Penjelasan Hadits Bukhari No. 7482 tentang Allah mendengar bacaan Al-Qur'an dengan suara merdu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dan merdu, serta mengeraskannya. Allah Ta'ala "mendengar" bacaan tersebut dengan pendengaran yang khusus, yang menunjukkan kemuliaan dan kecintaan Allah kepada bacaan Al-Qur'an yang dilakukan dengan tartil, khusyuk, dan suara yang bagus. Ini adalah dorongan agar kita memperbaiki bacaan Al-Qur'an kita, bukan sekadar membacanya dengan cepat tanpa adab.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Yahya bin Bukair → Al-Layts bin Sa'd → Uqail bin Khalid → Ibn Syihab az-Zuhri → Abu Salamah bin Abdurrahman → Abu Hurairah.

Teks hadits:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ ﷺ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

"Tidaklah Allah mengizinkan/mendengar sesuatu sebagaimana Dia mengizinkan/mendengar seorang Nabi membaca Al-Qur'an dengan suara yang merdu."

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan erat dengan tema ini:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

QS. Al-Muzzammil [73]: 4

"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "أَذِنَ" di sini adalah "mendengar" (istima'), dan para ulama berbeda pendapat apakah maknanya "mengizinkan" atau "mendengar dengan penuh perhatian". Yang rajih adalah makna mendengar, karena konteksnya menunjukkan keutamaan dan kecintaan Allah terhadap bacaan tersebut.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an, selama tidak keluar dari kaidah tajwid dan tidak mengubah makna.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Makna "يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ"

Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa "taghanni" di sini berarti memperindah dan memperbagus suara saat membaca Al-Qur'an, bukan bermakna bernyanyi seperti nyanyian musik yang diharamkan. Dalilnya adalah penjelasan sahabat dalam hadits itu sendiri: "Ia bermaksud membaca dengan keras." Jadi maknanya mencakup dua hal: memperindah suara dan mengeraskannya.

Kedua: Makna "أَذِنَ اللَّهُ"

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kata "أَذِنَ" di sini bermakna "istima'" (mendengar), dan ini adalah pendengaran yang menunjukkan keridhaan dan kecintaan Allah. Ini bukan berarti Allah memiliki telinga seperti makhluk — Allah Maha Suci dari menyerupai makhluk. Sebagaimana ditegaskan Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa, sifat-sifat Allah ditetapkan sebagaimana datangnya dalil, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

Ketiga: Kedudukan Nabi ﷺ dalam hadits ini

Penyebutan Nabi ﷺ secara khusus menunjukkan kemuliaan beliau dan keutamaan bacaan beliau. Ibn Katsir dalam tafsirnya sering menyebutkan bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang paling indah bacaannya, paling khusyuk, dan paling memahami makna Al-Qur'an.

Keempat: Anjuran memperindah bacaan

Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an menegaskan bahwa disunnahkan bagi pembaca Al-Qur'an untuk memperindah suaranya, karena itu menambah kekhusyukan dan menyentuh hati pendengar. Namun beliau juga mengingatkan agar tidak berlebihan hingga melampaui batas tajwid atau mengubah huruf dan makna.

Kelima: Perbedaan pendapat ulama

Sebagian ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak memaknai "taghanni" sebagai "mencukupkan diri dengan Al-Qur'an" (istighna'), yaitu merasa cukup dengan Al-Qur'an daripada nyanyian dan perkataan sia-sia. Namun pendapat yang rajih — sebagaimana dikuatkan Ibnu Hajar dan An-Nawawi — adalah makna memperindah suara, karena didukung oleh riwayat lain dan penjelasan sahabat dalam hadits ini sendiri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang terkenal dengan suara indahnya — pernah membaca Al-Qur'an di malam hari. Nabi ﷺ melewatinya dan berhenti mendengarkan, lalu bersabda: "Sesungguhnya dia telah diberi salah satu seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ketika Abu Musa mendengar hal itu, ia berkata: "Wahai Rasulullah, jika aku tahu engkau mendengarkan, sungguh aku akan memperindah bacaanku untukmu."

Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf memahami hadits "taghanni bil Qur'an" sebagai dorongan untuk memperindah bacaan, dan bahwa Nabi ﷺ sendiri menikmati dan mengagumi bacaan yang indah. Imam An-Nawawi menyebutkan kisah ini dalam At-Tibyan sebagai dalil disunnahkannya memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an.

Kesimpulan Praktis

  1. Perindahlah bacaan Al-Qur'an dengan mempelajari tajwid dan memperbaiki makhraj huruf.
  2. Bacalah dengan suara yang jelas dan keras ketika sendirian atau dalam shalat malam, agar lebih khusyuk dan menghadirkan hati.
  3. Hindari membaca Al-Qur'an dengan cepat tanpa adab — tartil dan tadabbur lebih utama daripada banyak bacaan tanpa pemahaman.
  4. Jangan berlebihan hingga mengubah huruf atau makna demi keindahan suara.
  5. Renungkanlah bahwa Allah "mendengar" bacaan Al-Qur'an dengan pendengaran khusus yang menunjukkan kecintaan-Nya — ini adalah motivasi besar untuk memperbaiki bacaan kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?