Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa para malaikat bergantian menjaga manusia siang dan malam, lalu berkumpul di waktu shalat Subuh dan Ashar. Setelah itu malaikat yang bertugas malam naik ke langit, dan Allah bertanya kepada mereka—padahal Dia Maha Mengetahui—tentang keadaan hamba-hamba-Nya. Para malaikat menjawab bahwa mereka meninggalkan dan mendatangi hamba-hamba Allah dalam keadaan sedang shalat. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat Subuh dan Ashar, serta kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang menjaga shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Isra' [17]: 78
وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Terjemahan: "Dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa shalat Subuh disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah ini.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, no. 7486, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Imam Malik bin Anas dari Abu az-Zinad dari Al-A'raj.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab sifat-sifat Allah, khususnya tentang kalam (firman) Allah dan bagaimana Allah berbicara kepada para malaikat.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama, para malaikat bertugas secara bergantian (يَتَعَاقَبُونَ) menjaga manusia. Ada malaikat yang bertugas di malam hari dan ada yang bertugas di siang hari. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa malaikat-malaikat ini adalah malaikat pencatat amal (Kiraman Katibin) dan malaikat penjaga.
Kedua, waktu berkumpulnya kedua kelompok malaikat tersebut adalah pada shalat Ashar dan shalat Subuh. Ini menunjukkan keutamaan khusus kedua shalat ini. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hikmahnya adalah karena pergantian waktu siang dan malam terjadi pada kedua waktu tersebut.
Ketiga, setelah malaikat malam naik ke langit, Allah bertanya kepada mereka: "Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?" Padahal Allah Maha Mengetahui keadaan mereka. Imam Ibnul Qayyim dalam Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa pertanyaan ini bukan karena Allah tidak tahu, tetapi untuk memuliakan para malaikat dan menampakkan keutamaan hamba-hamba-Nya yang shalat, sehingga para malaikat dapat mempersaksikan kebaikan mereka.
Keempat, jawaban para malaikat: "Kami tinggalkan mereka sedang shalat, dan kami datangi mereka sedang shalat." Ini menunjukkan bahwa orang yang menjaga shalat Subuh dan Ashar akan dipersaksikan oleh para malaikat sebagai orang yang taat beribadah.
Kaitan dengan tauhid:
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid, karena di dalamnya terkandung penetapan sifat kalam (Allah berbicara) dan sifat ilmu (Allah Maha Mengetahui). Ini juga menetapkan bahwa Allah berada di atas langit, karena para malaikat naik menghadap-Nya. Imam Ibnul Qayyim dalam Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyyah menegaskan bahwa hadits ini termasuk dalil penetapan sifat-sifat Allah yang harus diimani tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), atau tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).
Perbedaan pendapat di kalangan ulama:
Para ulama dari daftar yang disebutkan—seperti Imam Al-Bukhari, Imam Ibnu Hajar, Imam An-Nawawi, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Katsir—sepakat bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan keutamaan shalat Subuh dan Ashar, serta menetapkan sifat kalam dan ilmu Allah. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara mereka dalam memahami hadits ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma—sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar—sangat memperhatikan shalat Subuh dan Ashar. Beliau berkata bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan terhapus. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memahami keutamaan kedua shalat ini berdasarkan hadits-hadits Nabi ﷺ.
Dalam kisah lain, sebagian salaf seperti Fudail bin 'Iyadh rahimahullah pernah berkata bahwa jika engkau ingin malaikat mencatatmu sebagai orang yang shalat, maka jadikanlah shalat sebagai keadaanmu yang paling utama, karena malaikat meninggalkan dan mendatangimu dalam keadaan shalat.
Kesimpulan Praktis
- Jagalah shalat Subuh dan Ashar dengan sungguh-sungguh, karena kedua waktu ini adalah waktu berkumpulnya para malaikat dan dipersaksikan langsung di hadapan Allah.
- Pahami bahwa Allah Maha Mengetahui segala keadaan kita, namun Dia tetap memuliakan hamba-Nya yang taat dengan mempersaksikan kebaikan mereka kepada para malaikat.
- Imanilah sifat-sifat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini—bahwa Allah berbicara, mengetahui, dan berada di atas langit—tanpa mengubah, menolak, atau menyerupakan dengan makhluk.
- Jadikan shalat sebagai keadaan terbaikmu, karena malaikat mencatat keadaan kita saat mereka datang dan pergi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.