Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa di akhir zaman, ilmu agama akan diangkat dengan wafatnya para ulama, sehingga kebodohan merajalela. Akibatnya, maksiat seperti minum khamr dan zina menjadi perkara yang biasa dan terang-terangan. Ini adalah peringatan bagi kita untuk bersemangat menuntut ilmu dan berpegang teguh pada sunnah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Telah menceritakan kepada kami 'Imran bin Maysarah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits, dari Abu At-Tayyah, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا
> "Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr (minuman keras), dan tampaknya perzinaan."
(HR. Al-Bukhari, no. 80)
Penjelasan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (1/195) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "diangkatnya ilmu" adalah wafatnya para ulama. Beliau menukil perkataan Imam Al-Bukhari sendiri dari gurunya, Ishaq bin Rahuyah, bahwa ilmu diangkat dengan wafatnya para pembawanya.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/222) menegaskan bahwa hadits ini adalah mukjizat Nabi ﷺ yang telah terbukti. Beliau berkata, "Telah terjadi pengangkatan ilmu dengan wafatnya para ulama, dan kebodohan pun merajalela."
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (1/108) menjelaskan bahwa ketika ilmu diangkat, manusia akan beribadah tanpa dasar ilmu, sehingga mereka mudah terjerumus dalam kesesatan dan maksiat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu tanda kenabian yang sangat jelas. Rasulullah ﷺ mengabarkan tentang empat fenomena yang akan terjadi menjelang hari kiamat:
- Diangkatnya Ilmu (يُرْفَعَ الْعِلْمُ): Yang dimaksud bukanlah ilmu dunia seperti kedokteran atau teknik, melainkan ilmu agama yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Para ulama seperti Ibnu Hajar dan Imam An-Nawawi sepakat bahwa pengangkatan ini terjadi dengan cara Allah mewafatkan para ulama yang benar-benar berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ketika mereka pergi, orang-orang yang tersisa adalah orang bodoh yang kemudian memberi fatwa dengan kebodohan mereka, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.
- Tersebarnya Kebodohan (يَثْبُتَ الْجَهْلُ): Kebodohan di sini bukan sekadar tidak tahu, tetapi kebodohan yang tetap dan mengakar (yatsbutu). Artinya, kebodohan menjadi sesuatu yang stabil dan dianggap biasa. Orang tidak lagi peduli untuk belajar agama, dan yang lebih parah, orang bodoh berani berbicara tentang agama tanpa ilmu. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah ujian terbesar di akhir zaman.
- Diminumnya Khamr (يُشْرَبَ الْخَمْرُ): Khamr adalah segala sesuatu yang memabukkan dan menutup akal. Tanda ini menunjukkan bahwa minuman keras akan diminum secara terang-terangan dan dianggap halal oleh sebagian orang, atau setidaknya tidak lagi dianggap sebagai dosa besar. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa akan ada orang yang menamakan khamr dengan nama lain agar terlihat halal.
- Tampaknya Perzinaan (يَظْهَرَ الزِّنَا): Zina akan menjadi perbuatan yang biasa dan dilakukan di muka umum tanpa rasa malu. Ini adalah puncak kerusakan moral. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa zina adalah induk dari segala keburukan dan akan mendatangkan murka Allah.
Keempat tanda ini saling berkaitan. Ketika ilmu diangkat, kebodohan merajalela. Akibatnya, manusia tidak lagi takut kepada Allah, sehingga mereka dengan mudah melanggar batasan-batasan-Nya seperti meminum khamr dan berzina.
Story Telling
Kisah Wafatnya Para Ulama di Akhir Zaman
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 100) dan Imam Muslim (no. 2673) dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
> "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari hamba-hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan."
Hikmah: Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya peran ulama dalam menjaga agama. Ketika ulama wafat, tidak ada lagi yang bisa meluruskan pemahaman umat. Oleh karena itu, kita harus bersemangat menuntut ilmu dari ulama yang benar-benar berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah selama mereka masih hidup, dan setelah mereka wafat, kita berpegang pada kitab-kitab mereka yang shahih.
Kesimpulan Praktis
- Semangat Menuntut Ilmu: Jadikanlah menuntut ilmu syar'i sebagai prioritas utama. Ilmu adalah cahaya yang akan menyelamatkan kita dari fitnah akhir zaman.
- Bertanya kepada Ulama: Jangan mudah berfatwa atau beramal tanpa dasar ilmu. Bertanyalah kepada ahli ilmu yang dikenal ketakwaan dan keilmuannya.
- Menjauhi Maksiat: Jauhi segala bentuk khamr dan zina, serta segala yang mendekatinya. Ini adalah dosa besar yang akan menghancurkan individu dan masyarakat.
- Mengamalkan Ilmu: Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Jangan sampai kita termasuk orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.