Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa rahmat (kasih sayang) Allah itu lebih dahulu dan lebih dominan daripada kemarahan-Nya. Sebelum menciptakan makhluk, Allah telah menetapkan hal ini dalam sebuah kitab yang berada di atas Arsy. Ini menunjukkan betapa luas dan agungnya rahmat Allah, sehingga seorang hamba hendaknya tidak berputus asa dari rahmat-Nya, namun juga tidak meremehkan kemarahan-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, Bab Perkataan Allah Ta'ala, nomor 7554. Perawi sahabatnya adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits lengkap dengan harakat:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي غَالِبٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، أَنَّ أَبَا رَافِعٍ، حَدَّثَهُ أَنَّهُ، سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ "إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي. فَهُوَ مَكْتُوبٌ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ".
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah menulis sebuah kitab sebelum Dia menciptakan makhluk: 'Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku.' Maka kitab itu tertulis di sisi-Nya di atas Arsy."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan, di antaranya:
QS. Al-A'raf [7]: 156
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ
Terjemahan: "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."
QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Terjemahan: "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
Hadits ini juga memiliki riwayat lain dalam Shahih Muslim dan kitab-kitab hadits lainnya, namun fokus kita pada riwayat Al-Bukhari ini. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam Kitab Tauhid, yang menunjukkan bahwa hadits ini berkaitan erat dengan penetapan sifat-sifat Allah, khususnya sifat rahmat dan sifat ghadhab (kemarahan), serta penetapan kitab yang ditulis Allah dan Arsy sebagai makhluk-Nya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
- Penetapan Sifat Rahmat dan Ghadhab bagi Allah
Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dan dalam Kitab Tauhid menunjukkan bahwa rahmat dan ghadhab adalah sifat-sifat Allah yang hakiki, sesuai dengan keagungan-Nya. Ini bukanlah majas atau kiasan belaka. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rahmat Allah itu adalah sifat yang melekat pada Dzat-Nya, dan demikian pula ghadhab. Keduanya adalah sifat kesempurnaan bagi Allah.
- Makna "Rahmat-Ku Mendahului Kemarahan-Ku"
Para ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "mendahului" (sabaqat) di sini adalah:
- Dalam hal penetapan dan penulisan: Allah menetapkan rahmat sebagai sifat yang lebih dahulu ditulis dan ditetapkan sebelum ghadhab.
- Dalam hal pengaruh dan realisasi: Rahmat Allah lebih dominan dan lebih luas jangkauannya daripada ghadhab. Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, sedangkan ghadhab hanya menimpa orang-orang yang berhak mendapatkannya.
- Dalam hal kehendak: Allah lebih mengutamakan rahmat daripada ghadhab. Dia tidak segera menyiksa, tetapi memberi kesempatan bertaubat.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa rahmat Allah mendahului ghadhab dalam arti bahwa Allah menciptakan makhluk dengan rahmat, memberi mereka rezeki dengan rahmat, dan mengutus para nabi dengan rahmat. Ghadhab hanya datang setelah hujjah ditegakkan dan dosa dilakukan.
- Kitab yang Ditulis Sebelum Penciptaan Makhluk
Hadits ini menetapkan bahwa Allah menulis sebuah kitab sebelum menciptakan makhluk. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan sejak azali. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa penulisan ini adalah bagian dari qadar (takdir) Allah yang telah ditetapkan sebelum penciptaan. Kitab ini berada di sisi Allah di atas Arsy, menunjukkan kedudukan yang tinggi dan agung.
- Arsy sebagai Tempat Kitab Tersebut
Penyebutan "di atas Arsy" menunjukkan kemuliaan Arsy dan kemuliaan kitab tersebut. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar dan paling tinggi, dan kitab yang berisi penetapan rahmat ini berada di atasnya, menunjukkan betapa agungnya perkara rahmat Allah.
- Pemahaman Salaf
Para ulama salaf seperti Qatadah (yang meriwayatkan hadits ini) dan lainnya memahami hadits ini secara literal tanpa ta'wil (menakwilkan) atau tahrif (mengubah makna). Mereka menetapkan sifat rahmat dan ghadhab bagi Allah sebagaimana yang datang dalam nash, tanpa menyerupakannya dengan makhluk.
- Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama Daftar
Di antara ulama dalam daftar, tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan mengenai penetapan sifat rahmat dan ghadhab. Perbedaan hanya terjadi pada ulama di luar daftar yang menakwilkan sifat-sifat Allah. Namun, ulama dalam daftar seperti Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan Ibn Katsir sepakat bahwa sifat-sifat Allah ditetapkan secara hakiki tanpa ta'wil. Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya dalam Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menakwilkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang salaf, Fudail bin 'Iyadh, pernah mendengar seseorang berputus asa dari rahmat Allah. Beliau lalu menangis dan berkata, "Sungguh, jika engkau mengetahui luasnya rahmat Allah, engkau tidak akan berputus asa. Allah telah menulis rahmat-Nya mendahului kemarahan-Nya sebelum Dia menciptakan makhluk. Bagaimana mungkin engkau berputus asa, sedangkan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu?" (Kisah ini disebutkan secara makna dalam berbagai kitab salaf, menunjukkan bagaimana para ulama salaf memahami hadits ini sebagai sumber harapan bagi hamba yang berdosa).
Hikmahnya: Hadits ini seharusnya membuat seorang hamba selalu berharap kepada Allah, tidak berputus asa dari rahmat-Nya, namun juga tidak merasa aman dari makar-Nya. Keseimbangan antara khauf (takut) dan raja' (harap) adalah jalan para salaf.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa rahmat Allah lebih luas daripada kemarahan-Nya. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Az-Zumar [39]: 53.
- Jangan meremehkan kemarahan Allah. Meskipun rahmat-Nya mendahului, ghadhab-Nya tetap ada bagi orang yang menentang-Nya. Hendaknya kita selalu bertaubat dan memohon ampunan.
- Tetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya dalam nash. Tanpa ta'wil, tanpa tahrif, dan tanpa menyerupakan dengan makhluk, sebagaimana pemahaman salaf.
- Renungkanlah kitab yang ditulis Allah di atas Arsy. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan, dan hendaknya kita ridha dengan ketetapan Allah serta berusaha maksimal dalam ketaatan.
- Sebarkanlah kabar gembira tentang luasnya rahmat Allah. Banyak orang berputus asa karena dosa-dosanya; ingatkan mereka bahwa rahmat Allah mendahului kemarahan-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.