Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan memperindah dan mengeraskan bacaan Al-Qur'an sebagai bentuk ibadah dan penghormatan terhadap kalam Allah. "Bukan dari kami" adalah teguran keras agar seorang Muslim tidak meninggalkan kebiasaan melantunkan Al-Qur'an dengan suara yang indah dan jelas. Yang dimaksud bukan menyanyi seperti lagu dunia, melainkan memperindah bacaan sesuai kaidah tajwid dan adab.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
Teks hadits:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
Terjemahan:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melantunkan Al-Qur'an."
Dalam riwayat lain ditambahkan: يَجْهَرُ بِهِ ("yakni mengeraskannya").
Ayat yang berkaitan erat dengan perintah memperindah bacaan:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Terjemahan: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)." (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)
Ayat lain:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Terjemahan: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil." (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)
Penjelasan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "yaghanna" di sini bermakna memperindah suara dan mengeraskannya, bukan menyanyi dengan nada musik yang melalaikan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an adalah sunnah yang dianjurkan.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa tartil adalah membaca dengan tenang, jelas, dan sesuai kaidah, bukan tergesa-gesa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini muncul dalam Kitab Tauhid, yang menunjukkan bahwa memperindah bacaan Al-Qur'an berkaitan erat dengan pengagungan terhadap Allah dan nama-nama-Nya. Imam Al-Bukhari sengaja menempatkannya di bab tauhid untuk menegaskan bahwa membaca Al-Qur'an dengan indah adalah bagian dari ibadah yang menguatkan iman.
Makna "لَيْسَ مِنَّا" (bukan dari kami) bukan berarti keluar dari Islam, tetapi bentuk teguran keras sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ dalam menyebutkan hal yang sangat ditekankan. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa ungkapan ini menunjukkan larangan meninggalkan sunnah yang sangat dianjurkan.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "yaghanna":
- Memperindah suara — pendapat Ibnu Hajar dan an-Nawawi, berdasarkan riwayat tambahan "yajharu bihi" (mengeraskannya).
- Mencukupkan diri dengan Al-Qur'an — sebagian salaf memahami "ghina" sebagai kekayaan, yakni merasa cukup dengan Al-Qur'an daripada nyanyian dan hiburan yang melalaikan. Ini disebutkan oleh Ibn Katsir dan Adz-Dzahabi.
Pendapat yang paling kuat adalah menggabungkan keduanya: seorang Muslim hendaknya memperindah bacaan Al-Qur'an, mengeraskannya, dan menjadikannya sebagai "kekayaan" hati, bukan sibuk dengan lagu dan hiburan yang melalaikan. Ini sejalan dengan hadits lain:
مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ ﷺ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ
Terjemahan: "Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan Nabi ﷺ melantunkan Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa melantunkan Al-Qur'an dengan indah menghadirkan kekhusyukan, menggerakkan hati, dan menjadikan bacaan lebih meresap ke dalam jiwa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu pernah membaca Al-Qur'an dengan suara yang sangat indah. Nabi ﷺ mendengarkannya dan bersabda:
لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ
Terjemahan: "Sungguh, orang ini telah diberi salah satu seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Abu Musa berkata: "Wahai Rasulullah, seandainya aku tahu engkau mendengarkanku, aku akan memperindah suaraku untukmu." Kisah ini menunjukkan bahwa memperindah bacaan Al-Qur'an adalah ibadah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan para salaf berlomba-lomba dalam hal ini.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Perindahlah Al-Qur'an dengan suaramu, karena suara yang indah menambah keindahan Al-Qur'an." (disebutkan dalam riwayat salaf)
Kesimpulan Praktis
- Perindahlah bacaan Al-Qur'an dengan mempelajari tajwid dan memperbaiki makhraj huruf.
- Keraslah dalam membaca ketika sendiri atau dalam shalat malam, agar hati lebih khusyuk dan setan terusir.
- Jadikan Al-Qur'an kekayaan hati, bukan sibuk dengan lagu dan hiburan yang melalaikan dari zikir kepada Allah.
- Jangan tinggalkan tilawah harian, walau hanya beberapa ayat, karena ini bagian dari identitas seorang Muslim.
- Belajarlah dari ahli Qur'an yang suaranya indah dan bacaannya benar, sebagaimana para salaf belajar dari guru-guru mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.