Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa ukuran diterimanya amal perang (dan semua amal) adalah niat. Bukan sekadar berperang, tetapi yang menjadikan seseorang berada di jalan Allah adalah keikhlasan niatnya, yaitu agar kalimat Allah (agama-Nya) menjadi yang tertinggi dan mulia. Jika niatnya untuk kebanggaan, keberanian, atau pamer, maka amalnya tidak bernilai di sisi Allah sebagai amal untuk mencari wajah-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab Firman Allah: وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (Dan sungguh, telah terdahulu ketetapan Kami untuk hamba-hamba Kami yang diutus), no. 7458. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Imarah, Bab "Siapa yang Berperang agar Kalimat Allah Menjadi Tinggi".
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Anbiya' [21]: 105
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
"Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh."
Ayat ini disebutkan dalam bab hadits ini oleh Imam Al-Bukhari sebagai penguat bahwa kalimat Allah akan menang dan bumi akan diwarisi oleh orang-orang saleh yang berjuang dengan ikhlas.
Hadits terkait lainnya:
Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa amal perang tidak dianggap di jalan Allah kecuali dengan niat yang ikhlas. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa yang dimaksud "kalimat Allah" adalah agama Allah dan tauhid-Nya, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama salaf.
Penjelasan Rinci
Hadits ini datang dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia. Dalam riwayat lain (Shahih Muslim), disebutkan bahwa orang yang bertanya ini adalah seorang Badui yang datang kepada Nabi ﷺ dengan pertanyaan yang sangat dalam tentang hakikat jihad.
Pertanyaan orang ini menggambarkan tiga motivasi yang sering menggerakkan manusia untuk berperang:
- Hamiyyah (حمية) - yaitu berperang karena fanatisme kesukuan, membela kelompok atau bangsanya, atau karena harga diri yang tersinggung.
- Syaja'ah (شجاعة) - yaitu berperang karena ingin menunjukkan keberaniannya, atau karena memang tabiatnya pemberani dan ingin bertempur.
- Riya' (رياء) - yaitu berperang agar dilihat dan dipuji orang lain, ingin terkenal sebagai pahlawan.
Nabi ﷺ tidak menjawab dengan menyebut salah satu dari tiga itu, tetapi beliau memberikan kriteria yang jelas dan menyeluruh: "Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dia di jalan Allah."
Makna "Kalimat Allah" menurut para ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa "kalimat Allah" adalah kalimat tauhid, yaitu Laa ilaaha illallah, dan agama Islam secara keseluruhan. Meninggikan kalimat Allah berarti meninggikan agama-Nya, syariat-Nya, dan membuat agama-Nya menang di atas agama-agama lain.
- Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah menjadikan agama Allah yang paling tinggi dan mulia, bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau dunia.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal perang tidak sah dan tidak berpahala di jalan Allah kecuali dengan niat ikhlas untuk meninggikan kalimat Allah.
Pelajaran penting dari hadits ini:
- Niat adalah pembeda utama. Dua orang bisa melakukan perbuatan yang sama persis, tetapi nilainya di sisi Allah sangat berbeda karena niatnya. Satu orang berperang dan syahid, tetapi karena niatnya riya', ia tidak mendapatkan apa-apa bahkan bisa jadi berdosa. Orang lain berperang dengan niat ikhlas, ia mendapat pahala besar.
- Jihad yang benar adalah untuk meninggikan agama Allah, bukan untuk tujuan duniawi seperti harta rampasan, ketenaran, atau kebanggaan. Ini tidak berarti bahwa harta rampasan itu haram, tetapi itu bukanlah tujuan utama.
- Hadits ini juga menjadi kaidah untuk semua amal, bukan hanya perang. Seorang yang belajar, bekerja, berdakwah, atau beribadah—semua harus diniatkan untuk meninggikan kalimat Allah dan mencari keridhaan-Nya.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam (syarah hadits Arba'in) menjelaskan bahwa hadits niat ini adalah setengah dari agama, karena amal itu dinilai dari niatnya. Beliau juga menyebutkan bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya amal di samping mengikuti sunnah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian, karena fanatisme, dan karena riya'. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidak ada satu pun dari itu di jalan Allah. Yang berperang di jalan Allah hanyalah orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang seseorang yang berperang dan ia gugur. Apakah ia syahid? Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa syahidnya seseorang tergantung pada niatnya.
Kisah yang sangat terkenal dari salafus shalih adalah tentang Fudhail bin 'Iyadh (ulama besar abad ke-2 H yang termasuk dalam daftar rujukan kita). Beliau pernah ditanya tentang ikhlas dan riya'. Maka beliau berkata: "Manusia beramal untuk dilihat manusia, maka tinggalkanlah itu. Beramallah untuk Allah semata. Dan barangsiapa yang beramal karena Allah, maka Allah akan menerima amalnya."
Beliau juga berkata: "Ikhlas adalah ketika engkau beramal hanya untuk Allah, dan engkau tidak peduli apakah manusia melihatmu atau tidak."
Hikmah dari kisah ini: Para ulama salaf sangat menjaga niat mereka. Mereka takut sekali jika amal mereka tercampuri oleh keinginan untuk dipuji manusia. Maka kita pun harus belajar untuk selalu memurnikan niat dalam setiap amal kita.
Kesimpulan Praktis
- Periksa niat sebelum beramal. Sebelum melakukan kebaikan apa pun—belajar, bekerja, berdakwah, atau beribadah—tanyakan pada diri sendiri: "Untuk siapa aku melakukan ini?"
- Jadikan tujuan hidup kita untuk meninggikan kalimat Allah. Bukan untuk mencari pujian, ketenaran, kekayaan, atau kebanggaan diri.
- Jika niat kita belum murni, perbaikilah. Niat bisa diperbaiki kapan saja. Jika kita merasa niat kita mulai tercampur riya', maka perbarui niat kita dan mohon ampun kepada Allah.
- Pelajari kisah para sahabat dan salafus shalih tentang keikhlasan mereka, agar hati kita terbakar semangat untuk meneladani mereka.
- Jangan mudah menghakimi orang lain yang beramal, karena niat adalah urusan hati yang hanya Allah yang mengetahuinya. Tugas kita adalah memperbaiki niat diri sendiri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.