Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah ﷻ. Sejak awal penciptaan, Allah telah menetapkan dan menuliskan di sisi-Nya di atas 'Arsy bahwa rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya. Ini adalah kabar gembira bagi seluruh makhluk, terutama orang beriman, bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemarahan-Nya, dan pintu taubat serta ampunan selalu terbuka.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-A'raf [7]: 156
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
2. Hadits yang diriwayatkan:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab Firman-Nya: "Dan Sesungguhnya telah ada perkataan Kami yang mendahului untuk hamba-hamba Kami yang diutus" (HR. Al-Bukhari no. 7453), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memasukkannya dalam Shahih-nya sebagai dalil penetapan sifat rahmat dan penulisan takdir bagi Allah ﷻ.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan sifat rahmat bagi Allah dan bahwa penulisan ini adalah ketetapan yang telah lalu (sabq al-kitabah) sebelum penciptaan makhluk.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam dan Latha'if al-Ma'arif banyak membahas tentang luasnya rahmat Allah dan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Makna "Ketika Allah menciptakan makhluk" (لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ)
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa maknanya adalah ketika Allah menyelesaikan penciptaan makhluk, atau ketika Allah menetapkan takdir penciptaan mereka. Ini menunjukkan bahwa ketetapan rahmat ini adalah ketetapan yang sangat awal, mendahului segala sesuatu.
2. Makna "menulis di sisi-Nya di atas 'Arsy"
Ini adalah bentuk penetapan yang agung dan abadi. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa penulisan ini menunjukkan perhatian khusus Allah terhadap rahmat-Nya, seakan-akan Allah ingin seluruh makhluk mengetahui bahwa rahmat-Nya adalah sifat yang dominan.
3. Makna "Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku" (إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي)
Para ulama menjelaskan bahwa ini berarti rahmat Allah lebih luas, lebih besar, dan lebih dahulu daripada murka-Nya. Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu di dunia, dan di akhirat khusus bagi orang-orang bertakwa.
4. Apakah ini berarti murka Allah tidak akan terjadi?
Tidak. Murka Allah tetap ada dan nyata bagi orang-orang yang berhak menerimanya. Namun, rahmat Allah lebih mendominasi. Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa Allah tidak tergesa-gesa dalam murka, tetapi rahmat-Nya selalu siap menyambut hamba yang bertaubat.
5. Perbedaan pendapat tentang sifat rahmat dan murka
Di antara ulama Ahlus Sunnah, ada perbedaan dalam memahami sifat-sifat ini:
- Mayoritas ulama salaf (seperti Imam Ahmad, Al-Bukhari, dan lainnya) menetapkan sifat rahmat dan murka bagi Allah tanpa menanyakan bagaimana caranya (bi la kaif).
- Sebagian ulama menakwilkan murka dengan makna kehendak untuk menghukum, namun pendapat yang paling kuat adalah menetapkan sifat-sifat tersebut sesuai dengan keagungan Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk.
6. Hikmah besar dari hadits ini
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits yang paling banyak memberikan harapan kepada orang-orang yang berdosa. Karena jika rahmat Allah mendahului murka-Nya, maka pintu taubat tidak akan pernah tertutup selama nyawa masih di kerongkongan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Fudail bin 'Iyadh (wafat 187 H), seorang ulama besar yang dahulu adalah seorang perampok jalanan, suatu malam ingin merampok seorang musafir. Ketika ia mendekati korbannya, ia mendengar musafir itu membaca Al-Qur'an. Ia mendengar ayat:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?" (QS. Al-Hadid [57]: 16)
Mendengar ayat ini, hati Fudail tersentuh. Ia berkata, "Ya Allah, telah tiba waktunya!" Ia kemudian bertaubat dan menjadi salah satu ulama besar yang sangat takut kepada Allah. Ia sering menangis dan berkata, "Jika aku tahu bahwa Allah akan mengampuniku, aku akan gembira. Tetapi aku tidak tahu, maka aku terus menangis."
Kisah ini menunjukkan bahwa rahmat Allah mendahului murka-Nya. Fudail yang dahulu seorang perampok, ketika ia benar-benar bertaubat, Allah menerima taubatnya dan mengangkat derajatnya menjadi ulama yang disegani. Ini adalah bukti nyata bahwa rahmat Allah tidak pernah berhenti mengalir bagi hamba yang kembali kepada-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
- Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan, karena pintu taubat terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan.
- Sifatkan Allah dengan sifat rahmat yang agung, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menanyakan bagaimana caranya.
- Sebarkan kabar gembira tentang luasnya rahmat Allah kepada sesama muslim, agar mereka tidak larut dalam keputusasaan.
- Seimbangkan antara harapan dan takut: berharap kepada rahmat Allah dan takut akan murka-Nya, karena keduanya adalah dua sayap yang membawa hamba menuju surga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.