Penjelasan Hadits Bukhari No. 7516 tentang Syafaat di hari kiamat dan para nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang syafaat besar (syafaat al-‘uzhmā) di hari kiamat, di mana orang-orang beriman mencari perantara agar dibebaskan dari kesulitan padang mahsyar. Mereka mendatangi Nabi Adam ‘alaihissalam, namun beliau menolak dan menyebutkan kesalahannya. Hadits ini menegaskan pentingnya tawadhu, tidak merasa aman dari dosa, dan bahwa syafaat hanya milik Allah serta diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab firman Allah wa kallamallāhu Mūsā taklīmā. Sanadnya: Muslim bin Ibrahim → Hisyam (ad-Dastawā’i) → Qatadah bin Di‘āmah as-Sadūsī → Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (Kitab al-Īmān) dengan lafaz yang lebih panjang, mencakup syafaat Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad ﷺ.

Ayat yang berkaitan dengan bab ini:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

Wa kallamallāhu Mūsā taklīmā

"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya (secara langsung)." (QS. An-Nisā’ [4]: 164)

Ayat ini menjadi dasar penetapan sifat kalām (berbicara) bagi Allah, sebagaimana dipahami oleh Imam Al-Bukhari, Imam Ahmad, dan ulama Ahlus Sunnah. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah benar-benar berbicara kepada Musa tanpa perantara, dan ini adalah sifat kesempurnaan bagi Allah.

Penjelasan Rinci

1. Konteks hadits dalam Kitab Tauhid

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, bab tentang firman Allah wa kallamallāhu Mūsā taklīmā. Ini menunjukkan bahwa beliau ingin menegaskan dua hal sekaligus: (a) penetapan sifat kalām bagi Allah, dan (b) penetapan syafaat serta kedudukan para nabi di hari kiamat. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bārī menjelaskan bahwa Al-Bukhari sengaja menyusun bab ini untuk membantah Jahmiyah yang menolak sifat kalām Allah.

2. Makna syafaat dalam hadits

Syafaat yang dimaksud adalah syafaat al-‘uzhmā (syafaat terbesar), yaitu permohonan kepada Allah agar segera memulai hisab dan membebaskan manusia dari kesulitan padang mahsyar. Qatadah bin Di‘āmah as-Sadūsī, perawi hadits ini, termasuk tabi‘in yang menjelaskan bahwa manusia dalam keadaan sangat sulit sehingga mencari perantara dari para nabi.

3. Penolakan Nabi Adam dan pengakuan dosa

Nabi Adam ‘alaihissalam menyebutkan kesalahannya — yaitu memakan buah yang dilarang — sebagai alasan tidak layak memberi syafaat. Ini bukan berarti beliau tidak mulia, tetapi menunjukkan tawadhu dan khauf (rasa takut) kepada Allah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathā’if al-Ma‘ārif menjelaskan bahwa para nabi justru semakin rendah hati ketika mengingat dosa, meskipun mereka telah diampuni.

4. Urutan para nabi dalam syafaat

Dalam riwayat lengkap (Bukhari no. 7516 dan Muslim), setelah Adam, mereka mendatangi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa ‘alaihimussalam. Masing-masing menyebutkan alasan yang membuat mereka tidak layak, hingga akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad ﷺ yang bersabda: "Aku adalah orang yang layak untuk itu." Ini menunjukkan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ sebagai sayyidul mursalīn dan pemilik maqām mahmūd (kedudukan terpuji) yang dijanjikan Allah dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 79.

5. Perbedaan pendapat ulama

Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa syafaat ini khusus bagi Nabi Muhammad ﷺ dan tidak bisa diminta kepada selain Allah. Adapun meminta syafaat kepada makhluk yang telah mati adalah bentuk kesyirikan. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para nabi pun tidak dapat memberi syafaat kecuali dengan izin Allah, sebagaimana firman Allah:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Man dzalladzī yasyfa‘u ‘indahū illā bi-idznih

"Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya." (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

6. Pelajaran tauhid

Hadits ini menegaskan bahwa:

  • Allah Maha Tinggi dan hanya Dia yang memberi manfaat dan mudharat.
  • Para nabi adalah makhluk yang tidak memiliki kuasa mutlak.
  • Syafaat hanya terjadi dengan izin Allah.
  • Tawadhu dan pengakuan dosa adalah akhlak para nabi.

Story Telling

Diceritakan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar, matahari didekatkan, keringat mengalir sesuai kadar amal masing-masing. Mereka berkata, "Siapa yang bisa memohon kepada Tuhan kita agar kita dibebaskan dari tempat ini?" Mereka mendatangi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Setiap nabi menyebutkan kekhawatiran atas dosanya sendiri. Hingga akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bersabda, "Aku akan memohon kepada Tuhanku." Lalu beliau sujud di bawah ‘Arsy, dan Allah berfirman, "Angkatlah kepalamu, mintalah maka akan diberi, dan berilah syafaat maka akan diterima." Inilah maqām mahmūd yang dijanjikan Allah. (HR. Bukhari no. 7516, Muslim no. 193)

Imam Ibn Katsir dalam al-Bidāyah wan-Nihāyah menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa besar kedudukan Nabi Muhammad ﷺ dan betapa agungnya rahmat Allah kepada umat manusia.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertauhidlah kepada Allah — jangan meminta syafaat kepada makhluk, baik yang hidup maupun yang mati.
  2. Tawadhu dan mengakui dosa — sebagaimana para nabi, jangan merasa aman dari dosa.
  3. Perbanyak doa dan amal saleh — karena syafaat hanya diberikan kepada orang yang Allah kehendaki.
  4. Cintai Nabi Muhammad ﷺ — beliau adalah pemberi syafaat terbesar dengan izin Allah.
  5. Pelajari tauhid — karena inilah inti dakwah semua nabi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?