Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 794 tentang Bab Doa dalam Ruku

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa Nabi ﷺ dalam ruku dan sujud tidak hanya bertasbih, tetapi juga menggabungkannya dengan pujian kepada Allah dan permohonan ampun. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar gerakan, melainkan momen penghambaan yang mendalam, penuh pengagungan dan kerendahan hati di hadapan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Shahih Al-Bukhari No. 794

Teks Arab hadits:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ " سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ".

Terjemahan: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Nabi ﷺ biasa mengucapkan dalam ruku dan sujudnya: 'Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika; Allahumma ghfir li' (Maha Suci Engkau, ya Allah Tuhan kami, dan dengan pujian-Mu [aku mengagungkan-Mu]. Ya Allah! Ampunilah aku)."

Ayat Al-Qur'an yang Relevan

QS. Al-A'raf [7]: 143

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَـٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَـٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan) Kami pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu." Allah berfirman, "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya, niscaya engkau dapat melihat-Ku." Maka ketika Tuhannya menampakkan (kebesaran-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman."

Ayat ini menunjukkan bahwa tasbih (mensucikan Allah) adalah ungkapan yang keluar dari para nabi saat menyadari kebesaran Allah dan kelemahan diri mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari jalur Aisyah radhiyallahu 'anha. Ini menunjukkan bahwa bacaan dalam ruku dan sujud tidak terbatas pada satu bentuk saja. Nabi ﷺ mengajarkan berbagai macam dzikir dalam ruku dan sujud.

Makna Bacaan:

  1. "Subhanaka Allahumma Rabbana" : Ini adalah pengakuan bahwa Allah Maha Suci dari segala kekurangan dan aib. Kata "Rabbana" (Tuhan kami) menunjukkan hubungan penghambaan dan pengakuan bahwa Allah adalah Pemilik, Pengatur, dan Pendidik kita.
  2. "Wa bihamdika" : Ini berarti "dan dengan pujian kepada-Mu". Maknanya, "Aku bertasbih sambil memuji-Mu." Ini menggabungkan dua hal: pensucian (tasbih) dan pujian (hamd). Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, ini adalah bentuk pengagungan yang sempurna.
  3. "Allahumma ghfir li" : Ini adalah permohonan ampun. Setelah mengagungkan Allah, Nabi ﷺ langsung memohon ampun. Ini mengajarkan kita bahwa setelah menyadari kebesaran Allah, kita akan menyadari betapa banyak kekurangan dan dosa kita.

Pendapat Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya membaca doa-doa tambahan dalam ruku dan sujud, tidak terbatas pada bacaan tasbih saja. Beliau juga menekankan bahwa ruku dan sujud adalah saat yang mustajab untuk berdoa.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang disunnahkannya menggabungkan antara tasbih, pujian, dan istighfar dalam ruku dan sujud. Beliau juga menyebutkan bahwa bacaan ini adalah bentuk pengamalan dari ayat Al-Qur'an (QS. An-Nashr [110]: 3) yang artinya, "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya."
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa bacaan ini menunjukkan kesempurnaan ibadah Nabi ﷺ. Beliau tidak hanya melakukan gerakan, tetapi hatinya penuh dengan pengagungan dan kerendahan hati.

Kesimpulan dari Penjelasan Ulama:

Bacaan dalam ruku dan sujud ini adalah contoh konkret bagaimana seorang hamba menggabungkan antara pengagungan kepada Allah (tasbih dan tahmid) dengan pengakuan akan kelemahan diri (istighfar). Ini adalah inti dari ibadah: merasa hina di hadapan Yang Maha Agung.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang tabi'in yang sangat zuhud, pernah ditanya, "Wahai Abu Sa'id, mengapa kami tidak pernah melihatmu tersenyum?" Beliau menjawab, "Bagaimana aku bisa tersenyum, sementara aku tidak tahu apakah Allah telah mengampuniku atau tidak?" Kemudian beliau membaca hadits ini dan berkata, "Lihatlah Nabi ﷺ, meskipun beliau telah dijamin masuk surga, beliau tetap memperbanyak istighfar dalam shalatnya. Maka bagaimana dengan kita yang penuh dosa?"

Kisah ini mengajarkan kita bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar rasa takut dan kerendahan hatinya. Nabi ﷺ adalah teladan dalam hal ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak Istighfar dalam Shalat: Jangan hanya membaca tasbih wajib, tetapi perbanyaklah memohon ampun kepada Allah, terutama dalam ruku dan sujud.
  2. Gabungkan Tasbih, Pujian, dan Istighfar: Bacaan Nabi ﷺ ini adalah contoh sempurna. Kita bisa mengamalkannya secara langsung.
  3. Rendahkan Hati di Hadapan Allah: Ruku dan sujud adalah simbol ketundukan. Isilah dengan perasaan bahwa kita adalah hamba yang lemah dan sangat membutuhkan ampunan Allah.
  4. Jadikan Shalat sebagai Momen Introspeksi: Setiap kali kita ruku dan sujud, ingatlah dosa-dosa kita dan mohonlah ampun.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.