Penjelasan Hadits Bukhari No. 7491 tentang Larangan mencela waktu karena Allah adalah waktu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan larangan mencela waktu (dahr), karena mencela waktu berarti mencela Allah yang menciptakan dan mengaturnya. Allah-lah yang mengatur segala urusan dan menggantikan malam serta siang. Maka seorang mukmin wajib bersabar atas takdir dan tidak mencaci waktu ketika tertimpa musibah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Qamar [54]: 49

وَلَقَدْ خَلَقْنَا كُلَّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ

Terjemahan: "Dan sungguh, Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (takdir)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tauhid, Bab Perkataan Allah Ta'ala, dari jalur Al-Humaidi → Sufyan (bin 'Uyainah) → Az-Zuhri → Sa'id bin Al-Musayyab → Abu Hurairah رضي الله عنه.

Hadits serupa juga diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah dengan lafaz yang semakna.

Kaitan dengan ulama:

  • Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) adalah perawi hadits ini, seorang tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan.
  • Sa'id bin Al-Musayyab, salah satu tabi'in terkemuka di Madinah, dikenal sebagai "sayyidul fuqaha as-sab'ah".
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas makna hadits ini.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam beberapa kitabnya membahas masalah takdir dan larangan mencela waktu.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini adalah hadits qudsi, yaitu perkataan Allah yang disampaikan oleh Nabi ﷺ. Allah Ta'ala berfirman: "Anak Adam menyakiti-Ku dengan mencela waktu (ad-dahr), padahal Aku adalah waktu (ad-dahr)."

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "ad-dahr" (waktu) di sini tidak boleh dipahami secara harfiah bahwa Allah adalah waktu itu sendiri, karena Allah Maha Suci dari menyerupai makhluk. Yang dimaksud adalah bahwa Allah adalah Pengatur waktu dan Pencipta pergantian malam dan siang. Orang Arab jahiliyah dahulu ketika tertimpa musibah atau kesulitan, mereka mencela waktu dan mengatakan "celakalah waktu" atau "waktu yang buruk". Padahal waktu bukanlah pelaku, melainkan Allah-lah yang mengatur segala sesuatu.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung larangan mencela waktu, karena mencela waktu pada hakikatnya adalah mencela Allah yang menciptakan dan mengaturnya. Beliau juga menjelaskan bahwa orang Arab dahulu biasa mencela waktu ketika terjadi musibah, dan Islam melarang hal itu.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad dan kitab-kitabnya yang lain menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa segala urusan berada di tangan Allah. Malam dan siang silih berganti atas kehendak-Nya. Maka mencela waktu adalah bentuk ketidaksabaran terhadap takdir Allah.

Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam bab tauhid, karena menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Pengatur alam semesta. Mencela waktu mengandung kesyirikan tersembunyi, karena seolah-olah waktu memiliki kekuatan sendiri untuk mendatangkan musibah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan tauhid dalam rububiyyah, yaitu bahwa Allah adalah satu-satunya yang mengatur dan mengurus segala urusan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Kitab Tauhid menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan mencela waktu, karena waktu adalah makhluk Allah. Jika seseorang mencela waktu karena musibah yang menimpanya, maka ia telah mencela Allah yang menakdirkan musibah tersebut.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang makna "Aku adalah waktu (ad-dahr)". Sebagian memahami bahwa ini adalah majaz (kiasan), yaitu Allah adalah Pengatur waktu. Sebagian lain memahami bahwa "ad-dahr" di sini adalah salah satu nama Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa Allah adalah "Ad-Dahr". Namun pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa maknanya adalah Allah adalah Pengatur dan Pencipta waktu, bukan bahwa Allah adalah waktu itu sendiri, karena Allah Maha Suci dari menyerupai makhluk-Nya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'id bin Al-Musayyab, salah satu perawi hadits ini, pernah ditanya tentang seseorang yang mencela waktu ketika tertimpa musibah. Beliau menjawab bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar, karena mencela waktu berarti mencela Allah yang menciptakan waktu dan mengaturnya. Beliau juga mengingatkan bahwa seorang mukmin sejati adalah yang bersabar ketika ditimpa musibah dan bersyukur ketika diberi nikmat.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin adalah orang yang bersabar atas takdir Allah, dan tidak mencela waktu ketika tertimpa kesulitan." (Disebutkan dalam kitab-kitab salaf)

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa mencela waktu adalah tanda lemahnya iman dan ketidaksabaran terhadap takdir Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mencela waktu ketika tertimpa musibah atau kesulitan, karena waktu adalah makhluk Allah dan segala sesuatu terjadi atas takdir-Nya.
  2. Bersabarlah atas takdir Allah, karena Allah-lah yang mengatur segala urusan dan menggantikan malam serta siang.
  3. Tauhid dalam rububiyyah: Yakini bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta, termasuk pergantian waktu.
  4. Hindari ucapan seperti "waktu yang sial" atau "hari yang buruk", karena itu termasuk mencela waktu yang pada hakikatnya mencela Allah.
  5. Perbanyak dzikir dan istighfar ketika menghadapi kesulitan, bukan mencela waktu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?