Penjelasan Hadits Bukhari No. 7499 tentang Doa tahajjud Nabi dan pengakuan kebenaran Allah

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah doa yang dibaca Nabi ﷺ saat shalat tahajjud, yang berisi pujian kepada Allah sebagai Cahaya, Pemelihara, dan Tuhan seluruh alam. Doa ini juga menegaskan kebenaran janji, ucapan, pertemuan dengan Allah, surga, neraka, para nabi, dan hari kiamat. Di akhir doa, Nabi ﷺ berserah diri, beriman, bertawakal, dan memohon ampunan atas semua dosa, serta menegaskan tidak ada Tuhan selain Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, Bab Perkataan Allah Ta'ala Yuriduna an Yubaddilu Kalamallah. Perawi sahabat: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Hadits ini juga terdapat dalam Shahih Muslim dengan lafaz yang serupa, dari Ibnu Abbas juga.

Kaitan dengan ulama dalam daftar: Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) adalah salah satu ulama yang tercantum. Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan doa ini secara rinci. Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari juga memberikan penjelasan mendalam. Ibn Qayyim Al-Jawziyyah (wafat 751 H) dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan doa ini sebagai doa tahajjud Nabi ﷺ. Ibn Katsir (wafat 774 H) dalam Tafsir dan Al-Bidayah wan Nihayah juga menukil doa ini.

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan bab ini adalah firman Allah:

يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ

QS. Al-Fath [48]: 15

Teks Arab berharakat lengkap:

يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ

Terjemahan: "Mereka ingin mengubah kalimat Allah."

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang munafik ingin mengubah janji Allah, namun Allah menegaskan bahwa kalimat-Nya tidak dapat diubah. Hadits ini menegaskan bahwa semua ucapan Allah adalah benar, dan tidak ada yang dapat mengubahnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah doa yang sangat agung, yang dibaca Nabi ﷺ ketika bangun malam untuk shalat tahajjud. Doa ini mengandung tauhid yang mendalam, pengagungan kepada Allah, dan pengakuan akan kebenaran semua yang Allah janjikan.

1. Pujian kepada Allah sebagai Cahaya, Pemelihara, dan Tuhan seluruh alam.

Nabi ﷺ memulai dengan "Allahumma laka al-hamd, anta nur as-samawati wal-ardh" (Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau adalah Cahaya langit dan bumi). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "Cahaya" di sini bermakna Allah adalah pemberi cahaya kepada langit dan bumi, dan dengan cahaya-Nya segala sesuatu menjadi terang. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menukil pendapat ulama bahwa maknanya adalah Allah yang menerangi langit dan bumi dengan bintang-bintang, matahari, dan bulan, serta menerangi hati orang-orang beriman dengan hidayah.

Kemudian "anta qayyim as-samawati wal-ardh" (Engkau adalah Pemelihara langit dan bumi). Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa qayyim berarti Allah yang mengurus, mengatur, dan memelihara segala sesuatu. Allah berdiri sendiri dan tidak membutuhkan yang lain, sedangkan segala sesuatu bergantung kepada-Nya.

"Anta rabb as-samawati wal-ardh wa man fihinna" (Engkau adalah Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya). Ini adalah pengakuan tauhid rububiyyah, bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengatur.

2. Penegasan kebenaran semua yang Allah janjikan.

Nabi ﷺ menyebutkan "Anta al-haqq, wa wa'duka al-haqq, wa qauluka al-haqq, wa liqa'uka al-haqq, wal jannatu haqq, wan naru haqq, wan nabiyyuna haqq, was sa'atu haqq" (Engkau adalah Kebenaran, janji-Mu benar, ucapan-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, surga benar, neraka benar, para nabi benar, dan hari kiamat benar).

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan "Kebenaran" secara berulang menunjukkan penekanan bahwa semua yang datang dari Allah adalah haqq (benar), tidak ada keraguan di dalamnya. Ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang yang meragukan janji Allah, sebagaimana disebutkan dalam bab ini, yaitu orang-orang yang ingin mengubah kalimat Allah.

Ibn Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa doa ini mengandung penetapan tauhid dalam semua aspeknya: tauhid rububiyyah (Allah sebagai Tuhan), tauhid uluhiyyah (hanya Allah yang disembah), tauhid asma wa sifat (Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan), dan tauhid dalam janji dan ancaman.

3. Penyerahan diri, iman, tawakal, dan permohonan ampunan.

Nabi ﷺ berkata "Allahumma laka aslamtu, wa bika amantu, wa 'alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khasamtu, wa ilaika hakamtu" (Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku kembali kepada-Mu, dengan-Mu aku berdebat, dan kepada-Mu aku memutuskan perkara).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penghambaan yang sempurna: menyerahkan diri (islam), beriman (iman), bertawakal (tawakal), kembali (inabah), dan menjadikan Allah sebagai hakim dalam segala urusan.

Kemudian "Faghfir li ma qaddamtu wa ma akhkhartu, wa ma asrartu wa ma a'lantu" (Maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan). Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah permohonan ampunan yang mencakup semua dosa, baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ selalu merendahkan diri di hadapan Allah, meskipun beliau telah dijamin ampunannya.

Di akhir doa, Nabi ﷺ menegaskan "Anta ilahi, la ilaha illa anta" (Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau). Ini adalah kalimat tauhid yang menjadi inti dari seluruh doa.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama yang tercantum dalam daftar mengenai makna doa ini. Mereka sepakat bahwa doa ini adalah doa tahajjud Nabi ﷺ yang mengandung tauhid dan pengagungan kepada Allah. Perbedaan hanya pada detail lafaz dalam riwayat-riwayat yang berbeda, namun maknanya sama.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa suatu malam ia menginap di rumah Nabi ﷺ (sebagai anak bibinya, Maimunah). Ibnu Abbas menceritakan bahwa Nabi ﷺ bangun di tengah malam, lalu berwudhu, kemudian shalat tahajjud. Dalam shalatnya, beliau membaca doa ini dengan penuh kekhusyukan. Ibnu Abbas yang masih kecil saat itu memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama, lalu menghafal doa tersebut dan menyampaikannya kepada umat.

Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan hadits ini dari jalur Tawus bin Kaysan (seorang tabi'in yang tercantum dalam daftar ulama) dari Ibnu Abbas. Tawus adalah salah satu ulama tabi'in yang terkenal dengan ketakwaan dan ilmunya. Ia meriwayatkan doa ini dengan sangat teliti.

Hikmah dari kisah ini: Seorang anak kecil seperti Ibnu Abbas bisa menjadi ulama besar karena kedekatannya dengan Nabi ﷺ dan kesungguhannya dalam menuntut ilmu. Doa ini kemudian menjadi warisan berharga bagi umat Islam, yang dibaca oleh banyak orang dalam shalat tahajjud mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan doa ini ketika shalat tahajjud, karena doa ini diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ dan mengandung tauhid yang sangat mendalam.
  2. Renungkan makna setiap kalimat dalam doa ini, agar shalat tahajjud menjadi lebih khusyuk dan penuh kesadaran akan kebesaran Allah.
  3. Yakini bahwa semua janji Allah adalah benar, termasuk surga, neraka, hari kiamat, dan pertemuan dengan Allah. Jangan pernah meragukan kalimat Allah.
  4. Berserah diri, beriman, dan bertawakal kepada Allah dalam setiap keadaan, serta selalu memohon ampunan atas semua dosa, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.
  5. Jadikan doa ini sebagai sarana muhasabah (introspeksi diri) setiap malam, agar hati selalu kembali kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?