Penjelasan Hadits Bukhari No. 774 tentang Keras dan pelan bacaan sesuai perintah

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat sesuai perintah Allah: membaca dengan suara keras pada shalat yang diperintahkan keras (seperti Subuh, Maghrib, Isya) dan membaca dengan suara pelan pada shalat yang diperintahkan pelan (seperti Zhuhur dan Ashar). Ibn Abbas lalu membawakan dua ayat sebagai dalil: bahwa Allah tidak lupa (sehingga perintah-Nya sempurna dan terpelihara), dan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan yang wajib kita ikuti. Jadi, cara shalat Nabi ﷺ adalah hujjah yang harus diikuti, bukan diubah-ubah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

  1. QS. Maryam [19]: 64

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

Terjemahan: "Dan Tuhanmu tidak pernah lupa."

  1. QS. Al-Ahzab [33]: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Terjemahan: "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Adzan, Bab Suara Keras dalam Bacaan Shalat Subuh (no. 774), dari jalur Ikrimah dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil tegas bahwa jahr (mengeraskan bacaan) dan sirr (memelankan bacaan) dalam shalat adalah tauqifi, yaitu berdasarkan perintah dan contoh langsung dari Nabi ﷺ, bukan berdasarkan pendapat atau selera.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa umat wajib mengikuti tata cara shalat Nabi ﷺ, termasuk dalam hal jahr dan sirr, karena beliau adalah teladan yang sempurna.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا" menunjukkan bahwa Allah tidak melupakan apa pun, termasuk perintah-perintah-Nya kepada Nabi ﷺ, sehingga sunnah Nabi ﷺ yang sampai kepada kita adalah benar dan terjaga.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat Al-Ahzab 21 merupakan perintah untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh aspek, termasuk ibadah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki sanad yang shahih: Musaddad → Ismail (bin Ibrahim) → Ayyub (as-Sakhtiyani) → Ikrimah → Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma. Ibn Abbas adalah sahabat yang dikenal luas ilmunya, terutama dalam tafsir, dan beliau meriwayatkan hadits ini untuk menetapkan kaidah penting dalam shalat.

Makna "قَرَأَ النَّبِيُّ ﷺ فِيمَا أُمِرَ وَسَكَتَ فِيمَا أُمِرَ"

Ibn Abbas menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membaca dengan suara keras pada shalat-shalat yang Allah perintahkan untuk dibaca keras, dan membaca dengan suara pelan pada shalat-shalat yang Allah perintahkan untuk dibaca pelan. Ini menunjukkan bahwa jahr dan sirr bukanlah perkara ijtihad atau pilihan pribadi, melainkan perintah yang harus diikuti.

Shalat yang dibaca keras (jahr):

  • Subuh
  • Maghrib
  • Isya
  • Jumat
  • Dua shalat Id
  • Shalat Istisqa (meminta hujan)
  • Shalat Gerhana (menurut sebagian ulama)

Shalat yang dibaca pelan (sirr):

  • Zhuhur
  • Ashar
  • Sunnah rawatib yang dikerjakan pada siang hari
  • Shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari menurut sebagian ulama (kecuali yang disyariatkan jahr)

Dalil dari ayat:

Ibn Abbas membawakan ayat "وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا" (Dan Tuhanmu tidak lupa) untuk menegaskan bahwa Allah tidak melupakan perintah-Nya, sehingga apa yang Nabi ﷺ lakukan adalah berdasarkan perintah yang sempurna dan terjaga. Kemudian beliau membawakan ayat "لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ" (Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik) untuk menegaskan kewajiban meneladani Nabi ﷺ dalam shalat.

Pandangan ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Adzan, Bab Suara Keras dalam Bacaan Shalat Subuh, menunjukkan bahwa beliau ingin menetapkan bahwa jahr dalam Subuh adalah sunnah yang tetap.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bagi ulama yang berpendapat bahwa jahr dan sirr adalah tauqifi, dan tidak boleh diubah. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama berbeda pendapat tentang shalat-shalat tertentu, namun yang paling kuat adalah mengikuti dalil yang shahih.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj menegaskan bahwa jahr dan sirr adalah sunnah yang harus dijaga, dan barang siapa yang mengubahnya tanpa dalil, maka shalatnya tidak sempurna.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa mengikuti Nabi ﷺ dalam shalat adalah kewajiban, dan tidak boleh menambah atau mengurangi dari apa yang beliau contohkan.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad merinci sifat shalat Nabi ﷺ, termasuk jahr dan sirr, dan menegaskan bahwa beliau selalu konsisten dalam hal ini.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang bacaan basmalah secara jahr atau sirr, dan tentang shalat-shalat sunnah tertentu. Namun, untuk shalat fardhu lima waktu, jahr dan sirr telah disepakati berdasarkan hadits-hadits shahih, termasuk hadits ini. Pendapat yang paling kuat adalah yang sesuai dengan dalil, yaitu jahr pada Subuh, Maghrib, dan Isya, serta sirr pada Zhuhur dan Ashar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, sepupu Nabi ﷺ dan seorang ahli tafsir yang doanya dikabulkan Nabi ﷺ ("Ya Allah, ajarkanlah dia kitab"), suatu ketika ditanya tentang bacaan Nabi ﷺ dalam shalat. Beliau menjawab dengan jawaban yang sangat ilmiah dan penuh dalil, sebagaimana dalam hadits ini. Beliau tidak hanya menyampaikan perbuatan Nabi ﷺ, tetapi juga menguatkannya dengan dua ayat Al-Qur'an. Ini menunjukkan kedalaman ilmu beliau dan pentingnya menyandarkan ibadah kepada dalil.

Dalam riwayat lain, Ibn Abbas juga pernah mengatakan, "Shalat itu ada yang dibaca keras dan ada yang dibaca pelan. Kami mengetahui yang keras dari yang pelan berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ." (HR. Al-Bukhari). Hikmahnya adalah bahwa seorang Muslim harus belajar shalat dari sumber yang benar, yaitu Al-Qur'an dan sunnah Nabi ﷺ, serta penjelasan para ulama yang mengikuti jejak beliau.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikuti tata cara shalat Nabi ﷺ dalam hal jahr (mengeraskan bacaan) dan sirr (memelankan bacaan), karena itu adalah perintah Allah dan contoh langsung dari Rasulullah ﷺ.
  2. Shalat Subuh, Maghrib, dan Isya dibaca dengan suara keras pada dua rakaat pertama (dan untuk Subuh semua rakaat).
  3. Shalat Zhuhur dan Ashar dibaca dengan suara pelan pada semua rakaat.
  4. Jangan mengubah-ubah tata cara shalat berdasarkan selera atau kebiasaan, karena ibadah adalah tauqifi (harus berdasarkan dalil).
  5. Pelajari shalat dari sumber yang shahih, seperti kitab-kitab hadits dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.
  6. Teladani Nabi ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan, terutama ibadah, karena beliau adalah suri teladan yang terbaik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?