Penjelasan Hadits Bukhari No. 7452 tentang Shalat malam Nabi dan tadabbur ayat penciptaan langit bumi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kisah indah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang bagaimana beliau menginap di rumah bibinya, Maimunah, untuk mengamati langsung shalat malam Rasulullah ﷺ. Inti hadits ini mengajarkan kita tentang kebiasaan Nabi ﷺ di sepertiga malam terakhir: merenungkan ayat-ayat Allah tentang penciptaan langit dan bumi, lalu berwudhu dan shalat malam dengan khusyuk. Ini adalah teladan nyata bahwa shalat malam dan tadabbur Al-Qur'an adalah amalan yang sangat dicintai Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tauhid, Bab "Apa yang Dikatakan dalam Penciptaan Langit dan Bumi dan Makhluk Lainnya", no. 7452.

Ayat yang dibaca oleh Nabi ﷺ adalah firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 190-191. Berikut potongan ayat yang relevan:

QS. Ali 'Imran [3]: 190

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal."

QS. Ali 'Imran [3]: 191

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'"

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat-ayat ini adalah pujian bagi orang-orang yang berakal (ulul albab) yang merenungkan ciptaan Allah, dan dari perenungan itu mereka semakin mengenal kebesaran Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di juga menekankan bahwa tadabbur (perenungan) atas ciptaan Allah adalah jalan menuju peningkatan iman dan rasa takut kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan banyak pelajaran berharga yang dijelaskan oleh para ulama:

  1. Semangat Menuntut Ilmu: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang masih muda rela menginap di rumah Maimunah hanya untuk melihat bagaimana tata cara shalat malam Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu, terutama dengan mengamati langsung amalan orang shalih, adalah perbuatan yang sangat mulia. Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid untuk menunjukkan bahwa perenungan terhadap ciptaan Allah adalah bagian dari pengagungan terhadap-Nya.
  2. Adab dan Kelembutan Nabi ﷺ: Nabi ﷺ tidak langsung tidur, tetapi berbincang-bincang dengan keluarganya terlebih dahulu. Ini mengajarkan adab dalam rumah tangga, bahwa suami hendaknya meluangkan waktu untuk berbincang dengan istrinya, bukan langsung tidur atau sibuk dengan urusan lain.
  3. Bangun di Sepertiga Malam Terakhir: Nabi ﷺ bangun di sepertiga malam yang terakhir. Waktu ini adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah turun ke langit dunia dan menawarkan ampunan serta pengabulan doa. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya tentang shalat malam menjelaskan bahwa sepertiga malam terakhir adalah waktu terbaik untuk bermunajat kepada Allah.
  4. Tadabbur Sebelum Shalat: Sebelum berwudhu dan shalat, Nabi ﷺ terlebih dahulu melihat ke langit dan membaca ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi. Ini menunjukkan bahwa merenungkan kebesaran Allah adalah pembuka yang sangat baik untuk melaksanakan shalat. Hati yang telah dipenuhi dengan kekaguman kepada Allah akan lebih khusyuk dalam shalatnya. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tauhid untuk menegaskan bahwa perenungan terhadap ciptaan Allah adalah bagian dari pengagungan terhadap-Nya.
  5. Shalat Sebelas Rakaat: Ini adalah jumlah rakaat shalat malam yang paling sering dilakukan oleh Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan bahwa shalat malam tidaklah terikat pada jumlah tertentu, namun yang terpenting adalah kekhusyukan dan keikhlasan. Shalat sebelas rakaat ini bisa terdiri dari shalat tarawih, witir, atau shalat tahajud.
  6. Menjaga Kebersihan: Nabi ﷺ berwudhu dan bersiwak (menggosok gigi) sebelum shalat. Ini menunjukkan pentingnya kebersihan dan kesegaran saat beribadah, terutama di waktu malam.

Story Telling

Kisah ini adalah salah satu kisah paling terkenal dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau adalah sepupu Nabi ﷺ yang masih muda dan sangat cerdas. Keingintahuannya untuk belajar langsung dari Nabi ﷺ adalah contoh luar biasa. Beliau tidak hanya bertanya, tetapi juga berusaha untuk melihat langsung bagaimana Nabi ﷺ beribadah di rumahnya sendiri. Malam itu, Ibnu Abbas mendapatkan pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan, dan dia pun meriwayatkan hadits ini kepada generasi setelahnya. Hikmahnya, ilmu itu tidak hanya didapat dari mendengar, tetapi juga dari memperhatikan dan menyaksikan langsung amalan orang-orang shalih.

Kesimpulan Praktis

  1. Semangatlah menuntut ilmu dengan berbagai cara, termasuk memperhatikan langsung amalan orang-orang shalih.
  2. Jaga keharmonisan rumah tangga dengan meluangkan waktu untuk berbincang dengan keluarga.
  3. Bangun di sepertiga malam terakhir untuk shalat malam dan berdoa kepada Allah.
  4. Sebelum shalat, renungkanlah ayat-ayat Al-Qur'an atau ciptaan Allah agar hati lebih khusyuk.
  5. Biasakan bersiwak dan berwudhu dengan baik sebelum melaksanakan shalat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?