Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kebesaran dan kekuasaan Allah ﷻ dalam menetapkan takdir di langit. Ketika Allah menetapkan suatu perkara, para malaikat merasakan kewibawaan dan keagungan firman-Nya hingga mereka tunduk dan takut. Setelah rasa takut itu hilang, mereka bertanya tentang apa yang telah Allah firmankan, dan dijawab bahwa itu adalah kebenaran. Hadits ini juga menegaskan bahwa Allah ﷻ Maha Tinggi dan Maha Besar, serta menguatkan keyakinan bahwa wahyu dan takdir datangnya dari Allah semata.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab tentang Firman Allah Ta'ala, no. 7481, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Ayat yang terkait dengan hadits ini adalah firman Allah ﷻ dalam QS. Saba' [34]: 23:
وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
"Dan tidak berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya, sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata: 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab: '(Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.'"
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa yang disebutkan dalam hadits di atas. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menyebutkan bahwa ketika Allah menetapkan takdir di langit, para malaikat mendengar firman-Nya dan merasa takut, lalu ketika rasa takut itu hilang, mereka bertanya-tanya tentang apa yang telah difirmankan Allah (lihat Tafsir Ibnu Katsir, surat Saba').
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Penetapan Takdir di Langit
Para ulama menjelaskan bahwa Allah ﷻ menetapkan takdir segala sesuatu di langit, dan para malaikat yang mulia menjadi saksi atas hal itu. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ketika Allah memutuskan perkara takdir, para malaikat yang berada di langit merasakan getaran karena kewibawaan firman Allah.
2. Sikap Malaikat Terhadap Firman Allah
Dalam hadits ini digambarkan bahwa para malaikat mengibaskan sayap-sayapnya sebagai tanda ketundukan dan kepatuhan. Ini menunjukkan betapa agungnya firman Allah, sampai-sampai makhluk yang paling mulia dan paling taat pun merasakan kewibawaan-Nya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa ini menunjukkan keagungan Allah dan betapa semua makhluk tunduk kepada-Nya.
3. Pertanyaan Para Malaikat
Ketika rasa takut hilang dari hati mereka, sebagian malaikat bertanya kepada yang lain: "Apa yang dikatakan Tuhan kita?" Maka dijawab: "Kebenaran." Ini menunjukkan bahwa Allah hanya berfirman dengan kebenaran, dan segala ketetapan-Nya adalah benar dan adil.
4. Penetapan Sifat 'Uluww (Ketinggian) dan 'Azhamah (Kebesaran) bagi Allah
Di akhir hadits disebutkan: "Dan Dia adalah Yang Maha Tinggi, Maha Besar." Ini menetapkan dua sifat Allah, yaitu al-'Uluww (Maha Tinggi) dan al-'Azhamah (Maha Besar). Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Allah memiliki sifat ketinggian dan kebesaran yang sempurna, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
Imam Al-Bukhari membawakan hadits ini dalam Kitab Tauhid untuk menetapkan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an, dan bahwa Allah berbicara dengan firman-Nya yang didengar oleh para malaikat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya-tanya tentang maknanya. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa ketika Allah menetapkan takdir di langit, para malaikat pembawa wahyu turun membawa ketetapan itu. Maka setan-setan yang mencuri dengar berita langit akan terlempar oleh bintang-bintang, dan para malaikat yang mendengar firman Allah merasakan kewibawaan yang luar biasa, seakan-akan suara itu seperti rantai yang ditarik di atas batu yang licin.
Kisah ini mengajarkan kita tentang betapa agungnya Allah dan betapa sempurna kekuasaan-Nya. Jika para malaikat yang mulia saja merasa takut dan tunduk kepada firman Allah, maka sudah sepantasnya kita sebagai manusia yang lemah dan penuh dosa untuk lebih tunduk dan patuh kepada perintah-perintah-Nya.
Kesimpulan Praktis
Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Meyakini bahwa Allah Maha Tinggi dan Maha Besar, serta menetapkan sifat-sifat tersebut bagi Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
- Meyakini bahwa Allah berfirman dengan benar, dan segala ketetapan-Nya adalah baik, meskipun kita tidak selalu memahami hikmahnya.
- Menumbuhkan rasa takut dan khusyuk kepada Allah, sebagaimana para malaikat merasakan kewibawaan firman-Nya.
- Berserah diri kepada takdir Allah, karena semua yang terjadi di langit dan di bumi telah ditetapkan oleh Allah dengan kebenaran.
- Menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat tentang hal-hal ghaib, dan cukup beriman kepada berita yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.