Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi dua pesan agung: (1) umat Islam meskipun datang paling akhir secara zaman, namun akan menjadi umat paling depan di Hari Kiamat karena kemuliaan Islam; dan (2) Allah menjanjikan ganti yang lebih baik bagi siapa saja yang berinfak di jalan-Nya. Keduanya termasuk bab tauhid karena menunjukkan kehendak Allah yang pasti terjadi dan janji-Nya yang benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Al-Munafiqun [63]: 10
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Terjemahan: "Dan Allah tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila ajalnya telah tiba. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
QS. Al-Baqarah [2]: 261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, Bab Perkataan Allah Ta'ala Yuriduna an yubaddilu kalamallah, nomor 7495. Perawi sahabat: Abu Hurairah رضي الله عنه. Sanad: Abu Al-Yaman → Syu'aib → Abu Az-Zinad → Al-A'raj → Abu Hurairah.
Hadits senada juga diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz "نَحْنُ الآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ" dari beberapa jalur.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini diletakkan dalam Kitab Tauhid karena memuat sifat kalam (perkataan) Allah dan masyi'ah (kehendak) Allah yang pasti terlaksana.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna "kami yang terakhir tetapi yang terdahulu" yaitu umat Islam datang terakhir secara zaman setelah Yahudi dan Nasrani, namun mereka didahulukan masuk surga dan dihisab lebih awal.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat infak bahwa Allah menjamin penggantian harta yang diinfakkan dengan berlipat ganda.
Penjelasan Rinci
Pertama: "Kami adalah yang terakhir tetapi yang terdepan pada Hari Kiamat"
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa umat Islam diutus paling akhir setelah umat-umat sebelumnya, namun mereka diberi keutamaan berupa:
- Didahulukan dalam hisab dan masuk surga.
- Kitab mereka (Al-Qur'an) menjadi penutup dan penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
- Syariat mereka menjadi syariat final yang berlaku hingga Hari Kiamat.
Imam an-Nawawi menambahkan bahwa makna "terdepan" mencakup: masuk surga lebih dahulu, dihisab lebih dahulu, dan memperoleh kemuliaan di akhirat meskipun secara duniawi mereka datang belakangan.
Kedua: "Allah berfirman: Belanjakanlah, maka Aku akan menggantimu"
Ini adalah hadits qudsi, yaitu perkataan Allah yang disampaikan Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan:
- Sifat kalam Allah — Allah benar-benar berbicara, dan ini termasuk aqidah tauhid.
- Janji Allah yang pasti — Allah menjamin mengganti apa yang diinfakkan seorang hamba.
- Bab Tauhid — karena menetapkan sifat kalam dan masyi'ah (kehendak) Allah, sekaligus membantah kelompok yang menolak sifat-sifat Allah.
Ibnu Katsir dalam tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 261 menjelaskan bahwa Allah melipatgandakan pahala infak hingga 700 kali lipat, dan ini menunjukkan luasnya karunia Allah.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa infak tidak mengurangi harta, tetapi justru menjadi sebab datangnya keberkahan dan penggantian dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Ketiga: Kaitan dengan bab "Yuriduna an yubaddilu kalamallah"
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa bab ini membahas tentang orang-orang yang ingin mengubah perkataan Allah, dan hadits ini menegaskan bahwa perkataan Allah itu pasti dan tidak bisa diubah oleh siapa pun. Janji Allah untuk mengganti infak adalah kalam Allah yang benar dan pasti terlaksana.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, seorang ulama besar tabi'ut tabi'in, pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki harta dan ingin menginfakkannya. Beliau menjawab dengan mengutip makna hadits ini: bahwa Allah telah menjamin penggantian bagi orang yang berinfak. Beliau sendiri dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, hingga para ulama mengatakan bahwa beliau lebih dikenal sebagai ahli hadits dan ahli infak sekaligus.
Hikmahnya: keyakinan terhadap janji Allah adalah bagian dari tauhid, dan orang yang benar-benar bertauhid akan yakin bahwa infak tidak akan merugikan, tetapi justru menguntungkan.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Islam adalah agama paling mulia meskipun datang terakhir. Umat Islam akan menjadi yang terdepan di akhirat jika mereka berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah.
- Jangan takut berinfak — Allah telah menjamin penggantian yang lebih baik. Infak tidak mengurangi harta, tetapi menambah keberkahan.
- Pelajari tauhid dengan benar — termasuk menetapkan sifat-sifat Allah seperti kalam dan masyi'ah sebagaimana dipahami para ulama Ahlus Sunnah.
- Jadikan hadits ini motivasi untuk bersedekah dengan keyakinan penuh bahwa janji Allah pasti benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.