Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 79 tentang Perumpamaan ilmu seperti hujan yang memberi manfaat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perumpamaan indah dari Nabi ﷺ tentang tiga golongan manusia dalam menyikapi wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah). Ada yang seperti tanah subur: memahami, menghayati, dan mengamalkan ilmunya lalu mengajarkannya kepada orang lain. Ada yang seperti tanah keras yang menahan air: menghafal dan menyampaikan ilmu walau pemahamannya tidak mendalam, namun tetap bermanfaat bagi orang lain. Dan ada yang seperti tanah tandus: tidak menerima petunjuk sama sekali, tidak mau mendengar dan tidak peduli. Hadits ini mengajarkan kita untuk berlomba menjadi golongan pertama, atau minimal golongan kedua, dan menjauhi sifat golongan ketiga.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda cantumkan adalah riwayat Shahih Al-Bukhari no. 79 dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam Kitab Al-'Ilm (Kitab Ilmu), Bab Fadhlu Man 'Alima wa 'Allama (Bab Keutamaan Orang yang Mengetahui dan Mengajarkan).

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi rahmat) bagi seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Saba' [34]: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ diutus dengan membawa petunjuk (huda) dan ilmu (ilmu) — sebagaimana disebutkan dalam hadits — untuk seluruh manusia, namun hanya sebagian yang menerima dan mengambil manfaat.

Penjelasan dari Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk perbedaan lafazh "qayyilatil-ma'a" (menahan air) dan "ajadib" (tanah keras) serta makna masing-masing perumpamaan tersebut.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas hadits ini dengan riwayat yang serupa, menekankan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkannya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung perumpamaan yang sangat dalam tentang tiga golongan manusia dalam menyikapi risalah Nabi ﷺ.

Golongan Pertama: Tanah Subur yang Menyerap Air dan Menumbuhkan Tumbuhan

Ini adalah perumpamaan orang yang memahami agama Allah (faqiha fid-din) dan mendapatkan manfaat dari wahyu tersebut. Ia belajar dengan sungguh-sungguh, memahami maknanya, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, lalu mengajarkannya kepada orang lain. Ia seperti tanah subur yang tidak hanya menyerap air, tetapi juga menumbuhkan tumbuhan yang bermanfaat bagi dirinya dan makhluk lain.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa golongan ini adalah orang yang memadukan antara ilmu, amal, dan dakwah — ia belajar, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan. Inilah tingkatan paling tinggi.

Golongan Kedua: Tanah Keras yang Menahan Air

Ini adalah perumpamaan orang yang menghafal dan menyampaikan ilmu namun tidak memiliki pemahaman yang mendalam. Ia seperti tanah keras yang tidak menyerap air, tetapi mampu menahan air sehingga manusia dapat mengambil manfaat darinya untuk minum, mengairi tanaman, dan kebutuhan lainnya.

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa golongan ini adalah para perawi hadits dan penghafal ilmu yang menyampaikan kepada orang lain, walaupun pemahaman pribadinya mungkin tidak sedalam golongan pertama. Namun Allah tetap memberikan manfaat yang besar melalui mereka — banyak orang menjadi tahu ajaran Islam melalui para perawi dan penyampai hadits ini.

Golongan Ketiga: Tanah Tandus yang Tidak Menyerap dan Tidak Menahan Air

Ini adalah perumpamaan orang yang tidak menerima petunjuk Allah sama sekali. Ia tidak mau mendengar, tidak mau memahami, tidak mau mengamalkan, dan tidak peduli. Ia seperti tanah tandus yang tidak bisa menyerap air untuk menumbuhkan tanaman, juga tidak bisa menahan air untuk dimanfaatkan orang lain.

Imam Ibnu Hajar menyebut golongan ini sebagai orang yang tidak mengangkat kepala — artinya tidak mau memperhatikan, tidak mau merenungkan, dan menolak petunjuk Allah. Ini adalah sifat yang sangat tercela.

Catatan Penting dari Ulama:

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan sebagian ulama bahwa hadits ini juga mengisyaratkan bahwa ilmu itu harus diamalkan dan disebarkan. Orang yang berilmu namun tidak mengamalkan dan tidak mengajarkan, maka ia seperti tanah yang menyerap air tetapi tidak menumbuhkan apa pun — ini menunjukkan kurangnya keberkahan ilmunya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung dorongan kuat untuk menuntut ilmu dengan pemahaman yang benar, bukan sekadar menghafal tanpa memahami. Karena pemahaman yang benar akan melahirkan amal yang benar, dan amal yang benar akan melahirkan dakwah yang bermanfaat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal — semoga Allah meridhainya — sangat memperhatikan adab dalam menuntut ilmu. Beliau pernah ditanya, "Berapa jumlah hadits yang engkau hafal?" Beliau menjawab, "Sekitar satu juta hadits." Kemudian beliau ditanya lagi, "Lalu apa yang engkau lakukan dengan hadits-hadits itu?" Beliau menjawab, "Aku berpegang dengannya dalam masalah halal dan haram, dan aku menyampaikannya kepada manusia."

Lihatlah bagaimana Imam Ahmad — yang merupakan salah satu ulama besar dalam daftar rujukan kita — tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami dan menyampaikan ilmunya kepada umat. Inilah wujud nyata dari golongan pertama dalam hadits di atas. Beliau adalah tanah subur yang menumbuhkan ribuan bahkan jutaan "pohon ilmu" melalui murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama besar, seperti Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lainnya.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dipahami, diamalkan, dan disebarkan. Ilmu yang hanya dihafal tanpa diamalkan dan disebarkan, maka manfaatnya terbatas hanya untuk dirinya sendiri — bahkan bisa menjadi hujjah yang memberatkannya di akhirat kelak.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadilah tanah subur — tuntutlah ilmu dengan pemahaman yang benar, amalkan dalam kehidupan sehari-hari, lalu ajarkan kepada orang lain. Inilah tingkatan paling mulia di sisi Allah.
  2. Jika belum mampu menjadi tanah subur, jadilah tanah keras yang menahan air — minimalnya, sampaikanlah ilmu yang engkau ketahui kepada orang lain, walaupun pemahamanmu masih sederhana. Karena menyampaikan satu ayat saja adalah kebaikan.
  3. Jangan menjadi tanah tandus — jangan pernah menolak petunjuk Allah, jangan merasa cukup dengan kebodohan, dan jangan berpaling dari majelis ilmu.
  4. Perbanyak doa agar Allah memberikan pemahaman yang benar dalam agama, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, berikanlah pemahaman kepadaku dalam agama."
  5. Ikhlas dalam menuntut dan mengajarkan ilmu — karena ilmu yang dicari karena Allah akan membawa keberkahan, sedangkan ilmu yang dicari karena riya' akan menjadi bencana bagi pemiliknya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi