Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 7551 tentang Takdir manusia sesuai ciptaan Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap manusia telah ditetapkan Allah takdirnya, dan Allah akan memudahkan jalan bagi setiap orang menuju apa yang telah ditakdirkan untuknya. Orang yang ditakdirkan bahagia akan dimudahkan beramal saleh, dan orang yang ditakdirkan sengsara akan dimudahkan beramal buruk. Ini bukan berarti manusia dipaksa, melainkan Allah memberikan kemudahan sesuai dengan pilihan dan kecenderungan hati yang telah Dia ketahui.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Lail [92]: 5-10

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ * فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 7551) dari sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2647) dan para ulama hadits lainnya.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (13/436) menjelaskan bahwa hadits ini merupakan bantahan terhadap golongan Qadariyah yang mengingkari takdir. Beliau menukil perkataan Imam Al-Bukhari bahwa bab ini untuk menjelaskan bahwa amal perbuatan manusia telah ditakdirkan.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/204) mengatakan, "Makna hadits ini adalah bahwa setiap orang dimudahkan untuk melakukan amal yang telah ditakdirkan baginya, dan akhir hidupnya akan sesuai dengan takdir tersebut."

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu hadits pokok dalam masalah takdir. Ketika sahabat Imran bin Hushain bertanya, "Wahai Rasulullah, untuk apa orang-orang beramal?" - maksudnya adalah apakah amal manusia itu terjadi dengan kehendak dan takdir Allah ataukah murni karena usaha manusia? Maka Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang sangat dalam: "Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan amal yang sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya."

Penjelasan dari para ulama:

  1. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid untuk menunjukkan bahwa keyakinan terhadap takdir adalah bagian dari tauhid dan keimanan kepada Allah.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa makna "kullu muyassar" (setiap orang dimudahkan) adalah bahwa Allah telah menuliskan takdir setiap hamba, lalu Allah memudahkan jalannya menuju takdir tersebut. Orang yang ditakdirkan menjadi ahli surga, Allah akan memudahkan baginya amalan-amalan ahli surga. Sebaliknya, orang yang ditakdirkan menjadi ahli neraka, Allah akan memudahkan baginya amalan-amalan ahli neraka.
  3. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengandung penetapan takdir yang telah ditentukan Allah sejak azali. Namun, beliau juga menekankan bahwa manusia tetap memiliki kehendak dan usaha, karena Allah memudahkan sesuai dengan apa yang dipilih oleh hamba-Nya.
  4. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan perintah Allah untuk beramal. Justru, hadits ini memotivasi untuk beramal saleh, karena barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan, maka Allah akan memudahkan jalannya.

Perbedaan pendapat yang perlu diluruskan:

Ada sebagian orang yang salah memahami hadits ini dengan mengatakan, "Karena takdir sudah ditentukan, maka kita tidak perlu beramal." Ini adalah pemahaman yang keliru. Para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Qayyim menegaskan bahwa takdir adalah rahasia Allah, dan kita diperintahkan untuk beramal sesuai dengan syariat. Nabi ﷺ sendiri bersabda, "Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ berada di suatu pemakaman, lalu beliau bersabda:

"Tidak ada satu jiwa pun yang bernafas kecuali tempatnya di surga atau neraka telah ditentukan, dan telah ditulis apakah ia akan menjadi orang yang sengsara atau bahagia."

Maka seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau begitu, apakah kita tidak boleh bersandar pada catatan takdir kita dan meninggalkan amal?"

Rasulullah ﷺ menjawab: "Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan. Adapun golongan yang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan ahli kebahagiaan. Dan adapun golongan yang sengsara, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan ahli kesengsaraan." Kemudian beliau membaca ayat: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa..." (QS. Al-Lail: 5-10) (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini mengajarkan bahwa keyakinan terhadap takdir tidak boleh membuat kita malas beramal. Justru, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam beramal, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Berimanlah kepada takdir - Baik takdir yang baik maupun yang buruk, semuanya dari Allah.
  2. Jangan menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas beramal - Karena kita tidak tahu takdir kita, maka kita wajib beramal sesuai perintah Allah.
  3. Bersungguh-sungguhlah dalam kebaikan - Karena Allah akan memudahkan jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menuju kebaikan.
  4. Jauhkan diri dari perdebatan takdir - Para ulama salaf melarang memperdebatkan takdir secara mendalam karena bisa menyesatkan.
  5. Berdoalah memohon husnul khatimah - Karena akhir kehidupan yang baik adalah karunia dari Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.