Penjelasan Hadits Bukhari No. 7527 tentang Anjuran melantunkan Al-Qur'an dengan suara indah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan memperindah dan mengeraskan bacaan Al-Qur'an sebagai bentuk ibadah dan penghormatan terhadap kalam Allah. "Bukan dari kami" adalah teguran keras agar seorang Muslim tidak meninggalkan kebiasaan melantunkan Al-Qur'an dengan suara yang indah dan jelas. Yang dimaksud bukan menyanyi seperti lagu dunia, melainkan memperindah bacaan sesuai kaidah tajwid dan adab.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

Teks hadits:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

Terjemahan:

"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melantunkan Al-Qur'an."

Dalam riwayat lain ditambahkan: يَجْهَرُ بِهِ ("yakni mengeraskannya").

Ayat yang berkaitan erat dengan perintah memperindah bacaan:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Terjemahan: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)." (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)

Ayat lain:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Terjemahan: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil." (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)

Penjelasan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "yaghanna" di sini bermakna memperindah suara dan mengeraskannya, bukan menyanyi dengan nada musik yang melalaikan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an adalah sunnah yang dianjurkan.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa tartil adalah membaca dengan tenang, jelas, dan sesuai kaidah, bukan tergesa-gesa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini muncul dalam Kitab Tauhid, yang menunjukkan bahwa memperindah bacaan Al-Qur'an berkaitan erat dengan pengagungan terhadap Allah dan nama-nama-Nya. Imam Al-Bukhari sengaja menempatkannya di bab tauhid untuk menegaskan bahwa membaca Al-Qur'an dengan indah adalah bagian dari ibadah yang menguatkan iman.

Makna "لَيْسَ مِنَّا" (bukan dari kami) bukan berarti keluar dari Islam, tetapi bentuk teguran keras sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ dalam menyebutkan hal yang sangat ditekankan. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa ungkapan ini menunjukkan larangan meninggalkan sunnah yang sangat dianjurkan.

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "yaghanna":

  1. Memperindah suara — pendapat Ibnu Hajar dan an-Nawawi, berdasarkan riwayat tambahan "yajharu bihi" (mengeraskannya).
  2. Mencukupkan diri dengan Al-Qur'an — sebagian salaf memahami "ghina" sebagai kekayaan, yakni merasa cukup dengan Al-Qur'an daripada nyanyian dan hiburan yang melalaikan. Ini disebutkan oleh Ibn Katsir dan Adz-Dzahabi.

Pendapat yang paling kuat adalah menggabungkan keduanya: seorang Muslim hendaknya memperindah bacaan Al-Qur'an, mengeraskannya, dan menjadikannya sebagai "kekayaan" hati, bukan sibuk dengan lagu dan hiburan yang melalaikan. Ini sejalan dengan hadits lain:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ ﷺ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

Terjemahan: "Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan Nabi ﷺ melantunkan Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa melantunkan Al-Qur'an dengan indah menghadirkan kekhusyukan, menggerakkan hati, dan menjadikan bacaan lebih meresap ke dalam jiwa.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu pernah membaca Al-Qur'an dengan suara yang sangat indah. Nabi ﷺ mendengarkannya dan bersabda:

لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

Terjemahan: "Sungguh, orang ini telah diberi salah satu seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Musa berkata: "Wahai Rasulullah, seandainya aku tahu engkau mendengarkanku, aku akan memperindah suaraku untukmu." Kisah ini menunjukkan bahwa memperindah bacaan Al-Qur'an adalah ibadah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan para salaf berlomba-lomba dalam hal ini.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Perindahlah Al-Qur'an dengan suaramu, karena suara yang indah menambah keindahan Al-Qur'an." (disebutkan dalam riwayat salaf)

Kesimpulan Praktis

  1. Perindahlah bacaan Al-Qur'an dengan mempelajari tajwid dan memperbaiki makhraj huruf.
  2. Keraslah dalam membaca ketika sendiri atau dalam shalat malam, agar hati lebih khusyuk dan setan terusir.
  3. Jadikan Al-Qur'an kekayaan hati, bukan sibuk dengan lagu dan hiburan yang melalaikan dari zikir kepada Allah.
  4. Jangan tinggalkan tilawah harian, walau hanya beberapa ayat, karena ini bagian dari identitas seorang Muslim.
  5. Belajarlah dari ahli Qur'an yang suaranya indah dan bacaannya benar, sebagaimana para salaf belajar dari guru-guru mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?