Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi larangan bagi seorang hamba untuk menganggap dirinya lebih baik daripada Nabi Yunus bin Matta. Ini adalah pengajaran tentang adab, tawadhu, dan menahan diri dari membanding-bandingkan keutamaan para nabi. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menyampaikan perkataan yang beliau riwayatkan dari Allah (hadits qudsi), dan menegaskan kedudukan Nabi Yunus yang mulia.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-An'am [6]: 86
وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ
Terjemahan: "Dan masing-masing (dari mereka) Kami lebihkan di atas seluruh alam."
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sendiri yang memberikan keutamaan kepada para nabi, sehingga manusia tidak berhak membanding-bandingkan atau mengklaim dirinya lebih baik dari mereka.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, Bab Penyebutan Nabi ﷺ dan Riwayatnya dari Tuhan-Nya, nomor 7539. Perawi: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Qatadah dari Abu Al-'Aliyah.
Hadits serupa juga diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang beragam, di antaranya:
لَا يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ إِنِّي خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memasukkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, menunjukkan bahwa hadits ini berkaitan erat dengan tauhid dan adab terhadap Allah serta para nabi-Nya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini bukan berarti Nabi ﷺ tidak lebih utama dari Yunus, karena Nabi ﷺ jelas lebih utama dari seluruh makhluk. Larangan ini ditujukan kepada manusia secara umum agar tidak merasa lebih baik dari nabi mana pun, termasuk Yunus.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini mengajarkan tawadhu dan menutup pintu perdebatan tentang keutamaan yang bisa menimbulkan sikap merendahkan nabi lain.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini adalah hadits qudsi, yaitu perkataan yang Nabi ﷺ riwayatkan dari Allah Ta'ala. Allah berfirman bahwa tidak pantas bagi seorang hamba — termasuk Nabi Muhammad ﷺ sendiri dalam konteks pengajaran — untuk mengatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Nabi Yunus bin Matta.
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa larangan ini bersifat pengajaran adab, bukan penafian keutamaan. Nabi Muhammad ﷺ adalah makhluk paling mulia, namun beliau tidak boleh mengklaim keutamaan itu di hadapan manusia karena akan menimbulkan kesombongan dan merendahkan nabi lain. Larangan ini lebih ditujukan kepada umat agar tidak membanding-bandingkan para nabi dengan cara yang tidak pantas.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini mengandung pelajaran agar seseorang tidak mengucapkan perkataan yang bisa dipahami sebagai merendahkan nabi lain. Seorang hamba hendaknya fokus pada amal dan tawadhu, bukan pada klaim keutamaan.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika membahas kisah Nabi Yunus menegaskan bahwa Nabi Yunus adalah nabi yang mulia, dan Allah menyelamatkannya dari perut ikan karena doanya yang penuh tauhid. Kisah ini menunjukkan kedudukan Yunus yang tinggi di sisi Allah.
Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tawadhu adalah sifat yang paling dekat dengan tauhid, sedangkan kesombongan adalah pintu syirik. Hadits ini mengajarkan agar seorang hamba tidak terjatuh dalam sikap merasa lebih baik, karena itu adalah benih kesombongan.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama memahami larangan ini khusus untuk Nabi ﷺ, artinya beliau secara pribadi tidak mengatakan dirinya lebih baik dari Yunus. Sebagian lain memahami larangan ini berlaku umum untuk seluruh manusia. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dirajihkan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa larangan ini bersifat umum sebagai pengajaran adab, dan tidak mengurangi keutamaan Nabi Muhammad ﷺ yang merupakan nabi paling mulia.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat pernah berkata di hadapan Nabi ﷺ tentang keutamaan beliau dibanding nabi lain. Nabi ﷺ kemudian mengajarkan agar tidak membanding-bandingkan para nabi dengan cara yang bisa menimbulkan perdebatan dan sikap merendahkan. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits dan dikenal sebagai penerjemah Al-Qur'an. Beliau meriwayatkan hadits ini langsung dari Nabi ﷺ, menunjukkan betapa pentingnya adab ini dalam tauhid.
Hikmahnya: seorang hamba yang benar-benar bertauhid akan sibuk memperbaiki dirinya sendiri, bukan sibuk mengklaim keutamaan atau merendahkan orang lain, terlebih para nabi Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan membanding-bandingkan keutamaan para nabi dengan cara yang bisa merendahkan salah satu dari mereka.
- Tanamkan tawadhu dalam hati, karena merasa lebih baik dari orang lain — apalagi dari nabi — adalah pintu kesombongan.
- Fokus pada amal sendiri, bukan pada klaim keutamaan yang tidak bermanfaat.
- Hormati semua nabi dan rasul tanpa terkecuali, karena Allah sendiri yang memuliakan mereka.
- Pelajari hadits qudsi untuk memahami bagaimana Allah mengajarkan adab kepada hamba-Nya melalui lisan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.