Penjelasan Hadits Bukhari No. 7522 tentang Larangan bertanya kepada Ahli Kitab tentang kitab mereka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi teguran Ibnu Abbas رضي الله عنهما kepada orang-orang yang bertanya masalah agama kepada Ahli Kitab, padahal Al-Qur'an sudah ada di tangan mereka dalam keadaan murni dan terjaga. Pelajarannya: cukupkan diri dengan Al-Qur'an dan sunnah, jangan mencari petunjuk dari sumber yang telah tercampur perubahan. Hadits ini diletakkan Al-Bukhari dalam Kitab Tauhid karena berkaitan dengan keagungan Kalamullah dan kewajiban merujuk kepada-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Tauhid, no. 7522, dari jalur Ali bin Abdullah → Hatim bin Wardan → Ayyub (as-Sakhtiyani) → Ikrimah → Ibnu Abbas رضي الله عنهما.

Teks hadits:

<p>كَيْفَ تَسْأَلُونَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ كُتُبِهِمْ وَعِنْدَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ أَقْرَبُ الْكُتُبِ عَهْدًا بِاللَّهِ، تَقْرَءُونَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ</p>

Terjemah ringkas: "Bagaimana kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang kitab-kitab mereka, padahal kalian memiliki Kitab Allah yang paling dekat dengan Allah, kalian membacanya secara murni tanpa ada yang dicampur."

Ayat yang menjadi landasan makna hadits ini:

<p>وَلَقَدْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ</p>

QS. Al-A'raf [7]: 52 — "Dan sungguh, Kami telah mendatangkan Kitab (Al-Qur'an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Juga firman Allah:

<p>إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</p>

QS. Al-Hijr [15]: 9 — "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya."

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits. Ibnu Abbas رضي الله عنهما mengingkari sikap sebagian kaum Muslimin yang masih menanyakan urusan agama kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), padahal Al-Qur'an yang ada di tangan mereka adalah kitab yang paling dekat zamannya dengan Allah — maksudnya paling baru diturunkan, paling terjaga, dan paling murni, tidak tercampur dengan perubahan tangan manusia. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "أَقْرَبُ الْكُتُبِ عَهْدًا بِاللَّهِ" adalah Al-Qur'an sebagai kitab yang paling akhir diturunkan dan paling terjaga dari tahrif (perubahan). Adapun kitab-kitab Ahli Kitab telah mengalami distorsi.

Kaitan dengan Kitab Tauhid. Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, bab "Perkataan Allah: Setiap Hari Dia Dalam Urusan" (QS. Ar-Rahman [55]: 29). Ini menunjukkan bahwa tauhid menuntut kita menjadikan Kalamullah sebagai rujukan utama, bukan bertanya kepada sumber yang telah rusak. Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah muhaimin (penjaga dan saksi) atas kitab-kitab sebelumnya, sehingga tidak perlu lagi merujuk kepada kitab yang telah diubah.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini.

  • Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari) menyebutkan bahwa larangan ini bukan larangan mutlak untuk berdialog dengan Ahli Kitab dalam rangka dakwah, tetapi larangan menjadikan mereka sumber kebenaran agama ketika Al-Qur'an sudah tersedia.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits semakna menunjukkan keutamaan Al-Qur'an dan larangan menyibukkan diri dengan kitab-kitab yang telah diubah.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa apa yang ada pada Ahli Kitab terbagi: ada yang benar (sesuai syariat) dan ada yang diubah; karena itu tidak boleh dijadikan rujukan, sebab Al-Qur'an sudah mencukupi.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan mengingatkan bahaya mencampur ilmu yang murni dengan yang keruh, karena akan merusak keyakinan.

Perbedaan pendapat. Sebagian ulama membolehkan membaca kitab Ahli Kitab untuk tujuan mengenali kedustaan mereka (seperti yang dilakukan sebagian salaf dalam berdebat). Namun yang paling kuat — sesuai zhahir hadits Ibnu Abbas dan penjelasan Ibnu Hajar — adalah bahwa kaum Muslimin tidak perlu menjadikan kitab-kitab itu sebagai sumber ilmu agama, karena Al-Qur'an dan sunnah sudah mencukupi dan terjaga.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat pernah mengambil lembaran dari Ahli Kitab dan membacanya, lalu hal itu sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau marah dan bersabda (maknanya): "Janganlah kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, karena mereka tidak akan memberi petunjuk kepada kalian; mereka telah sesat dan menyesatkan." (Riwayat ini disebutkan dalam kitab-kitab musnad dengan jalur yang dibahas para ulama hadits). Ibnu Abbas رضي الله عنهما — yang dikenal sebagai Tarjuman al-Qur'an (juru bicara Al-Qur'an) — memahami hal ini dengan sangat baik, sehingga beliau menegur dengan pertanyaan retoris yang tajam namun penuh hikmah: mengapa kalian mencari yang keruh, padahal yang murni ada di tangan kalian?

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan Al-Qur'an dan sunnah sebagai rujukan utama dalam semua urusan agama, karena keduanya terjaga dan murni.
  2. Tidak perlu mencari petunjuk agama dari kitab-kitab yang telah diubah atau dari sumber yang tidak terpercaya.
  3. Berdialog dengan Ahli Kitab boleh dilakukan untuk dakwah, bukan untuk mengambil ilmu agama dari mereka.
  4. Bersyukur atas nikmat Al-Qur'an yang Allah jaga keasliannya hingga hari kiamat.
  5. Kembalikan setiap masalah kepada ulama Ahlus Sunnah yang berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah dengan pemahaman salaf.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?