Penjelasan Hadits Bukhari No. 7511 tentang Orang terakhir masuk surga dan keluar dari neraka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan luasnya rahmat Allah dan sempurnanya keadilan-Nya pada hari kiamat, sampai orang terakhir yang keluar dari neraka dan terakhir masuk surga pun tetap diberi tempat. Laki-laki itu keluar dari neraka dengan merangkak, lalu Allah berbicara langsung kepadanya dan memerintahkannya masuk surga. Karena ia mengira surga sudah penuh, Allah memberinya karunia yang jauh lebih besar: sepuluh kali lipat dunia. Hadits ini juga menegaskan bahwa Allah benar-benar berbicara pada hari kiamat, sebagaimana ditetapkan dalam bab Kitab Tauhid.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, Bab Pembicaraan Tuhan Yang Maha Tinggi Pada Hari Kiamat Bersama Para Nabi dan Selain Mereka, nomor 7511, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang disebutkan:

إِنَّ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ، وَآخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنَ النَّارِ رَجُلٌ يَخْرُجُ حَبْوًا، فَيَقُولُ لَهُ رَبُّهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: رَبِّ الْجَنَّةُ مَلْأَى. فَيَقُولُ لَهُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَكُلُّ ذَلِكَ يُعِيدُ عَلَيْهِ: الْجَنَّةُ مَلْأَى. فَيَقُولُ: إِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا عَشْرَ مِرَارٍ.

Maknanya: "Sesungguhnya orang terakhir dari penduduk surga yang masuk surga, dan orang terakhir dari penduduk neraka yang keluar dari neraka adalah seorang laki-laki yang keluar dengan merangkak. Tuhannya berkata kepadanya: 'Masuklah ke surga.' Ia menjawab: 'Wahai Tuhanku, surga sudah penuh.' Allah mengulangi perkataan itu tiga kali, dan setiap kali ia mengulangi jawaban: 'Surga sudah penuh.' Lalu Allah berfirman: 'Sesungguhnya engkau mendapat sepuluh kali lipat dunia.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan luasnya rahmat Allah dan pemberian-Nya yang tanpa batas:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

QS. Al-A'raf [7]: 156

Maknanya: "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."

Juga firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

QS. An-Nisa' [4]: 40

Maknanya: "Sesungguhnya Allah tidak menzalimi sebesar biji zarrah pun. Jika ada satu kebaikan, Dia melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya."

Hadits ini dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan, di antaranya Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, dan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab-kitab beliau tentang sifat surga dan neraka. Imam Al-Bukhari sendiri memasukkan hadits ini dalam Kitab Tauhid untuk menetapkan sifat kalam Allah dan pembicaraan-Nya pada hari kiamat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah.

Pertama, tentang tetapnya sifat kalam bagi Allah. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, tepatnya pada bab pembicaraan Allah pada hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa Allah benar-benar berbicara, dan pembicaraan-Nya didengar oleh makhluk. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil tegas bahwa Allah berbicara dengan suara yang didengar, dan bahwa sifat kalam Allah adalah sifat yang tetap dan hakiki, tidak boleh ditakwil menjadi sekadar "kehendak" atau "ilmu", sebagaimana pendapat sebagian ahli kalam yang keliru. Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah juga menegaskan hal ini dalam kitab-kitab mereka tentang sifat-sifat Allah.

Kedua, tentang urutan masuk surga dan keluar dari neraka. Hadits ini menyebut bahwa ada seorang laki-laki yang menjadi orang terakhir keluar dari neraka sekaligus orang terakhir masuk surga. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa setelah semua penduduk surga masuk dan semua yang dikehendaki Allah keluar dari neraka, masih ada satu orang yang tersisa. Ia keluar dari neraka dalam keadaan merangkak, yaitu dengan susah payah, karena lemahnya keadaan dan beratnya siksa yang telah dialaminya.

Ketiga, tentang dialog antara hamba dan Tuhannya. Allah berkata kepadanya: "Masuklah ke surga." Laki-laki itu menjawab: "Wahai Tuhanku, surga sudah penuh." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa jawaban ini bukan bentuk penolakan atau kedurhakaan, melainkan karena ia melihat dengan pandangannya bahwa surga telah dipenuhi oleh penghuninya, sehingga ia mengira tidak ada tempat lagi untuknya. Ini menunjukkan kejujuran dan kelemahan seorang hamba di hadapan Allah.

Keempat, tentang luasnya karunia Allah. Setelah tiga kali dialog, Allah berfirman: "Sesungguhnya engkau mendapat sepuluh kali lipat dunia." Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang surga dan neraka menjelaskan bahwa ini adalah bentuk karunia yang sangat besar, di mana seorang hamba yang tadinya merasa tidak mendapat tempat, justru diberi sesuatu yang jauh melebihi dunia yang ia kenal. Ini menunjukkan bahwa pemberian Allah tidak terbatas pada apa yang bisa dibayangkan manusia.

Kelima, tentang keadilan Allah. Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang dizalimi. Orang yang berhak masuk surga pasti masuk, dan orang yang berhak keluar dari neraka pasti keluar. Ibn Katsir dalam tafsirnya sering menekankan bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits tentang syafaat dan keluarnya orang-orang beriman dari neraka menunjukkan sempurnanya keadilan dan rahmat Allah.

Para ulama dalam daftar rujukan sepakat tentang makna-makna ini. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara mereka dalam memahami hadits ini, kecuali dalam beberapa rincian teknis yang tidak mengubah inti makna. Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan sifat kalam Allah secara hakiki, menetapkan adanya syafaat dan keluarnya orang-orang beriman dari neraka, serta menetapkan luasnya karunia Allah bagi hamba-Nya yang terakhir masuk surga.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa suatu ketika para sahabat duduk bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau menyampaikan hadits ini. Para sahabat mendengarkan dengan penuh perhatian, karena hadits ini menggambarkan peristiwa yang sangat agung, yaitu saat terakhir dari perhitungan di hari kiamat.

Bayangkanlah seorang laki-laki yang telah lama berada dalam neraka. Ia keluar dengan merangkak, tubuhnya lemah, dan hatinya penuh harap namun juga cemas. Allah, Yang Maha Pengasih, berbicara kepadanya dengan lembut: "Masuklah ke surga." Namun ia melihat surga telah penuh, dan dengan penuh adab ia berkata: "Wahai Tuhanku, surga sudah penuh." Allah tidak marah, tetapi mengulangi perintah-Nya tiga kali, dan ia tetap dengan jawaban yang sama. Akhirnya Allah berfirman: "Sesungguhnya engkau mendapat sepuluh kali lipat dunia."

Hikmahnya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali, adalah bahwa rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa hamba-Nya. Seorang yang tadinya merasa tidak layak dan tidak mendapat tempat, justru diberi karunia yang melampaui dunia. Ini mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan untuk selalu berhusnuzan kepada-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Tetapkan keyakinan bahwa Allah berbicara dan bahwa sifat kalam adalah sifat-Nya yang hakiki, sebagaimana ditetapkan dalam Kitab Tauhid.
  2. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena hadits ini menunjukkan bahwa orang terakhir yang keluar dari neraka pun tetap diberi tempat di surga.
  3. Berhusnuzan kepada Allah dalam setiap keadaan, karena karunia-Nya jauh lebih besar dari apa yang bisa kita bayangkan.
  4. Berusaha menjadi orang yang masuk surga tanpa azab, dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertaubat dengan sungguh-sungguh.
  5. Pelajari tauhid dengan benar, karena hadits ini mengajarkan tentang sifat-sifat Allah yang harus diyakini sesuai pemahaman salafus shalih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?