Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan pertanyaan kaum Yahudi kepada Nabi ﷺ tentang hakikat roh. Jawaban beliau sangat tegas dan agung: roh adalah urusan Allah ﷻ semata, dan manusia hanya diberi ilmu yang sangat sedikit. Hadits ini mengajarkan kita untuk beriman kepada hal-hal ghaib tanpa mempertanyakan hakikatnya secara mendalam, karena akal manusia terbatas dan tidak akan mampu menjangkaunya. Ini juga merupakan bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ, karena jawaban yang beliau berikan persis seperti yang ada dalam Al-Qur'an, padahal beliau tidak pernah membaca kitab-kitab sebelumnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah: 'Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja.'" (QS. Al-Isra' [17]: 85)
Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab firman Allah: وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan kaum Yahudi kepada Rasulullah ﷺ tentang roh. Beliau menukil perkataan para ulama salaf bahwa yang dimaksud "roh" di sini adalah ruh yang ada dalam diri manusia, dan hakikatnya tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah ﷻ.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Hakikat Roh adalah Ilmu Ghaib yang Hanya Allah yang Tahu
Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya yang sejalan dengan pemahaman ulama daftar) dan Imam Ibnu Katsir menjelaskan: ketika kaum Yahudi bertanya tentang hakikat roh, Allah ﷻ memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab bahwa roh itu min amri rabbi — termasuk urusan Allah. Maknanya: roh itu adalah makhluk yang agung, pengetahuannya hanya ada di sisi Allah, dan manusia tidak diberi kemampuan untuk mengetahui hakikatnya.
Imam As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa jawaban ini sekaligus mengandung hikmah besar: manusia hendaknya tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang di luar jangkauan akalnya, tetapi fokus pada apa yang diperintahkan dan apa yang bisa diamalkan.
2. Ilmu Manusia Sangat Sedikit
Frasa وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا — "dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja" — menunjukkan bahwa seluruh ilmu manusia, betapapun hebatnya, hanyalah setetes di lautan ilmu Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ar-Ruh membahas panjang lebar tentang roh dan menegaskan bahwa pembahasan tentang hakikat roh adalah perkara yang tidak mungkin dijangkau akal manusia, dan orang yang memaksakan diri akan tersesat.
3. Bukti Kebenaran Nabi Muhammad ﷺ
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab At-Tauhid karena di dalamnya terdapat bukti bahwa Nabi ﷺ menerima wahyu dari Allah. Beliau menjawab pertanyaan yang tidak mungkin diketahui oleh manusia biasa, dan jawabannya persis dengan apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar utusan Allah.
4. Adab Bertanya dan Menuntut Ilmu
Dalam hadits ini juga terdapat pelajaran adab: sebagian kaum Yahudi melarang yang lain bertanya karena mereka tahu jawabannya akan menjadi hujjah (bukti) atas mereka. Ini mengajarkan kita agar bertanya dengan niat mencari kebenaran, bukan untuk menguji atau mencari-cari kesalahan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa ini, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu — yang saat itu berdiri di belakang Nabi ﷺ dan menyaksikan langsung turunnya wahyu — merasakan getaran iman yang luar biasa. Beliau melihat sendiri bagaimana wajah Rasulullah ﷺ berubah saat menerima wahyu, dan bagaimana beliau menjawab dengan tegas pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun kecuali dengan petunjuk Allah.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu sering kali menceritakan peristiwa ini kepada para sahabat dan tabi'in untuk menguatkan keyakinan mereka bahwa Al-Qur'an benar-benar wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad ﷺ. Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias menyampaikan bukti-bukti kenabian kepada generasi setelah mereka.
Kesimpulan Praktis
- Beriman kepada yang ghaib — kita wajib mengimani adanya roh dan hakikatnya yang hanya Allah yang tahu, tanpa mempertanyakan lebih jauh.
- Tidak memaksakan akal — jangan menyibukkan diri dengan perkara yang di luar jangkauan akal, karena itu hanya membuang waktu dan bisa menyesatkan.
- Mengagungkan ilmu Allah — sadarlah bahwa ilmu manusia sangat sedikit dibanding ilmu Allah, sehingga kita harus tawadhu' dan tidak sombong dengan pengetahuan yang kita miliki.
- Meneladani adab bertanya — bertanyalah dengan niat belajar dan mencari kebenaran, bukan untuk menguji atau menjatuhkan.
- Menguatkan iman kepada kenabian — jadikan hadits ini sebagai bukti tambahan bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allah yang benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.