seimbang) dalam sujud, yaitu dengan mengangkat siku dari tanah, merenggangkannya dari lambung, dan meletakkan berat badan pada telapak tangan, lutut, dan ujung kaki. Ini adalah bagian dari kesempurnaan shalat dan bentuk penghormatan kepada Allah ﷻ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sesuai riwayat yang Anda berikan):
<p>حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ، وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ".</p>
Makna Ringkas: "Berlaku luruslah (seimbanglah) dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian membentangkan kedua lengannya (di tanah) seperti anjing membentangkan kakinya."
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman tentang perintah untuk mengikuti Nabi ﷺ dalam segala hal, termasuk tata cara shalat:
QS. Al-Hasyr [59]: 7
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya."
Ayat ini menunjukkan bahwa perintah dan larangan Nabi ﷺ dalam ibadah, termasuk dalam sujud, wajib kita patuhi.
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Adzan, Bab Tidak Meletakkan Lengan Seperti Anjing dalam Sujud, no. 822). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Abu Dawud dari jalur lain. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Qatadah (yang meriwayatkan dari Anas), serta para imam madzhab seperti Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Malik (dalam riwayat lain) menjadikan hadits ini sebagai dasar kesunnahan tata cara sujud yang sempurna.
Penjelasan Rinci
1. Makna "I'tidal" dalam Sujud
Kata "اعْتَدِلُوا" (i'tidal) berasal dari kata "عدل" yang berarti lurus, seimbang, atau proporsional. Dalam konteks sujud, para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa perintah i'tidal di sini adalah agar seseorang tidak berlebihan dalam merenggangkan anggota badan dan tidak pula terlalu menekuk/menempelkannya ke tanah secara berlebihan. Beliau mengutip perkataan Imam Al-Khattabi bahwa maknanya adalah "janganlah kalian merendahkan sebagian anggota badan dan meninggikan sebagian yang lain secara tidak seimbang, tetapi letakkanlah setiap anggota badan pada tempatnya dengan proporsional."
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa i'tidal dalam sujud mencakup beberapa hal:
- Meletakkan dahi dan hidung dengan mantap di tanah.
- Mengangkat siku dari tanah.
- Merenggangkan lengan dari lambung (tidak merapatkannya seperti orang yang bersedih).
- Menegakkan telapak tangan di atas tanah dengan jari-jari yang dirapatkan dan menghadap kiblat.
- Menegakkan kaki dan ujung-ujung jari kaki menghadap kiblat.
2. Larangan Membentangkan Lengan Seperti Anjing
Nabi ﷺ melarang seseorang membentangkan kedua lengannya (dari siku sampai tangan) rata menempel ke tanah dalam sujud. Ini adalah sifat yang sangat tercela karena:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini karena perbuatan tersebut menyerupai binatang (anjing) dan bertentangan dengan adab ibadah. Sujud adalah puncak penghambaan diri kepada Allah, dan seorang hamba tidak pantas meniru perilaku binatang dalam keadaan sedang bermunajat kepada Rabb-nya.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa hikmah larangan ini adalah agar sujud dilakukan dengan sempurna dan khusyuk. Membentangkan lengan seperti anjing membuat sujud terlihat malas dan tidak proporsional, serta dapat mengurangi kekhusyukan.
- Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan bahwa di antara sunnah-sunnah sujud adalah menjauhkan siku dari lambung, mengangkat perut dari paha, dan tidak membentangkan lengan seperti anjing. Beliau menegaskan bahwa ini adalah petunjuk Nabi ﷺ yang sempurna.
3. Penerapan Praktis
Para ulama sepakat bahwa yang disunnahkan dalam sujud adalah:
- Meletakkan dahi dan hidung di tanah.
- Kedua telapak tangan dibuka, jari-jari dirapatkan, dan menghadap kiblat.
- Siku diangkat dari tanah dan dijauhkan dari lambung.
- Perut tidak menempel ke paha.
- Ujung-ujung jari kaki ditekuk menghadap kiblat.
Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa cara sujud yang sempurna adalah dengan meletakkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung kedua kaki. Beliau juga menyebutkan kesunnahan menjauhkan siku dari lambung.
Imam Ahmad bin Hanbal (sebagaimana dinukil oleh murid-muridnya) juga menganjurkan hal yang sama, dan ini adalah praktik yang masyhur dari para sahabat dan tabi'in.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang sifat shalat Nabi ﷺ. Dalam sebuah riwayat, Anas berkata:
"Rasulullah ﷺ biasa merenggangkan kedua lengannya dari lambungnya ketika sujud, sampai-sampai ketiak beliau yang putih terlihat oleh kami." (HR. Muslim)
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini adalah penjelasan praktis dari sabda beliau dalam hadits yang sedang kita bahas. Nabi ﷺ tidak hanya memerintahkan secara lisan, tetapi juga mempraktikkannya dalam shalat beliau.
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam segala hal, termasuk dalam detail-detail kecil shalat. Seorang muslim yang mencintai Nabi ﷺ akan berusaha meniru beliau dalam setiap gerakan ibadahnya, bukan hanya yang besar, tetapi juga yang kecil.
Kesimpulan Praktis
- Sempurnakan sujud dengan meletakkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung kaki di tanah.
- Angkat siku dari tanah dan jangan membentangkan lengan seperti anjing.
- Renggangkan lengan dari lambung dan angkat perut dari paha.
- Jaga kekhusyukan dengan tidak terburu-buru dan tidak malas dalam sujud.
- Niatkan untuk meniru Nabi ﷺ dalam setiap gerakan shalat, karena shalat adalah tiang agama dan momen terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.