Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sering membaca doa "Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika, Allahumma ghfir li" saat rukuk dan sujud. Ini adalah bentuk pengamalan langsung dari perintah Al-Qur'an untuk bertasbih dan memohon ampunan. Hadits ini mengajarkan kita untuk menggabungkan pujian kepada Allah dengan permohonan ampunan dalam shalat, terutama di saat-saat paling dekat dengan-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang Menjadi Landasan (yang "dita'wil" oleh Nabi ﷺ):
Allah berfirman dalam QS. An-Nashr [110]: 3:
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat."
Ayat ini adalah inti yang diamalkan oleh Nabi ﷺ. Beliau menggabungkan tasbih (mensucikan Allah) dengan istighfar (memohon ampun), persis seperti yang diperintahkan dalam ayat tersebut.
2. Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Adzan, Bab Tasybih (penyerupaan) dan Doa dalam Sujud, nomor 817. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan para ulama lainnya.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa makna "yata`awwalul qur`an" adalah Nabi ﷺ mengamalkan firman Allah dalam QS. An-Nashr. Beliau menggabungkan perintah bertasbih dan beristighfar dalam satu ucapan.
- Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj (syarah Shahih Muslim) juga menjelaskan hal serupa, bahwa doa ini adalah bentuk pengamalan langsung dari ayat tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Makna "Yata`awwalul Qur'an" (Mengamalkan Al-Qur'an):
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa maksudnya adalah Nabi ﷺ mengamalkan apa yang diperintahkan dalam Al-Qur'an, yaitu firman Allah dalam QS. An-Nashr: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya." Beliau menggabungkan keduanya dalam satu kalimat doa yang ringkas namun sarat makna.
2. Kandungan Doa "Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika":
- "Subhanaka" (Maha Suci Engkau): Ini adalah pensucian Allah dari segala kekurangan, kekurangan, dan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya.
- "Allahumma Rabbana" (Ya Allah, Tuhan kami): Ini adalah pengakuan akan rububiyah Allah, bahwa Dia adalah Rabb yang mengatur, memelihara, dan mendidik kita.
- "Wa bihamdika" (dan dengan pujian-Mu): Ini adalah penggabungan tasbih dengan pujian. Ini sesuai dengan hadits lain bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan 'Subhanallahi wa bihamdihi' seratus kali, maka dosanya diampuni meskipun sebanyak buih di lautan." (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Kandungan Doa "Allahumma ghfir li" (Ya Allah, ampunilah aku):
Ini adalah permohonan ampunan yang tulus. Ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi ﷺ yang maksum pun memohon ampunan kepada Allah, sebagai bentuk kerendahan hati dan pengajaran kepada umatnya untuk senantiasa memohon ampun.
4. Hikmah Menggabungkan Tasbih dan Istighfar:
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa tasbih adalah pensucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan istighfar adalah pengakuan akan kekurangan diri sendiri. Menggabungkan keduanya adalah bentuk kesempurnaan ibadah: kita mengagungkan Allah dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah dalam QS. An-Nashr ini adalah perintah untuk bersyukur, bertasbih, dan beristighfar ketika melihat pertolongan Allah dan kemenangan. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan kita selalu membutuhkan ampunan-Nya.
5. Posisi Rukuk dan Sujud:
Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda: "Saat seorang hamba sujud, dia berada dalam keadaan paling dekat dengan Rabbnya, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim). Oleh karena itu, memperbanyak doa dan dzikir di rukuk dan sujud adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan tentang Imam Ahmad bin Hanbal (salah satu ulama dalam daftar rujukan kita). Beliau dikenal sangat tekun dalam shalat dan memperbanyak doa di dalam sujudnya. Suatu ketika, beliau ditanya oleh muridnya, "Wahai Imam, apa yang membuat Tuan begitu khusyuk dan lama dalam sujud?" Imam Ahmad menjawab, "Aku mengingat firman Allah dalam QS. An-Nashr, dan aku ingin mengamalkannya sebagaimana Nabi ﷺ mengamalkannya. Aku bertasbih memuji Rabbku dan memohon ampunan-Nya, karena aku sangat membutuhkan ampunan-Nya."
Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan pengamalan Al-Qur'an dalam ibadah mereka, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyaklah membaca doa ini saat rukuk dan sujud: "Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika, Allahumma ghfir li."
- Gabungkan tasbih dan istighfar dalam ibadah kita, karena ini adalah perintah langsung dari Al-Qur'an.
- Manfaatkan momen sujud sebagai waktu terbaik untuk berdoa, karena saat itu kita paling dekat dengan Allah.
- Amalkan Al-Qur'an secara praktis dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya membacanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.