Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits Qudsi yang agung. Ia mengabarkan tentang hubungan cinta antara seorang hamba dan Rabbnya. Intinya, cinta atau bencinya seorang hamba terhadap kematian (yang merupakan pintu pertemuan dengan Allah) adalah cerminan dari keadaan hatinya. Jika ia senang beramal saleh dan merindukan akhirat, maka ia akan cinta bertemu Allah, dan Allah pun cinta bertemu dengannya. Sebaliknya, jika ia larut dalam dosa dan cinta dunia, ia akan benci kematian, dan itu pun menjadi sebab Allah membenci pertemuannya. Ini bukan berarti Allah membenci orang beriman yang takut mati, tetapi kebencian itu tertuju pada perbuatan buruk yang menyebabkan seseorang tidak siap bertemu dengan-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala: 'Mereka ingin mengubah perkataan Allah'" (no. 7504). Juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa' dan Imam Ahmad dalam Al-Musnad.
Dalil penguat dari Al-Qur'an, firman Allah Ta'ala:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai." (QS. Al-Fajr [89]: 27-28)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang beriman yang tenang hatinya akan dipanggil untuk kembali kepada Rabbnya, dan ini adalah panggilan yang penuh keridaan, bukan kebencian.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini berkaitan erat dengan firman Allah dalam QS. Yunus [10]: 7-8, tentang orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Allah dan rida dengan kehidupan dunia. Mereka inilah yang benci kematian karena takut menghadapi hisab atas dosa-dosa mereka.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Mari kita rinci:
1. Makna "Cinta Bertemu Allah" dan "Benci Bertemu Allah"
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa cinta bertemu Allah adalah cinta kepada akhirat dan segala yang mendekatkan kepadanya, serta merasa tenang dengan ketaatan. Adapun benci bertemu Allah adalah benci kepada kematian karena cinta dunia yang berlebihan dan takut menghadapi hisab atas kemaksiatan.
2. Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Beliau dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa cinta dan benci dalam hadits ini adalah konsekuensi dari amal. Jika seorang hamba beramal saleh, hatinya akan bersih, ia akan merindukan pertemuan dengan Rabbnya. Sebaliknya, jika ia berbuat dosa, hatinya menjadi gelap dan ia tidak ingin menghadap Allah. Ini adalah hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan.
3. Penjelasan Imam Ibnul Qayyim
Dalam Al-Jawab Al-Kafi, beliau menegaskan bahwa rasa takut mati yang wajar pada manusia tidaklah tercela. Yang tercela adalah kebencian yang lahir dari cinta dunia dan maksiat. Beliau mencontohkan para sahabat yang tetap berusaha mengobati sakit mereka, namun hati mereka tetap rindu kepada Allah.
4. Penjelasan Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
Beliau dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar gembira bagi orang beriman. Jika ia senang beramal, maka itu tanda Allah cinta padanya. Dan jika ia merasa berat beribadah, itu tanda penyakit hati yang harus segera diobati dengan taubat dan istighfar.
5. Perbedaan Pendapat Ulama
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang makna "Allah membenci pertemuan dengan hamba-Nya". Sebagian ulama seperti Imam Al-Khattabi berpendapat bahwa ini adalah kabar tentang akibat amal hamba. Adapun Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kebencian Allah adalah kebencian terhadap keadaan hamba yang buruk, bukan kebencian terhadap zat hamba tersebut. Yang benar, Allah tidak membenci orang beriman, tetapi Dia membenci amal buruk yang dilakukan hamba tersebut.
6. Pelajaran Penting
Hadits ini mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan menuju Allah. Orang beriman mempersiapkan diri dengan amal saleh, sehingga kematian adalah saat yang dinanti. Adapun orang yang lalai, kematian adalah bencana karena ia belum siap.
Story Telling
Ada kisah indah tentang seorang salaf yang sangat merindukan pertemuan dengan Allah. Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Sirin (seorang tabi'in besar) ketika sakit menjelang wafatnya, beliau tersenyum dan berkata kepada keluarganya, "Sesungguhnya aku telah merindukan pertemuan dengan Rabbku, dan Rabbku pun merindukan pertemuanku." Beliau kemudian membaca firman Allah: "Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai." (QS. Al-Fajr [89]: 28). Ini menunjukkan bahwa orang yang hidupnya dipenuhi ketaatan akan merasakan manisnya kematian, karena ia akan bertemu dengan Kekasihnya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak amal saleh agar hati kita menjadi bersih dan merindukan akhirat.
- Jangan terlalu cinta dunia sehingga lupa menyiapkan bekal untuk bertemu Allah.
- Jika merasa berat beribadah, segera periksa hati, perbanyak istighfar dan taubat.
- Rasa takut mati yang wajar tidaklah tercela, yang tercela adalah kebencian yang lahir dari maksiat.
- Berdoalah agar Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang mencintai pertemuan dengan-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.